Aku Ingin Menjadi Wanita

Ruangan pengap yang hanya disibak tirainya sebagian membuat cahaya yang masuk tidak banyak namun cukup untuk melihat pantulan bayangan dari kaca. Seorang perempuan mengambil gunting dari laci kecil di kaca riasnya. Wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. Rambut hitam gelombangnya terlihat kusut dan kusam. Wajahnya pucat dengan mata sembap, menatap wajahnya saja ia merasa enggan. Kepalanya menunduk dan beberapa bulir air menetes ke lantai.

Rianna, gadis pucat itu, mengacungkan gunting itu di hadapan wajahnya dan perlahan mengarahkannya pada rambut panjang sebahunya. Dengan masih menatap bayangannya di kaca, Rianna memotong rambutnya sedikit demi sedikit hingga wajahnya tampak seperti laki-laki, bayangan gadis itu terlihat cukup tampan di cermin. Tangisan Rianna semakin keras hingga napasnya tersengal, mata dan hidungnya memerah.

Suara ribut-ribut di luar membuat Rianna tersentak. Dia berjalan dengan lemas menuju ke pintu tanpa merapikan potongan rambutnya. Ia bahkan tidak sadar membawa gunting itu bersamanya. Gadis yang baru menginjak 26 tahun dua minggu yang lalu itu mendengar suara ibu-ibu tetangga apartemennya.

“Jadi benar dia sebenarnya laki-laki?” kata salah seorang ibu dengan geram.

DEG

Siapa yang menyebarkannya? Rianna merasa tidak tenang. Ia menggenggam erat gunting yang terbawa olehnya.

“Duhh, aku merasa ditipu padahal dia sebaik dan seramah itu.” Sahut ibu yang lain. “Iya, seperti serigala berbulu domba.” Ibu yang pertama tadi membalas ibu kedua. Ibu lain menyatakan kekesalannya , “Padahal anak gadisku dekat dengannya, aku sangat kesal.”

“Maka dari itu ibu-ibu, mari kita meminta, oh bukan, mari kita mengusirnya saja.” Tegas salah seorang ibu yang Rianna tau siapa dia, tetangga samping rumah, nyonya Wilona.

Rianna mendadak merasa sakit yang sangat, paru-parunya seakan diremat dan air matanya meluncur semakin deras. Dengan sekuat tenaga ia berjalan menuju kamar mandi dan mendudukkan dirinya di bak mandi dengan air yang mengalir dari keran tanpa mematikannya. Gaun tidurnya basah dan dia memeluk dirinya yang kian hari kian kurus, guntingnya pun masih ia genggam erat.

***

Adrian atau Ian sedari dulu adalah bocah periang. Dia senang bermain dengan temannya. Namun ibu Ian tau ada yang tidak baik-baik saja dengan anaknya itu. Sering dia melihat anak laki-laki satu-satunya itu bermain boneka barbie milik kakak perempuannya. Melihat senyum Ian yang lebih bahagia ketika memainkan boneka itu, ibu Ian tau anaknya itu berbeda.

“Ian,” panggil ibunya, Ian tersentak lalu menegakkan tubuhnya dan buru-buru menyembunyikan boneka kakaknya di bawah bantal.

“iya, bu?” ia menoleh menatap ibunya, umurnya yang masih 8 tahun membuat ibunya bisa melihat betapa gugupnya bocah itu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Ibu Ian mencoba mengambil jalan tengah dengan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan Ian, “Kenapa masih belum tidur, sayang?”

“ah.. itu em.. aku tidak bisa tidur, bu.”

“Kau ingin ibu ceritakan sesuatu agar cepat tidur?” tawar ibu Ian, bocah itu mengangguk mengiyakan dengan bibir yang tertarik membentuk senyuman.

***

Ketika pulang dari sekolah, Ian menemukan gaun dan wig yang digunakan kakaknya untuk kostum menyanyi ketika dia duduk di bangku SD. Ian tidak tahu kenapa pakaian itu diletakkan di sembarang tempat. Ian mengambilnya dan menyimpannya di bawah kasurnya.

