Ribetnya Cita-Cita DJA

Entah sudah berapa bulan belakangan ini akun facebook saya dipenuhi dengan namanya. Para penulis yang tentunya sastrawan banyak sekali yang membicarakan terkait Denny JA. Saya yang awam dunia kesusastraan akhirnya mulai kepo dan mencari duduk masalah yang sesungguhnya. Ternyata para sastrawan itu tengah membuat dan menyebarluaskan petisi penolakan puisi esai

Menuntut Hak-Hak Buruh Perempuan

Buruh perempuan yang tergabung dalam Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) melakukan aksi unjuk rasa pada peringatan Hari Buruh Internasional (01/05). Aksi ini dilakukan di depan kantor Wali Kota Malang. Evi Afida, buruh Perusahaan Rokok Pakis Mas menuntut diwujudkannya situasi lingkungan kerja yang ramah perempuan. Evi, juga menginginkan adanya regulasi yang

Mengingat Sejarah, Menggugat Kekerasan di Aceh

Sebuah karya sastra seringkali muncul dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa kemanusian. Pramoedya Ananta Toer misalnya, karya-karyanya banyak yang menceritakan penjajahan Belanda, kerusuhan Orde Baru, dan pembantain komunis (yang sebagaian malah salah sasaran). Sepertinya Azhari juga demikian. Dalam kumpulan cerpen (kumcer) berjudul “Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi”

Persma Tuntut Keleluasaan Dalam Melakukan Kerja Jurnalistik

Hari Kebebasan Pers (3/5), diperingati oleh Aliansi Jurnalis Malang Raya (AJI, ITJI, PFI, PWI, dan PPMI) dengan turun ke jalan. Mereka menyuarakan beberapa tuntutan di depan gedung Balaikota Malang. Salah satu yang menyuarakan tuntutannya adalah Pers Mahasiswa (Persma). Mereka menuntut agar birokrat kampus memberikan keleluasaan bagi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)