Aksi Protes terhadap Kebijakan Jam Malam di PTKI se-Indonesia

Kuasa dan pengetahuan mempunyai hubungan yang saling menguntungkan di antara keduanya. Tidak ada kekuasan tanpa pengatahuan, begitu juga sebalik­nya, tidak ada pengetahuan tanpa ke­kuasaan. Dengan pengetahuan, maka kekuasan akan beroperasi.

(Konrad Ke­bung, 2002: 33).

Jam malam yang diberlakukan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia menuai protes dari para mahasiswa. Riset yang dilakukan oleh Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI mulai tanggal 11-21 Februari 2018 mencatat, dari 34 PTKI di Indonesia, ada 19 PTKI yang menerapkan jam malam.

Salah satu PTKI yang memberlakukan jam malam yakni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jam malam untuk kegiatan mahasiswa di UIN Malang dibatasi hanya sampai pukul 20.00 WIB. Menurut Abdul Aziz, Kepala Bagian Kemahasiswaan, kebijakan jam malam diberlakukan sebagai pendisiplinan diri, penertiban kantor Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK), dan antisipasi tindak asusila. Masih menurut Aziz, jika mahasiswa masih melakukan kegiatan pada malam hari, maka sama saja sudah menyalahi kodrat manusia. “Malam-malam di sini mau apa? Kan mereka punya kos-kosan, ya mending pulang ke kos-kosan. Sesuai  dengan aturan Al-Quran, siang dipakai untuk bekerja, malam untuk istirahat. Jangan menyalahi kodrat manusia,” jelasnya.

Dari 19 PTKI yang menerapkan jam malam, para mahasiswa di 15 PTKI mengaku bahwa jam malam membatasi aktivitas mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Habibur Rohman, mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang. Menurutnya, kegiatan mahasiswa lebih terbatasi ketika diberlakukan jam malam. Mahasiswa yang juga menjadi Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Komedi Kontemporer ini berpendapat, diberlakukannya jam malam akan membatasi kreativitas dari anggotanya. “Kita jadi lebih terbatasi, kita maksimal berhenti kuliah jam lima sore, dan paling tidak teman-teman kumpul habis magrib. Kita dari habis magrib sampai jam delapan, kiranya hanya dua jam kumpul,” ujar Rohman.

Di samping itu, Rohman juga menambahkan, masalah utama yang ia rasakan adalah tidak adanya fasilitas penunjang untuk berlatih dikarenakan UKM harus ditinggalkan pada pukul 20.00 WIB. “Kita otomatis kehilangan fasilitas yang ada di kantor (UKM_red), peralatan dan sebagainya, sehingga kurang maksimal,” imbuhnya.

Beberapa mahasiswa pun pernah melakukan protes terhadap pemberlakuan jam malam. Dari 19 PTKI yang menerapkan jam malam, para mahasiswa di 8 PTKI melakukan protes dengan menyampaikan aspirasi ke pihak birokrat PTKI. Aksi penyampaian aspirasi ini pernah dilakukan oleh para mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang memberlakukan jam malam pada pukul 22.00 WIB.

Melansir dari suakaonline.com, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sakrim Miharja mengatakan, setiap kebijakan yang menuai pro dan kontra yang merupakan hal yang biasa. “Setiap mahasiswa harus mengikuti peraturan di mana ia berada. Aturan dibuat bukan untuk menyusahkan, melainkan untuk memperbaiki dan membuat nama kampus lebih baik agar masyarakat sekitar tidak berpikiran negatif,” ujar Sakrim dalam berita yang berjudul “Jam Malam Terus Tuai Pro Kontra” (29/5/2014).

Menurut Isthiqonita, mahasiswa Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, para mahasiswa pernah melakukan protes ke pihak birokrat, namun tidak membuahkan hasil yang diinginkan. “Soalnya yang ngelawan Suaka aja, mana bisa berhasil?” ujar anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka itu melalui aplikasi pesan berbalas (11/2). Isthiqonita mengungkapkan, yang menjadi kendala dalam menyampaikan aspirasi yakni ketidaksamaan pemikiran semua UKM.

INFOGRAFIS JAM MALAM9X16

Hal serupa juga dilakukan oleh para mahasiswa di IAIN Palu. Dengan pemberlakuan jam malam pukul 22.00 WITA, para mahasiswa pernah melakukan protes karena jam malam dirasa membatasi aktivitas mahasiswa. Menurut keterangan Muhammad Rifqi, mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Palu, jam malam diberlakukan mulai tahun 2013. “Tahun 2012 masih diberlakukan untuk kuliah malam dan aktivitas malam untuk mahasiswa. Cuman mulai di tahun 2013 udah nggak ada kuliah mlam dan aktivitas mahasiswa dibatasi sampai jam 22.00,” ucapnya melalui aplikasi pesan berbalas (12/2).

Rifqi menjelaskan, tindakan protes sudah dilakukan setiap tahun. “Yaaah, tiap tahun itu-itu aja visi misi dari Presma (presiden mahasiswa_red), tapi sampai sekarang sama sekali belum ada realisasinya,” ujar Rifqi melalui aplikasi pesan berbalas (12/2). Rifqi menambahkan, “Insyaallah rektor baru IAIN Palu periode awal ini, kami berjuang untuk diadakan kembali aktivitas malam, pada saat raker (rapat kerja_red) institut”.

Begitu juga dengan para mahasiswa di IAIN Metro Lampung. Fahriyani, mahasiswa Perbankan Syariah S1 IAIN Metro Lampung mengungkapkan, jam malam yang diberlakukan adalah pukul 19.00 WIB. Pemberlakuan jam malam ini, menurut Fahriyani, begitu membatasi aktivitas mahasiswa. Misalnya mahasiswa yang aktif di UKM. Kegiatan mereka begitu banyak dan membutuhkan persiapan yang tidak sebentar.  “Kalau jam malamnya dibatasi gini jadi agak repot karena kan kalau siang itu pasti mahasiswa disibukan dengan kuliah,” tulis Fahriyani melalui aplikasi pesan berbalas (12/2).

Fahriyani mengungkapkan bahwa para mahasiswa pernah melakukan protes kepada pihak rektorat, namun hasilnya nihil. Pihak rektorat tetap bersikukuh pada pemberlakuan jam malam pukul 19.00 WIB di IAIN Metro Lampung.

Tak hanya melakukan protes dengan menyampaikan aspirasinya, beberapa PTKI juga melakukan protes dengan tetap beraktivitas setelah jam malam. Tindakan protes semacam ini dilakukan oleh mahasiswa di 7 PTKI.

Sementara itu, dari 19 PTKI yang menerapkan jam malam, para mahasiswa di 4 PTKI tidak melakukan protes. Dua PTKI tidak melakukan protes karena jam malam diberlakukan hingga  pukul 00.00 waktu setempat, sementara 2 PTKI lainnya karena tidak ada aktivitas di PTKI setelah jam malam.

Dalam penelitian berjudul Resistensi Mahasiswa Terhadap Kebijakan Kampus di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Suliadi menilai bahwa tindakan protes yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi salah satu bentuk resistensi mahasiswa terhadap kebijakan kampus. Resistensi yang dimaksud oleh  Alumnus Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu merupakan tindakan penolakan terhadap sesuatu yang tidak dinilai merugikan.

Dalam penelitian itu pula, Suliadi menggunakan dua kerangka teori Michel Foucault tentang lahirnya resistensi dan relasi kekuasaan dengan pengetahuan. Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan beroperasi lewat sistem sosial yang ada, termasuk lembaga pengetahuan-pendidikan. Kekuasaan dioperasikan dengan mekanisme pelarangan, pembatasan dan lain-lain.

Dalam konteks inilah, masih menurut Suliadi, dapat dijelaskan bahwa perkembangan situasi pendidikan merupakan cerminan dari sistem yang dijalankan oleh pemerintah. Pengetahuan menjadi alat untuk me­nyebarkan nilai-nilai dari sistem yang sedang dijalankan. Pemberlakuan jam malam, adanya pelayanan kampus yang kurang bersahabat bagi mahasiswa, peng­ambilan kebijakan yang tidak melibatkan mahasiswa, merupakan isu-isu yang menjadi faktor objektif di lapan­gan yang mendorong lahirnya resistensi para mahasiswa di PTKI se-Indonesia. []

 

Leave a Reply