Ada Nietzsche dalam Habibie?

Enam belas tahun yang lalu, mungkin tak ada satu media massa pun yang meliput secara khusus hari ulang tahun Bacarudin Jusuf Habibie. Alasanya simpel, enam belas tahun yang lalu Habibie baru saja dilengserkan dari kursi panas presiden.

Beda dulu, beda sekarang. Saat ini banyak sekali media massa yang meliput hari istimewa mantan Presiden ketiga RI tersebut.

Metro TV misalnya, dalam rangka meramaikan HUT Habibie, media milik Surya Paloh ini melakukan wawancara khusus dengan Habibie. Wawancara khusus tersebut tak lupa mengulik perjalanan kisah cinta Habibie dengan perempuan Jerman, juga tentang kisah cintanya dengan Ainun, sang istri.

Jawa Pos juga tak ketinggalan. Media milik Dahlan Iskan ini pada 25 Juni 2016 lalu menjadikan HUT Habibie sebagai headline news koran cetaknya. Tema yang diangkat lebih cenderung pada cinta Habibie terhadap mendiang istrinya.

Kompas lain lagi. Media ini fokus pada informasi pemutaran perdana film Rudy Habibie (ini sebutan Habibie muda) yang disaksikan oleh pejabat-pejabat tinggi RI. Kebetulan pemutaran perdana film itu tepat di hari jadi Habibie.

Setali tiga uang dengan Kompas, Tempo pun meramaikan HUT Habibie dengan fokus pada film pemutaran Rudy Habibie. Media yang didirikan Goenawan Mohamad termasuk nyleneh, berita-berita yang berkaitan dengan Habibie pada 25 Juni 2016 tersebut, mereka masukkan dalam rubrik seleb, selebritas dan film.

Saya agak bersyukur sekaligus ngenes mengkaji fokus media yang memberitakan Habibie pada hari jadinya. Bersyukur karena sudah banyak media massa yang memberitakan HUT Habibie dibanding enam belas tahun yang lalu. Ngenes karena media keliru menampilkan sosok Habibie.

Saat ini, mantan Presiden ketiga ini tak lagi ditampilkan sebagai sosok yang gila ilmu dan gila teknologi. Saat ini media massa lebih menampilkan Habibie sebagai sosok yang gila cinta daripada gila ilmu.

Jika saja media massa ingin lebih mendidik warga negeri ini secara proposional, maka menurut saya Habibie tak perlu ditampilkan sebagai sosok yang gila cinta. Karena cinta itu bersifat personal. Tiap individu memiliki caranya masing-masing dalam mencintai istrinya.

Tak hanya itu. Hal yang personal tersebut bagi saya kurang tepat jika ditampilkan ke publik. Mengapa? Sebagai pendidik warga dan sebagai salah satu elemen dari pilar demokrasi, media massa kurang tepat jika fokus pada hal-hal personal. Media massa saya pikir tak perlu menjadi cinta, ibadah, hingga perselingkuhan seorang tokoh sebagai nilai berita mereka. Karena bukan itu yang penting buat publik. Hal yang penting buat publik adalah; apa yang sudah dilakukan tokoh tersebut? Dan tokoh itu punya ide apa dalam pengembangan peradaban dan keilmuan?

Hal fatal yang dilupakan ialah kecerdasan Habibie dalam banyak hal. Termasuk dalam ilmu filsafat. Saya akan angkat topi jika saat HUT Habibie lalu, ada media yang mengangkat tema Filsafat Teknologi berdasarkan pemikiran Habibie.

Menurut saya, Habibie adalah pemikir dalam bidang teknologi juga filsafat. Dalam bidang teknologi sudah tak diragukan lagi kemampuannya. Bapak dua anak ini sudah berhasil mengangkat derajat Indonesia dengan memegang banyak hak paten atas temuan di bidang konstruksi pesawat terbang.

Lalu apa pemikiran Habibie dalam keilmuan filsafat? “Teknologi bukan hasil sumber daya alam, melainkan hasil pemikiran, karya, dan ciptaan sumber daya manusia, sama seperti halnya dengan filsafat,” kata Habibie saat dianugerahkan gelar Honoris Causa oleh Universitas Indonesia tahun 2010 lalu.

Menurut Habibie, mendalami teknologi berarti berfilsafat. “Teknologi terus berkembang secara eksponensial dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan peradaban manusia modern,” sambung Habibie. Baik teknologi maupun peradaban manusia bersinergi untuk mencapai kualitas keunggulan.

Jika diterjemahkan secara dangkal, teknologi yang diciptakan terus menerus adalah untuk mencapai keunggulan. Sama seperti peradaban manusia.

Baik teknologi dan peradaban manusia selalu sejalan dan bersinergi. Teknologi diciptakan seunggul dan sesempurna mungkin untuk mendukung keunggulan kehidupan dan peradaban manusia.

Dari pemikiran Habibie tersebut, para ilmuwan filsafat dapat mengambil kesimpulan bahwa teknologi sebenarnya memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Ilmu filsafat modern berlomba-lomba mencapai keunggulan bagi kehidupan manusia. Begitu juga teknologi. Berlomba-lomba menciptakan smartphone baru, mobil canggih, pesawat autopilot, untuk mencapai keunggulan.

Nah, dari pemikiran Habibie tentang hubungan teknologi dan filsafat, lalu menyebut keduanya bersinergi mencapai keunggulan, saya langsung teringat dengan Nietzsche. Frederick Nietzsche dalam memaparkan pemikiran filsafatnya juga kerap berbicara tentang keunggulan. Salah satunya dalam teori Ubermensch. “Aku mengajarkan Ubermensch . Manusia adalah sesuatu yang harus diatasi. Apa yang telah kalian lakukan mengatasinya?” tulis Nietzsche. Dalam kesempatan lain ia menulis “Ubermensch (manusia unggul) adalah makna dunia ini.”

Nietzsche bicara tentang manusia yang harus mencapai  keunggulan (Ubermensch), Habibie bicara sinergi teknologi dan peradaban manusia untuk mencapai keunggulan. Apakah Habibie terinspirasi oleh pemikiran filsafat Nietzsche? Ah, entahlah.[]

Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

Leave a Reply