Setelah makan malam bersama lalu belajar sekitar satu jam dengan Vivian, kakak perempuannya, Ian buru-buru memasuki kamarnya. Ia tak lupa menutup rapat pintu kamarnya. Dengan tergesa ia mengambil gaun yang ia simpan di bawah kasurnya. Senyum Ian merekah, dengan riang ia mengenakan gaun berwarna hijau tosca selutut. Roknya mengembang dengan cantik dengan pita yang dibentuk seperti bunga di bagian pinggang sebelah kiri. Ian ingat ia pernah menyimpan jepit kupu-kupu berwarna platina di tas sekolahnya. Ia mengeluarkannya dan menyelipkannya pada rambut cepaknya. Dia mematut dirinya berkali-kali di kaca berukuran 30×20 cm yang menempel di dinding dekat kasurnya.

***

Ibu Ian merasa haus. Ia bangun dari tempat tidurnya dengan perlahan kemudian keluar kamar. Dia menyempatkan diri mengintip ke kamar anak-anaknya yang bisa dilewati dari kamarnya menuju dapur. Alangkah terkejutnya wanita yang telah melahirkan anak laki-laki satu-satunya itu ketika melihatnya dengan riang mengenakan gaun perempuan dan memiliki sifat perempuan yang takkan pernah ia pahami.

Ia memutuskan untuk bicara empat mata dengan anaknya itu di akhir pekan. Karena ia takut, jika suaminya mengetahuinya Ian pasti akan diusir dari rumah. Ian pasti hanya akan dianggap beban.

Pada hari Minggu, ibu Ian memanggil Ian yang hendak mengeluarkan sepeda kecilnya. Ketika Ian sudah di dekatnya, dia mengajak Ian duduk di pangkuannya kemudian menyuruh Ian bercerita tentang Ian yang sebenarnya. Dengan kelembutan hatinya, ia menyuruh anaknya untuk berterus terang tanpa menutupi apapun. Karena ia yang memintanya, ia harus siap bagaimanapun jawaban Ian nantinya. Ia mencoba mempersiapkan diri.

Ian tak bisa lagi berbohong, ibunya menunjukkan terlalu banyak bukti ketika dia diam-diam menunjukkan ketertarikannya pada hal-hal feminin. Ian mulai bercerita jika dari dulu dia lebih nyaman mengenakan baju perempuan, dia juga lebih senang bermain boneka dengan kakaknya dibanding lari-lari bermain bola. Bocah kecil itu tidak mengetahui sejak kapan dia bertingkah seperti ini, yang ia tahu ia sangat senang bertingkah seperti ini.

Ibu Ian memeluk anaknya erat. Ia sangat sayang dengan anaknya meskipun anak laki-lakinya itu bersikap feminin. Air matanya menetes namun sebisa mungkin ia tidak ingin membuat Ian tahu dia sedang menangis. Ia tahu apa yang dihadapi Ian nantinya karena bocah itu akan menghadapi dunia, bukan hanya seseorang.

***

Ketika Ian mencapai umur 17 tahun, ibunya meninggalkannya karena gagal ginjal yang dialami ibunya semakin parah. Pada waktu itu pula Ian sadar ia tidak perlu memedulikan orang lain untuk mendapatkan jati dirinya. Hingga suatu malam Ian mengenakan gaun yang ia beli sendiri. Ia merias dirinya dengan sangat cantik dan mengenakan wig.

Ian kemudian keluar dan bermain di karaoke, menyanyi 1 jam. Pesan sebelum ibunya menghembuskan napas terakhir masih terngiang di kepalanya. Ian sayang, ibu tidak pernah melarangmu menjadi perempuan. Setelah ini, cobaan yang harus kau hadapi akan lebih berat lagi. Ibu mohon seberat apapun cobaan yang menimpamu, jangan pernah …. Ibu Ian tidak menyelesaikan kata-katanya, dan Ian kini menangis mengingatnya. Sambil menyanyikan lagu yang berhubungan dengan ibu, ia menangis hingga tidak sanggup menyanyi dengan suara yang serak.

Hampir tengah malam Ian pulang. Ternyata ayahnya belum pulang, dilihatnya sang ayah menunggunya di ruang tamu. Lelaki yang menua dengan kumis dan jenggot tipis itu menatap Ian dengan nyalak. Ian mulai gemetaran, ayahnya jelas marah besar dan setelah ini ia jelas akan diusir.

“Apa yang kau kenakan itu?” tanya ayahnya dengan suara yang tinggi.

“i.. ini baju, yah.” Suaranya gemetar dan ditelan hening.

“Jawab yang tegas! Kau laki-laki.”

Mendengar ayahnya membentaknya dan ada kata laki-laki yang ia dengar membuatnya kesal. Ia ingin jati dirinya diterima, tidak hanya oleh almarhumah ibunya tapi juga oleh ayahnya.

“Jadi benar selama ini ibumu itu menutupi jati dirimu agar aku tidak mengusirmu?” emosi ayahnya semakin naik terdengar jelas suaranya semakin keras, “bahkan matipun dia meninggalkan hal yang hina.” Meski ayahnya mengucapkan dengan suara lirih, Ian masih bisa mendengar.

“Apa maksudmu, yah? Kau boleh menghinaku, merendahkanku tapi jangan pernah rendahkan ibuku.” Ian menanggapi dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Ibumu itu pelacur, ia memohon-mohon ayah mengambilnya yang sedang mengandungmu, bodoh!”

Ketidakpercayaan terlukis di seluruh wajah Ian, tentu saja dia tidak bisa begitu saja percaya dengan ayahnya. Tapi jika ia mengulang banyak kejadian dimana keluarganya bertamasya bersama, ibunya lebih memperhatikan dia dan ayahnya lebih memperhatikan kakaknya. Tapi karena dia juga tidak pernah mendengar cerita tentang istri ayahnya yang lain.

“kau tidak percaya?” tantang ayahnya, lelaki tua itu melempar beberapa lembar kertas dengan amplopnya juga, “semoga kau berpikir jernih setelah membacanya atau angkat kakimu dari rumah ini.” Lelaki itu meninggalkannya di ruang tamu yang gelap tanpa setitik cahaya pun, meninggalkannya dengan air mata yang lagi-lagi tumpah.

Ian mengepalkan tangannya, kebencian merasuk dalam dadanya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Adrian berjanji akan meninggalkan rumah itu dan menjadi wanita seutuhnya, mengubah namanya menjadi Adrianna. Ia tidak ingin tinggal di rumah orang yang menghina ibunya. Lagipula cepat atau lambat ia pasti akan diusir, karena ia tidak bisa membuang sisi femininnya.

***

Ketika Rianna bangun dari tidurnya, ia masih di bak mandi, basah, dan badannya terasa lemah. Ia mencoba bangun. Masih segar di ingatannya perihal mimpinya barusan. Masa lalunya yang datang kedalam mimpinya membuatnya semakin kalut dalam berpikir. Ia juga sudah tidak mendengar keributan ibu-ibu di depan rumahnya. Dengan sekuat tenaga Rianna mencoba bangkit, kata-kata ibunya dalam mimpinya masih terngiang.

BRUK

Rianna terjatuh dari bak mandi dan gunting yang ditangannya melukai salah satu jarinya. Dia langsung teringat kata-kata terakhir ibunya, Ibu mohon seberat apapun cobaan yang menimpamu, jangan pernah.. ibunya pasti tidak ingin ia menyerah apalagi hingga terbersit keinginan untuk bunuh diri. Ya, dia akan menjadi wanita sepenuhnya, meski dia harus mencari tempat dan lingkungan yang tepat untuknya. Bibir pucatnya tertarik ke kanan dan kiri membentuk senyuman kaku. Ia akan mencoba terlahir kembali sebagai Adrianna yang memiliki sifat periang Adrian. []

Leave a Reply