Pers Mahasiswa Melawan Pembungkaman

Ilustrator: Uswatun Hasanah
Ilustrator: Uswatun Hasanah

Abdus Somad, Sekretaris Jenderal (Sekjend) PPMI Nasional, menghimbau para aktivis pers mahasiswa agar tidak diam terhadap pembungkaman yang dilakukan oleh birokrasi kampus maupun aparatur negara. Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan dies natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Nasional yang ke-23. Acara yang mengusung tema “Pers Mahasiswa Bangkit dan Melawan Pembungkam” tersebut, bertempat di Universitas Muhammadiyah Semarang, Jawa Tengah.

Menurut Somad, tema ini ditujukan sebagai respon terhadap kesewenang-wenangan birokrasi kampus maupun aparatur negara yang dengan sengaja telah mengganggu pers mahasiswa dalam hal kerja jurnalistik. “Misalnya ada pelarangan diskusi dan pemutaran film yang mengatasnamakan menjaga nama baik kampus. Itu secara tidak langsung merupakan pembungkaman terhadap pers mahasiswa,” lanjut Somad.

Masih dalam rangka pembungkaman pers mahasiswa, lanjut Somad, hal yang cukup marak saat ini adalah kriminalisasi terhadap aktivis pers mahasiswa. “Seperti yang dialami Lentera, tiga dari anggotanya dikriminalisasi dengan tuduhan menyebarkan paham komunisme,” terangnya.

Oktober 2015, terjadi pembredelan terhadap majalah Lentera dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Majalah tersebut berjudul “Salatiga Kota Merah” dan berisikan laporan investigasi terkasit peristiwa G30S di kota Salatiga. Seminggu dari penerbitan, pihak redaksi majalah Lentera diminta oleh pihak rektorat UKSW untuk menarik majalah tersebut dari peredaran. Alasannya, majalah tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas kampus.

Setelah ditarik dari peredaran, pihak kepolisian meminta agar semua majalah lentera dikumpulkan pada pihak kepolisian, untuk kemudian dibakar. Sebelumnya, mereka bahkan diinterogasi oleh pihak kepolisian selama lima jam. Menurut Bima Satria Putra, pemimpin redaksi majalah Lentera, permintaan pihak kepolisian mulanya mendapat penolakan dari pihaknya.

“Kita sempat berdebat beberapa saat. Namun akhirnya majalahnya kami relakan. Kami berencana menyisakan beberapa dan berpikir untuk menyebarkannya secara online,” papar Bima. Namun, karena ramainya pemberitaan media massa terkait pembredelan ini, pihak kampus dan kepolisian kemudian meminta agar majalah tersebut di kumpulkan di bagian dekanat untuk diamankan.

Berkaca dari peristiwa pembredelan majalah Lentera, menunjukkan bahwa masih ada bentuk nyata pembungkaman dan kriminalisasi terhadap pers mahasiswa. Oleh karenanya, Somad menghimbau agar aktivis pers mahasiswa dapat saling menguatkan dengan memberikan dukungan moral. Selain itu, pengecaman terhadap oknum-oknum yang melakukan kriminalisasi juga harus terus dilakukan.

Axel Layuk, salah satu peserta acara dies natalis PPMI berpendapat, kriminalisasi terhadap pers mahasiswa akan terus terjadi sampai kapanpun, jika aktivis pers mahasiswa enggan bergerak. Menurutnya, sudah menjadi pekerjaan rumah utama PPMI untuk berjejaring dan membangun kekuatan. “Saya menawarkan agar turun aksi ke jalan raya, untuk menyuarakan teman-teman yang dikriminalisasi,” jelas mahasiswa asal Makassar tersebut. [Latifatun Nasihah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

One thought on “Pers Mahasiswa Melawan Pembungkaman

Leave a Reply