Agus Maimun: “Pendidik Tidak Serius, Bentuk Korupsi Generasi”

“Kata alamarhum Cak Nur, korupsi tidak hanya sekedar korupsi uang. Beliau  menyebut juga ada korupsi generasi,ujar Agus Maimun yang ia kutip dari Nurcholish Madjid atau Cak Nur, pada acara Sarasehan Nasional dan Bedah buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Fakultas Humaniora Universtas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang (19/11). Agus selaku salah satu pembedah buku mengatakan, apabila ada seorang peserta didik yang pintar, namun guru atau pendidik yang tidak serius mengajar, itu merupakan korupsi generasi.

Menurut Agus, pada tahun 2006, UIN Malang pernah melakukan penelitian bahwa ada berbagai potensi yang menimbulkan korupsi generasi. Di antaranya, guru yang telat mengajar, guru mengajar tanpa persiapan materi, guru yang menutup akses informasi beasiswa, dan guru yang ngaji (ngarang biji) atau memberikan nilai asal asalan tanpa mengoreksi hasil pengerjaan siswa.

Berkaca dari pendapat Agus, Cahyati Subechiana, salah seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), merasakan adanya korupsi generasi di kampus. Ia mengatakan bahwa ada salah satu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), yang sering tidak masuk kelas. Terlebih, dosen tersebut tak lain juga merupakan dekan FITK, Nurali. “Kita sering ditinggal tanpa dikasih kabar, kita sudah nunggu tapi ujung-ujungnya nggak masuk. Kan, kita yang dirugikan, ujarnya. Menurutnya, tindakan dosen tersebut sudah menghilangkan haknya sebagai mahasiswa.

Padahal, seperti yang dilansir Koran Tempel Q-Post edisi 5 Mei 2016, Sulalah, Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), dosen tidak boleh semena-semena mengganti jam perkuliahan tanpa adanya kesepakatan dengan kelas. Ia mengatakan bahwa akan ada punishment bagi dosen yang bertindak demikian. Seperti tidak diberikannya anggaran untuk penelitian bagi dosen yang keaktifannya kurang.

Saat dikonfirmasi pada Nurali, selaku Dekan FITK, ia mengatakan alasannya sering mendadak mengganti jam. “Saya kan dekan, sering dipanggil mendadak oleh rektor. Itu juga karena tidak bisa diwakilkan oleh wakil dekan. Maka dari itu, saya sering mengganti jam mendadak pula”, ungkapnya. Dalam mengatasi seringnya pergantian jam, ia mengambil jalan tengah dalam kegiatan perkuliahan yaitu dengan menerapkan konsep pembelajaran. Di mana kegiatan perkuliahan didesain oleh dosen untuk para mahasiswa dalam tatap muka maupun nontatap muka. “Seperti saya memberikan tugas kepada mahasiswa untuk merekam dirinya menerangkan tentang materi yang telah dipahami kemudian dikirim ke saya,” ujarnya.

Sebuah artikel berjudul “Kembalikan Fitrah Pendidikan” yang ditulis oleh Taufiqurrahman, salah satu dosen FITK, bahwa pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu lisan dan ilmu tulisan, hanya akan mewujudkan pendidikan yang hampa. Padahal selain itu, para pendidik perlu memberi contoh yang benar, teladan yang baik, serta prestasi yang bisa ditiru dan dibanggakan oleh peserta didiknya. Tanpa teladan dari guru, peserta didik seperti belajar di ruang hampa yang hanya berisi omong kosong.

Merujuk pada contoh yang benar dan teladan yang baik, Agus yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang ini juga mengatakan bahwa tindakan anti korupsi dalam lembaga pendidikan, berasal dari pemimpin masing-masing lembaga yang mampu memberikan contoh yang baik. Seperti sikap para dosen yang harusnya dijadikan contoh teladan bagi para mahasiswa. Setiap individu menerapkan sikap antikorupsi generasi, bermula oleh dirinya sendiri terhadap lingkungannya. Sikap antikorupsi generasi selalu ada dan di luar kesadaran setiap individu. [Irva Azizah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply