Aku Bukan Aku

“Pernahkah kamu berpikir, menjadi dalang ditengah-tengah ketakutan, darah-darah, kegelisahan dan ribuan ledakan senapan yang begitu dahsyat?”
Hari itu pukul delapan dini hari, langit masih saja seperti pukul tiga pagi. Suram, sunyi, dan matahari enggan mempersilahkan sinarnya untukku. Bangkit dari hibernasi yang entah kapan aku memulainya, aku linglung memikirkan sesuatu yang tidak penting.
“Kok masih gelap ya?,” pekikku dalam hati. Kutengok ke atas, suasana mencekam riuh. Tiba-tiba aku berdiri di atas tanah yang tidak cokelat lagi, dipenuhi darah yang masih segar, dan genangan darah segar mengucur deras. Aku makin asingdengan suasana seperti ini. “Dimanakah aku? Mengapa aku tidak melihat gamelan sama sekali seperti di rumahku?,”
Kulangkahkan kaki menyusuri tanah menyeramkan ini, tiga meter kemudian aku melihat tumpukan-tumpukan manusia tergeletak di tanah dengan mata melotot, dadanya bolong bekas senapan, dan kepalanya hancur tak berstruktur. Apa yang sebenarnya terjadi? Ingin rasanya kututup mata mereka satu persatu dan mendoakan mereka di keabadian, namun mereka terlalu banyak dan waktupun tidak mendukung.
“Oh tidak, maaf bu, maaf sekali!” ucapku kaget menginjak ibu-ibu tua tak bernyawa. Ia menggendong bayi perempuan yang memakai pita merah, cantik sekali. Dekapan itu sangat erat, aku tahu itu. Seperti dekapan almarhum ibuku enam dekade lalu. Kudoakan perempuan itu kembali dengan tenang di hadapan Tuhan, bersama anaknya yang tak berdosa. Tanganku membantu menutup bulatan hitam matanya, dan semoga kita bertemu di surga abadi.
Dibalik pohon besar gersang, terdapat puing-puing rumah kayu yang sudah gosong, atap rumah hancur berkeping-keping, dan bakaran pakaian lusuh berserakan. Aku yakin, pasti ini adalah desa kecil yang dulunya tentram. Bunyi senapan kencang tak kenal arah, dengungnya membisingkan telinga dan semakin mengeramkan suasana. Ledakan frekuensi tinggi turut meramaikan. Aku berlari secepat mungkin, aku takut peluru nyasar merenggut nyawaku.
“Stop!” teriak laki-laki, memberhentikan lariku. Asal suaranya tepat di belakangku, sepuluh pemuda berpakaian kolonial, bertopi khas tentara asing, dan senapan panjang melekat di tangan kanannya. Mengacungkan ke arahku, dan berkata, “Emma, sedang apa kamu disana?”rupanya ia berbicara bahasa inggris. Aku menoleh dan melihat pria tinggi besar, berambut cokelat dan bermata biru, kulit putih seperti bule.
“Permisi, tempat apakah ini?,” tanyaku denganbahasa inggris.
“Inibekaspertempurantadimalam, marikuantarandamenuju camp,” pria itu tersenyum manis, kemudian menggandeng tanganku menjauhi desa yang telahhancur itu. Aku kaget, mengapa ia bisa memanggilku dengan sebutan Emma? Siapa sebenarnya ia? Aku tak pernah bertemu sama sekali. Atau, ada yang salah dengan diriku?
Pria itu masih menggenggam tanganku menuju camp bertuliskan, “Dutch” aku semakin heran dan memastikan siapakah aku sebenarnya. Tangan yang ia genggam, kutatap dan nyaris tak percaya. Ini bukan tanganku!Aku melepas genggaman itu dan mencabik-cabik tangan yang bukan milikku ini. Bagaimana bisa kulitku persis seperti pria yang baru saja mengajakku berbicara? Tidak mungkin! Ini tidak nyata! Kusentuh kepalaku, Astaghfirullah, tak ada kerudung di kepalaku! Rambutku berwarna pirang. Padahalaku bukanketurunanBelanda, aku orang jawa asli.Siapa pemilik raga ini?
“Emma! Ayo ikut Daddy, semua orang sudah menunggu daddy di dalam rapat strategiperang,”ujarpriaparuhbaya di depanku.Daddy? Apakah ia ayahku? Tidak, ayahku berkulit sawo matang bernama Jarwo. Perang? Perang apa? Bukannya Indonesiasudahmerdeka? Semoga ini benar-benar tak nyata.
“Kemerdekaan akan direbut Indonesia, tetapi Indonesia sudah kalah. Belanda akan menguasai beberapa daerah di Indonesia, kami sudah dapatkan sebagian besar,” aku menyusul ke gerombolan pria yang berbicara panjang lebar mengenai Indonesia,terbesit di benakku, apakah aku orang Belanda? Ah tidak mungkin, ini tidak nyata. Ketika aku mengiringi pria yang kusebut daddy tadi, matahari benar-benar sudah tepat di atas kepalaku, aku lupa untuk sholat dhuhur. Aku pun berpamitan untuk mendirikan sholat.
“Ah! Apakah kamu sudah gila? kita tidak punya agama!,” Teriaknya murka dan mengatakan aku gila.Kuhentikan langkahku dan enggan mengikuti pria bule itu.Untuk apa aku mengikutinya? Aku tidak mengenalinya sama sekali. Mungkin memang aku berada dalam jasad Emma, tetapi namaku adalah Ayu Sulastri, bukan Emma.
Aku berjalan tak tentu arah melewati tempat-tempat yang penuh dengan kehancuran, riuhrendah dengan erangan orang-orang teraniaya. Rata-rata yang menanggung beban perihtersebutkaum pribumi, ingin rasanya aku menolong mereka dan memberinya sedikit air. Namun, tentara Belanda selalumengawasi sekitar dan siap menembak siapapun yang mencobamendekat. Aku pun masih di dalam tubuh Emma, tentara Belanda akan semakin murka padaku jika aku menolong.
Tentara Belanda hanya tersenyum menatapku.Andaikan mereka tahu kalau aku orang pribumi? Apakah mereka akan membunuhku? Menganiayaku juga? Atau menyiksaku hingga nafasku berhenti?
Ditempat yang sepi, aku mendengar suara perempuan meringis sesenggukan. Perempuan muda berumur belasan itu dipasung hanya ditinggalkan makanan berulat di sampingnya. Dua meter di belakang perempuan itu, terdapat tumpukan batu-batu gunung besar dipenuhibanyak mayat-mayat busuk. Aku pikir mereka mati karena longsoran batu.
“Kau jangan mendekat! Biarkan aku mati disini! Jangan aniaya aku!” teriak perempuan dalam pasungan berlogat jawa kental.
“Tenang, tenang. Aku akan menolongmu,”ujarku. Lantaskucoba melepaskan pasungan yang mengikattangannya dengan beberapa kayu.Awalnya ia sempat curiga, namun kucobalagi,denganperlahan pasungan yang ada di tubuhnyatelahberhasillepasdan ia kembali tersenyum.
“Alhamdulillah berhasil, aku Ayu,” ucapku sambilmenyodorkan tanganku.
“Aku, Siti Masruroh. Terimakasih atas pertolongannya,” ia menerima jabatanku.
“Sama-sama, sesama manusia kita harus saling menolong, bukan?” perempuan itu menaikan satu alisnya, dan membalas, “Tapi bangsamu telah menjajah negeriku,”
“Maafkan Bangsa kami, Siti. Oh iya, Bolehkah aku meminjam alat sholatmu?” Aku sengaja tidak memberitahu identitasku, pastinya ia telah tahu aku Islam dan fasih berbahasa Indonesia.
Aku mulai bisa mengerti, bahwa sekarang aku berada di dalam tubuh bangsa Belanda. Aku berada di tahun sebelum negara Indonesia merdeka. Untungnya, Siti masih mau menerimaku dengan keadaan seperti ini. Walaupun sesekali pihak pribumi hendak membunuhku.
Masih terlihat keheranan dari wajah Siti, aku mencoba tuk menenangkannya. Aku ingin bercerita, namun ini sangat sulit dipercaya. Aku sendiri pun sulit mempercayainya semenjak orang-orang mengenalku dengan nama Emma. Aku enggan menggunakan nama asing itu, namaku Ayu Sulastri. Aku Islam dan berkerudung.
Sekalipun dibenci, tetap saja dibenci. Aku didatangi segerombolan lelaki jawa dengan balok runcing. Ia memfitnah kejam padaku perihal bangsa Belanda. Mereka tak segan-segan mencabik leherku, menarik kerudungku hingga terlepas. Siti melerai, namun nihil. Gerombolan lelaki jawa itu melanjutkan aksibrutalnya.
“Belanda sinting! Beraninya kamu memasuki daerah kami, menyiksa pribumi seperti binatang! Kami tuan rumah, kamu hanya tamu. Tamu biadab!”teriakmerekadengan suara tinggi, membuatku ingin menangis. Ah tidak, Ayu kuat. Ayu tidak salah, ini semua kecaman untuk Emma, batinku.
Aku takberdayasaat tubuhku terus dikoyak paksa, kudapatidarah begitu cepat mengalir dari kepala. Kusentuh kepalaku, darah dingin mengucur deras dari ubun-ubun. Perih sekali.rasanya aku inginmati. Biar aku mendapatkan hal yang dirasakan wargapribumi. Tidak, tidak, tangan ini masih milik Emma.
“Matilah dengan sia-sia kau orang Belanda!”ujarseorangpriaberperawakankecil. Khas orang pribumi.Sejuruskemudiansebuahpukulan mendarat kerasdi punggungku, akukembalitersungkur dan tubuhku kaku. Siti menangis dan mencoba membelaku, ia tak tega aku diperlakukan seperti ini.
“Bunuh aku jika kau mau!” teriakku ditengah-tengah tangis kelemahan, meskipun sekarang aku masih yakin kalau aku bangsa Indonesia.
“Siti, kita tetap sahabat. Aku Ayu Sulastri, bukan Emma. Aku bangsa Indonesia, bukan Belanda. Aku muslim, bukan ateis. Aku cinta Indonesia, dan juga negaraku,” lanjutku.
“Haaaaah! Dasar tak tau diri! Indonesia bukan negaramu! Penghianat!” lelaki itu menampar pipi, dan kemudianmenendangku. Ini memang sakit, tapi aku tak boleh menangis.
Siti menangis sejadi-jadinya, aku mencoba bangkit dan memeluk Siti. Mengucap salam terakhir kalinya, “Aku bukan Emma, aku bukan bangsa Belanda,” lirihku diujung sakit yang kurasakan.
“Kau tidak percaya? Memang, ini sulit untuk dipercaya,” angin berdesir kencang, darah di kepalaku pun semakin dingin dan deras.
“Tidak tahu bagaimana awalnya. Tapi, aku tiba-tiba berada dalam tubuh seperti ini. Tubuh orang Belanda, tepatnya tubuh gadis bernama Emma. Dan lucunya lagi, aku hidup di masa perang. Padahal terakhir yang ku ingat aku hidup pada masasesudah kemerdekaan sebagai seorang gadis, itu lama sekali dibandingkan tahun sekarang. Aku sebenarnya berkulit seperti kalian dan namaku Ayu Sulastri. Aku gadis Indonesia.” Jelasku.
“Emma, jangan bicara macam-macam. Kami, bangsa pribumi akan memperebutkan kemerdekaan Indonesia,” Aku sedih, Siti masih belum bisa mempercayaiku sebagai bagian dari warga pribumi, ah sudahlah yang penting ia mau menerimaku.
“Siti, aku bahagia telah menyaksikan sendiri bagaimana Negara kita memperebutkan kemerdekaannya. Aku juga bahagia bisa mendapatkan sahabat sepertimu, terima kasih. Aku sayang kamu. Aku mencintai Indonesia, Negaraku. Biarkan aku memejamkan kedua mataku dengan perasaan paling bahagia setelah bisa merasakan betapa indahnya hidup di tengah-tengah perang keji. Aku turut berbela sungkawaatas gugurnya pahlawan Indonesia, Terimakasih,”ujarkuditengah-tengah rasa sakit.

“Bohong! Jangan ngarang cerita! Tetap saja kau bangsa kejam!” BRAKKKK, ragaku mati rasa, nafasku terengah diujung harapan, mataku menutup menyambut keabadian surga.
***
“Ah syukurlah, Ayu Sulastri sudah sadar. Namun, ensefalitisnya belum bisa disembuhkan. Tapi aku takjub, ia koma dengan jumlah sepertiga dari umurnya sekarang, 20 tahun” samar-samar aku dengar dari dunia nyata, Apakah aku sudah di dalam tubuh Ayu Sulastri? []

One thought on “Aku Bukan Aku

Leave a Reply