Anak Muda Menolak Lupa

26 - Munir

Puluhan orang sudah berkumpul di bagian selatan Pemakaman Umum Sisir Kota Batu, Selasa (8/9). Tepatnya di sekitar nisan bertuliskan nama seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib. Ia pernah melakukan advokasi terhadap aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus pada rezim Soeharto. Munir dibunuh dengan racun arsenik dalam perjalanannya menuju Belanda pada 7 September 2004.

Selasa itu sebelas tahun sudah peristiwa pembunuhan Munir berlalu. Bunga-bunga segar bertaburan diatas makamnya. Orang-orang disekitar makamnya menggunakan topeng wajah Munir, serta kaos putih bertuliskan Munirpad, nama jalan kecil di Den Haag, Belanda. Jalan itu diresmikan 14 April 2015 oleh Walikota Den Haag, Joziaas van Aartsen. Pemberian nama jalan itu sebagai bentuk apresiasi pemerintahan Belanda terhadap penegakan HAM yang dilakukan oleh Munir semasa hidupnya.

Selepas dari pemakaman, mereka berjalan menuju alun-alun Kota Batu dengan membawa banner dengan tulisan “Munir Muda Melawan Lupa”. Beberapa pengguna jalan sempat melirik ke arah rombongan yang juga membawa poster-poster perkembangan kasus Munir itu. Sekitar 15 menit kemudian barisan longmarch sudah sampai di Alun-Alun Kota Batu.

Akmal Adi Cahya, kepala Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Malang Corruption Watch (MCW), berorasi tentang tema kegiatan hari itu “Anak Muda Menafsir Munir, Melawan Lupa”. Dalam orasinya, Akmal menyuarakan betapa pentingnya generasi muda Indonesia saat ini sebagai generasi penerus bangsa. “Omah Munir percaya, bahwa di tangan anak-anak muda, tuntutan keadilan kasus Munir bukan sekedar menjadi teriakan di ruang hampa, tetapi dapat menjadi energy pembangkit gerakan untuk melawan penguasa yang berpura-pura dungu,” lanjutnya membaca press release oleh Omah Munir. Beberapa mahasiswa Universitas Brawijaya, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Universitas Muhammadiyah Malang juga turut merapat. Mereka mengenakan jas almamater, dan menenteng banner dengan tulisan “11 tahun Pembunuhan Munir 2004- 2015.”

Terkait tema peringatan kematian Munir tahun ini, Salma Safitri, direktur eksekutif Omah Munir menuturkan bahwa pihaknya mengundang banyak organisasi pemuda dan mahasiswa di Malang Raya. Akmal Adi Cahya juga menambahkan bahwa sasaran dari kegiatan ini adalah para generasi muda. “Anak muda sebaiknya tidak hanya terpaku pada sesuatu yang bernilai akademis, tapi mereka juga harus peduli terhadap kondisi-kondisi sosial di sekitar mereka,” tambah Akmal.

“Kalau anak mudanya lupa, bisa-bisa penegakan HAM di Indonesia juga bisa terlupakan dan terbengkalai” kata Akmal. Ia juga menambahkan bahwa dalam memperingati kematian Munir ini telah dibuat kurang lebih dua juta Avatar Munir, “Tidak hanya sekedar avatar , tapi juga ada dua juta orang yang ingat kasus Munir. Bahwa masih ada kasus penegakan HAM yang belum terselesaikan. Dari dua juta itu bisa mengingatkan 200 juta orang Indonesia lain yang aktif di media sosial,” tukasnya.

Salah satu pengguna media sosial yang memasang avatar Munir adalah Aris Saiful Anwar. Ia menggunakan avatar Munir itu sebagai display picture akun BlackBerry Messenger –nya. “Ya, sebagai peringatan terhadap kasus Munir. Terus supaya orang yang belum tahu tentang Munir bisa tahu tentang kasus itu,” jelasnya. Berbeda dengan Aris yang mengetahui Munir, Risda Silvia, mahasiswa semester tiga jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), kurang begitu mengetahui kasus yang menimpa sang aktivis. Yang ia ketahui tentang Munir hanya sebatas seseorang yang mati diracun di atas pesawat. Tapi Risda mengaku bahwa ia sangat setuju terhadap gerakan dua juta avatar Munir. “Ya, kita mahasiswa sebagai agent of change jadi tahu terkait masalah itu. Selain itu juga bisa mengingatkan pemerintah bahwa sudah seharusnya kasus-kasus itu diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengurus hal yang lain,”tambahnya.

Masih menurut Akmal, anak-anak muda saat ini kurang bisa memanfaatkan media sosial yang mereka punya untuk hal-hal yang berguna. Padahal seharusnya mereka bisa menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan hal-hal seperti penegakan HAM dan sebagainya. Seperti di instagram, hashtag #11tahunmunir yang berjumlah 459 post, kalah jauh dengan tagar #dubsmash yang berisi video-video lipsynch hingga mencapai 4.557.087 post hingga hari ini (11/9). [Cholilatun Nabilah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply