Batman v Superman : Down of Indonesian Movies

Sumber gambar : lintasnasional.com
Sumber gambar : lintasnasional.com

Filsuf Friedrich Nietzsche dan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret 2016 lalu memiliki kesamaan. Mereka datang terlalu cepat. Akibatnya jelas. Baik Nietzsche (di abad 19) dan hari film nasional tak dihiraukan oleh publik.

Jika Nietzsche tak dihiraukan karena pemikiran yang ‘aneh’, hari film nasional tak dihiraukan publik karena hanya sebatas seremonial oral saja. “Selamat Hari Film Nasional. Terimakasih sudah menonton film Indonesia,” tulis Joko Anwar di akun twitternya. Senada dengan Joko, akun resmi twitter DPR RI juga melakukan seremonial oral, “Selamat Hari Film Nasional! Mari majukan dan cintai Film Nasional sebagai wajah kepribadian bangsa Indonesia.”

Saya sebut perayaan hari film nasional hanya sebatas seremonial oral bukan tanpa alasan. Sekadar tahu, tak ada apresiasi massal publik atas film Indonesia pada hari perayaannya. Tak ada penonton yang mengular panjang menonton film lokal seperti Comic 8: Kings Casino part 2 dan Dilarang Masuk.

Ironisnya, disaat peringatan Hari Film Nasional berlangsung, bioskop-bioskop tanah air malah dipadati oleh penonton yang akan menyaksikan film Batman v Superman. Tak seperti film lokal, apresiasi atas film hollywood ini sangat besar sekali. Pada saat tayang perdananya pada 23 Maret lalu, tiket sudah banyak yang di-booking oleh penonton sejak 4 hari sebelumnya.

Berdasarkan pantauan jabar.pojoksatu.id banyak penonton yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari untuk pertunjukan 23-27 Maret 2016. Bahkan, saking tingginya minat warga saat tayang perdananya, di studio XXI CCM film Batman v Superman ditayangkan 12 kali. Yang pertama pukul 12.00 dan terakhir pukul 21.45.

Kecanduan penonton Indonesia akan film hollywood ini tak hanya pada saat tayang perdananya. Pada hari berikutnya minat atas film garapan Zack Snyder ini makin membesar. Di situs 21cineplex.com yang saya peloloti pada 1 April 2016, film Batman v Superman ditayangkan dalam 3 jenis: reguler, 3D dan 3D Imax.

Pada jenis reguler, film ini ditayangkan hingga 16 kali di studio Blok M Plaza XXI dan Gading XXI. Beberapa studio lainnya masih menayangkan hingga 12 kali dalam sehari.

Saya tak tahu pasti berapa jumlah orang Indonesia yang sudah menonton film pertarungan dua superhero ini. Pihak 21 Cineplex yang saya tanya via twitter tidak memberikan jawaban. Tapi, hingga saat ini sepertinya film hollywood itu sudah melebihi jumlah penonton film Comic 8: Kings Casino part 2 yang ditonton sekitar 1 juta orang.

Ini bisa kita lihat dari banyaknya jumlah tayang yang mencapai 16 kali di studio XXI tertentu. Indikasi lainnya adalah film ini telah menembus box office di daratan Amerika dan Tiongkok.

Jika film hollywood ini sudah merajai bioskop tanah air, konsekuensinya jelas: film lokal sepi penonton. Dan, sial bagi film Dilarang Masuk, Raksasa dari Jogja dan Oop! Ada Vampir yang tayang berbarengan dengan film Batman v Superman. Film-film lokal ini dipastikan tak akan berumur panjang di studio XXI.

Saya tak menakut-nakuti. Film Mencari Hilal dan Lamaran yang tayang Juli 2015 harus rela turun dari studio XXI setelah digempur film superhero marvel: Ant Man. Film Lamaran hanya mampu meraup sekitar 70 ribu penonton. Sedangkan film Mencari Hilal lebih menyedihkan lagi; 10 ribu penonton. Padahal di Indonesia promosi film Ant Man tak ‘segila’ film Batman v Superman. Tapi tetap saja, dua film lokal ini harus rela keok.

Keadaan ini tentu membuat sineas dan pengamat film nasional ngelus dada. Karena kondisi seperti ini tak hanya sekali dua kali terjadi. Tapi cukup sering terjadi pada saat film superhero atau film action hollywood tayang di studio XXI tanah air.

Dan, hingga saat ini tak ada jalan keluar atas masalah tersebut. Baik sineas maupun pemerintah sepertinya sama-sama buntu menghadapi gempuran film-film hollywood.

Untuk bersaing dalam kategori film superhero, jelas kualitas film kita ketinggalan jauh. Bersaing dalam genre film action jelas film kita masih kalah sama james bond 007. Bersaing dalam genre horor, film nasional pasti kalah dengan film Resident Evil.

