Agus si Pemutilasi dan Ide Pembunuhan

Pembunuhan
Sumber gambar: okezone.com

Mari lupakan sejenak soal perayaan hari Kartini yang didominasi baju kebaya. Lupakan pula tentang keponakan Kartini yang menikah dengan DN Aidit, ketua umum PKI.

Pada saat perayaan hari Kartini 21 April 2016 lalu, seorang buronan ditangkap polisi di Surabaya. Pria ini sudah sejak 13 April 2016 diburu polisi. Tindakan kejahatannya tak main-main. Pembunuhan dan mutilasi!

Pria bernama Kusmayadi alias Agus membunuh sang pacar karena dituntut bertanggungjawab atas kehamilan akibat hubungan gelap mereka. Enggan tanggungjawab, pertengkaran meluap.

Saat pertengkaran sengit, Agus kalap mata. Ia lalu membunuh dan memutilasi sang pacar yang diketahui bernama Nur Atikah.

Kasus pembunuhan sepertinya sudah jadi makanan harian masyarakat Indonesia. Bahkan makin tahun, sepertinya angkanya makin tinggi. Indonesian Police Watch mencatat selama Januari 2016 saja ada 34 orang yang dibunuh di seluruh Indonesia. Angka ini meningkat tajam jika dibandingkan bulan Januari 2015 yang hanya mencatat 3 kasus pembunuhan.

Itu hanya perbandingan data per bulan. Kalau total data pembunuhan yang terjadi sepanjang tahun 2015 untuk seluruh Indonesia, saya belum dapatkan informasinya. Tapi, untuk data pembunuhan yang terjadi di Jabodetabek sepanjang 2015, saya punya datanya.

Kasus pembunuhan di Jabodetabek terjadi sebanyak 71 kasus. Sedangkan tahun 2014 hanya ada 68 kasus pembunuhan. Ini berarti kasus pembunuhan naik 4 persen dari tahun 2014 ke tahun 2015.

Jika mau merunut sepanjang sejarah Indonesia berdiri hingga saat ini, maka kita akan geleng-geleng kepala melihat data pembunuhan. Pasca G30S 1965 meletus, Encyclopedia Britannica tahun 1992 mencatat ada sekitar 3.000.000 jiwa yang dibunuh sepanjang tahun 1966-1968. Sedangkan pada peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, Komnas HAM mendata ada 750 jiwa yang terbunuh ataupun dibunuh.

Peristiwa lainnya ialah peristiwa Aceh 1989-1999. Pada peristiwa Aceh ini Forum LSM HAM Aceh mencatat ada 1.321 jiwa yang dibunuh.

Nah, tentu kita harus lapang dada terima kenyataan bahwa negeri ini punya sejarah kelam pembunuhan. Apalagi ditambah kenyataan saat ini bahwa kasus pembunuhan seakan tak pernah berhenti menghiasi setiap detik kehidupan kita. Seolah pembunuhan sesama manusia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengetahuan kita sebagai umat manusia.

Tapi, apa jadinya jika di dalam pengetahuan manusia tak ada ide atau konsep tentang pembunuhan sesama manusia? Apa jadinya jika yang kita ketahui tentang kematian seseorang hanyalah karena usia,  penyakit dan kecelakaan? Jika anda pernah menonton film RRRrrrr!!! anda akan tahu bagaimana konsep atau ide pembunuhan sesama manusia itu muncul pertama kali di dunia nyata.

Film bergenre komedi ini menceritakan tentang sekelompok manusia pertama yang hidup di bumi pada zaman batu. Di film itu manusia diceritakan hidup damai. Tak ada konsep perang, tak ada pula konsep atau pengetahuan membunuh sesama manusia.

Konflik tertinggi dalam film itu ialah ketika si Tabib membunuh si Batu secara diam-diam. Karena pada saat itu tak ada konsep pembunuhan sesama manusia, semua orang dalam kelompok itu langsung saja mengambil kesimpulan bahwa si Batu dibunuh hewan buas.

Namun Tabib tak puas dengan kesimpulan kelompoknya. Ia lalu berbohong mengatakan bahwa si Batu itu mati dibunuh oleh kawannya sendiri, yaitu si Tukang jahit. Tapi pernyataan “dibunuh oleh kawannya sendiri” itu langsung ditertawakan oleh kelompoknya. Semua orang yang mendengar ocehan Tabib, heran. “Aku pernah mendengar hewan membunuh manusia untuk makanan, dan manusia berburu hewan untuk makanan. Tapi baru kali ini ku dengar manusia membunuh (sesama) manusia,” sahut seseorang dari kelompok tersebut.

