Ilusi Perayaan Hari Buruh

Peringatan hari buruh di samping gedung Balai Kota Malang (1/5), dimeriahkan pula oleh dua penyanyi perempuan.
Peringatan hari buruh di samping gedung Balai Kota Malang (1/5), dimeriahkan pula oleh dua penyanyi perempuan.

“Hidup buruh, Hidup soro (sengsara_Red),” teriak Faizin Salam dalam aksi peringatan hari buruh di samping gedung Balai Kota Malang (1/5). Dalam aksi yang dihimpun Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) itu, para buruh mengajukan lima tuntutan. Mereka menuntut penghapusan sistem kerja outsourching, kerja kontrak, politik upah murah, pengupahan dua tahun sekali, serta meminta agar diwujudkannya upah buruh yang layak. Aksi tersebut juga menghadirkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), selaku lembaga pemerintah berkaitan langsung dengan buruh.

Berbeda halnya dengan orasi Faizin yang meneriakkan betapa sengsaranya kehidupan buruh, Kusnadi, Kepala Disnaker Kota Malang, justru menyampaikan ucapan selamatnya. “Selamat merayakan hari buruh,” ujarnya saat menutup pidatonya. “Ini kan hari yang diperingati sedunia. Ya memang perayaan,” terang Kusnadi setelah turun dari panggung aksi.
Sehari sebelum peringatan hari buruh, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan hal yang sama. “Itu (peringatan hari buruh_red) bukan demo kok. Itu adalah peringatan, perayaan hari buruh,” ujar Jokowi seperti yang dilansir oleh sapujagat.com.

Perbedaan kalimat yang diucapkan pemerintah dan buruh mengisyaratkan makna yang berbeda. Andi Irfan, Sekretaris jendral SPBI mengkritik ucapan selamat tersebut. “Jokowi juga menyebut selamat hari buruh. Padahal 1 Mei adalah hari perlawan buruh,” ujar Andi.

Namun, pemaknaan hari buruh sebagai bentuk perayaan pun mulai merasuki pikiran para buruh. Seperti yang diamini Suryanto, salah satu peserta aksi. Ia menganggap hari buruh memang patut untuk dimaknai sebagai sebuah perayaan. “Ya memang seharusnya dirayakan,” ujar Suryanto, buruh yang telah bekerja di sebuah hotel selama 16 tahun.

Gramsci dalam teori hegemoninya menyebutkan bahwa kaum borjuis yang berafiliasi dengan pemerintah, dapat melakukan penundukan kesadaran dengan cara menggantikannya dengan kebudayaan elit tertentu. Legitimasi pemerintah atas perayaan hari buruh tertuang pada Undang-Undang No. 12 Tahun 1948 Pasal 15 Ayat 2, yang menyatakan bahwa pada 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja. Pada penjelasan pasal tersebut, diterangkan bahwa aturan dalam ayat 2 ini memberikan kesempatan bagi buruh untuk merayakan kemenangannya.

Padahal, buruh-buruh seperti Suryanto tidak pernah merasakan kemenangan. Gaji Suryanto bahkan tak sepadan dengan Upah Minimum Kota (UMK) yang seharusnya 1.882.250 Rupiah. Ia hanya digaji 1.300.000 Rupiah dengan dalih dapat naik 50.000 setiap tahunnya. [Imam Abu Hanfah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply