Ada Nietzsche dalam Habibie?

Enam belas tahun yang lalu, mungkin tak ada satu media massa pun yang meliput secara khusus hari ulang tahun Bacarudin Jusuf Habibie. Alasanya simpel, enam belas tahun yang lalu Habibie baru saja dilengserkan dari kursi panas presiden. Beda dulu, beda sekarang. Saat ini banyak sekali media massa yang meliput hari istimewa mantan Presiden ketiga RI…

Papua dan Nasionalisme di Titik Nol

Andai saat ini saya bisa ke gedung DPR, saya akan marah-marah ke semua pejabat senayan itu. Saya akan memaki mereka, sambil melemparkan telur busuk ke wajah mereka masing-masing, jika itu tak melanggar hukum. Kita patut jengkel dengan perilaku mereka yang terlalu fokus pada penjegalan calon independen di DKI. Kita patut muak dengan kerja mereka yang…

Masihkah Kita Butuh DPR?

Sebenarnya cobaan orang berpuasa bukan Warung Mak Saeni. Bukan pula warung-warung makan lainnya yang buka pada siang hari di bulan ramadhan. Cobaan sebenarnya di bulan puasa ini ialah kelakuan para anggota DPR yang baru saja mengesahkan revisi Undang-Undang Pilkada 2015. Coba tonton deh program TV Mata Najwa tanggal 8 Juni 2016 edisi Main-Main Aturan Main….

Kompas dan Tempo dalam Bingkai Kebobrokan

Lupakan suara sumbang Kivlan Zen yang terus memprovokasi masyarakat lewat isu kebangkitan PKI. Lupakan pula soal kontroversi gelar pahlawan untuk Soeharto. Masalah besar saat ini bukan lagi soal bahaya laten PKI atau bahaya laten orde baru. Tapi bahaya laten kebobrokan media massa. Saat ini, hancur sudah kepercayaan saya terhadap media massa. Dulu saya masih berani…

Gelombang Chaos Pemaknaan Pancasila

Tampaknya peringatan hari lahir pancasila 1 Juni 2016 mendatang hanya sebatas seremonial belaka. Pancasila belum membumi di tanah pertiwi ini. Pancasila masih belum meresap ke jiwa warga Indonesia. Ironinya, justru makin hari makin besar gelombang anti pancasila di negeri ini. Gelombang anti pancasila itu termanifestasi dalam sikap membenci, perselisihan, SARA, egoisme akut dan terorisme. Misalnya…

China Adalah Kita

Sekarang ini, saya agak malas membuat tulisan yang berkaitan langsung dengan politik. Bagi saya, peristiwa politik saat ini seperti bukit yang diselimuti halimun (kabut) dipagi hari. Kita tak bisa melihat jelas bukitnya sebelum halimunnya hilang. Kita tak bisa naif menunjukan keberpihakan kita sebelum semua kebobrokannya mencuat ke publik. Begitu juga dengan gonjang-ganjing politik di DKI…

Aksi Pemerkosa YY dan Para Pendahulu Kita

Siapa pun warga Indonesia yang masih terang nuraninya, pasti geram dengan peristiwa yang menimpa YY. Gadis berusia 14 tahun, yang diperkosa beramai-ramai oleh 14 orang laki-laki, lalu nyawa gadis SMP itu dihabisi. Kejam. Hilang kesucian sekaligus nyawanya. Hilang masa depannya. Hilang pula satu orang anak bangsa yang mungkin saja di masa depan bisa membawa perubahan…