Jangan anggap film ini merepresentasikan realitas sebenarnya atas kasus pembunuhan yang pertama kali terjadi. Karena film ini murni fiksi yang banyak dibumbui dengan dialog yang mengocok perut.

Walau dialog-dialog dalam film ini mengocok perut, tapi pesannya sangatlah dalam. Film berbahasa Perancis ini menyampaikan pesan bahwa pembunuhan sesama manusia pada masa saat ini tak akan terjadi jika konsep pembunuhannya tak pernah ada dalam ingatan manusia. Orang-orang dalam film itu hanya mengenal konsep; bahwa kematian manusia hanya disebabkan karena bunuh diri, dimakan hewan dan dimakan usia.

Film ini seolah-olah juga berpesan bahwa sejarah pembunuhan sesama manusia yang pertama kali terjadi akan jadi model (percontohan) bagi orang-orang setelahnya.

Saya coba menarik kesimpulan bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada orang-orang sebelum kita, akan jadi pengetahuan baru untuk kita yang hidup di zaman millenium ini. Ini juga termasuk pengetahuan tentang kreativitas seorang individu menghabisi nyawa manusia lainnya.

Saya mencoba setuju dengan film RRRrrrr!!! yang menyampaikan pesan bahwa sejarah yang berisi pengetahuan tentang pembunuhan sesama manusia akan jadi model (percontohan) untuk manusia setelahnya. Kasus mutilasi contohnya.

Saya tak yakin Agus si pemutilasi sebelumnya tak memiliki pengetahuan tentang cara memutilasi. Saya tak yakin jika konsep mutilasi itu ada begitu saja di dalam pikirannya tanpa ada model (percontohan) sebelumnya dari pemutilasi lainnya. Dan, saya tak yakin pula pelaku yang meracuni Wayan Mirna Salihin memiliki konsep untuk membubuhi kopi vietnam dengan sianida, tanpa ada model yang ia tiru dari orang lain.

Kita tahu bahwa kasus pembunuhan dan mutilasi sudah terjadi di Indonesia jauh sebelum Agus melakukan hal yang sama. Kita juga tahu bahwa komik Jepang Conan edisi 29 menceritakan pembunuh yang melakukan kejahatan dengan cara menaburkan racun di minuman kopi korbannya, jauh sebelum pembunuh Wayan Mirna Salihin melakukan hal serupa.

Efek modelling (percontohan) pembunuhan ini sepertinya tak main-main. Belum satu bulan kasus kopi sianida bergulir, sudah ada yang meniru perilaku pembunuh Wayan Mirna.

Pada 3 Pebruari 2016 lalu, seorang buruh pabrik tekstil bernama Ayu Lestari meracuni rekan kerjanya karena sakit hati pekerjaannya tak dihargai. Tapi, ia tidak menaburkan sianida di minuman kopi, namun menuangkan thinner (zat kimia untuk campuran cat) ke botol minuman Novi Wulandari, rekan kerjanya. Saat polisi menginterogasi, Ayu Lestari mengaku meniru pelaku penabur kopi sianida yang menewaskan Wayan Mirna pada 6 Januari 2016 silam.

Kasus Ayu Lestari yang meniru cara pelaku penabur sianida, membuat saya cukup sadar. Bahwa, betapapun buruknya perilaku membunuh manusia menurut norma moral dan agama, tetap saja ada individu yang melakukan perbuatan tersebut. Seakan-akan, ide dan konsep menghilangkan nyawa orang lain itu akan dipraktikkan di dunia nyata sewaktu-waktu pada saat diperlukan.

Menurut saya, ini bukanlah perkara yang mudah untuk diselesaikan. Karena, ide dan konsep tentang pembunuhan sudah hadir sejak kita kecil dalam benak kita semua. Cerita-cerita pahlawan dan cerita mahabarata yang didongengkan pada masa kanak-kanak, sudah cukup ‘mendoktrin’ otak kita bahwa pembunuhan itu lazim dilakukan.

Menghilangkan ide atau konsep pembunuhan di kepala tiap-tiap individu sepertinya mustahil untuk dilakukan. Karena hampir setiap hari kita mendengar kabar ada manusia yang dibunuh, entah itu oleh suaminya sendiri, pacarnya sendiri atau dibunuh oleh sahabatnya sendiri.

Yang perlu dilakukan menurut saya ialah membatasi generasi selanjutnya (Anak-anak) atas akses terhadap ide atau konsep pembunuhan. Dan yang perlu dilakukan untuk generasi sekarang ialah memperkuat rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Dan, ini harusnya jadi pekerjaan rumah (PR) bagi perusahaan media dan pemerintah kita. Sekian.[]


Editor : Salis Fahrudin


Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

Tinggalkan Balasan