Film hollywood memiliki modal vital yang tak dimiliki sineas nasional; modal besar. Film Batman v Superman misalnya. Film ini disebut-sebut menghabiskan 250 juta Dollar US (sekitar 3.25 Triliun Rupiah). Dan sudah dipastikan sutradaranya akan menggarap film ini dengan apik.

Sedangkan film nasional belum ada yang menghabiskan dana sebesar itu. Jadi jika bertarung dengan film hollywood, film nasional berpotensi besar untuk kalah saing. Untuk mengatasi hal tersebut ada beberapa cara yang harus diperhatikan pemerintah.

Pertama; tumbuhkan nasionalisme. Menumbuhkan jiwa nasionalisme memang tak mudah. Apalagi selama bertahun-tahun bangsa ini sudah digempur oleh berbagai ideologi luar dan gaya hidup yang cenderung hedonis. Tapi bukan berarti nasionalisme anak bangsa tak dapat dipantik.

Menumbuhkan jiwa nasionalisme bisa dimulai dengan mengurangi rasa rendah diri bangsa. Pemerintah harus kampanyekan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang hebat. Bangsa yang merdeka sendiri, bangsa yang memiliki pahlawan-pahlawan dan orang-orang hebat yang tak kalah hebatnya dengan orang Amerika dan Eropa. Ini penting untuk mengurangi mental inlander anak bangsa. Cara ini juga berguna untuk menumbuhkan ego nasionalisme kita.

Ego nasionalisme ini penting untuk dipupuk. Sebab, Jepang dengan ego nasionalismenya dapat mengurangi pengaruh Amerika dan Eropa. Guru bahasa Jepang saya yang pernah bekerja disana pernah menyampaikan bahwa ego nasionalisme orang jepang sangat tinggi.

Saking tingginya ego nasionalisme mereka, jarang ada warga jepang yang tertarik mempelajari bahasa Inggris. Padahal bahasa Inggris sudah diakui sebagai bahasa international.

Makanya tak heran pula jika film Batman v Superman yang lagi booming di seluruh dunia hanya menempati rangking 3 di jajaran box office di Jepang. Posisi pertama dan kedua diraih oleh film Assassination Classroom 2 dan Doraemon: Nobita and the Birth of Japan 2016. Baik film Assassination Classroom 2 dan Doraemon adalah film nasional mereka yang disadur dari manga (komik jepang).

Bangsa Jepang dengan ego nasionalisme yang tinggi membuat mereka lebih antusias menonton film kartun 2D (dua dimensi) sekelas Doraemon dibandingkan menonton Batman v Superman dengan efek visual yang tinggi. Dalam hal ego nasionalisme, saya sarankan sebaiknya Indonesia belajar dari Jepang.

Selain ego nasionalisme yang harus dipupuk, hal kedua yang harus dilakukan pemerintah adalah mengkampanyekan film nasional. Cara ini sebenarnya terdengar basi. Tapi ini sangat penting.

Dengan kondisi perfilman nasional yang terus kalah saing, pastinya membuat para sineas kita sesak napas dan gregetan, termasuk saya. Kita sepertinya hanya bisa menghela napas kecewa ketika film hollywood menggempur studio XXI.

Oleh sebab itu film hollywood harus dibendung pengaruhnya. Kampanye film nasional jangan setengah-setengah seperti Joko Anwar. Sutradara A Copy of My Mind ini menurut saya tak serius mengkampanyekan film nasional. Beberapa hari setelah Batman v Superman tayang di studio XXI, ia secara tak langsung malah kampanyekan film hollywood ini.

Di akun twitternya ia posting beberapa kali tentang film besutan Zack Snyder itu. “Sooo good,” tulis Joko Anwar di twitter megomentaru film tarung dua superhero itu. Tapi, disaat peringatan hari film nasional, ia cuma nulis “Terimakasih sudah menonton film Indonesia.” Sepertinya mental inlander masih kuat di diri Joko Anwar.

Sikap-sikap sineas seperti Joko Anwar ini akan berakibat fatal, jika ada 100 ribu saja follower twitternya yang tertarik nonton Batman v Superman. Efeknya film nasional kalah saing, sepi penonton, produsernya merugi, dan aktor-aktrisnya tak memiliki daya tawar di perfilman nasional.

Sebagai sineas nasional, harusnya Joko memikirkan efek tulisannya di twitter. Sikap sutradara satu ini secara tak langsung akan makin membuat film nasional terpuruk. Ini tentu bukan kondisi yang tak nyaman bagi para sineas nasional.

Nah, oleh karena itu pemerintah dan para sineas dan warga Indonesia perlu bersatu untuk kampanyekan film-film lokal. Sikap seperti Joko Anwar tadi sudah saatnya ditinggalkan. Segenap elemen bangsa diharapkan total dalam mengkampanyekan film nasional.

Yang pejabat seperti DPR dan kepala daerah berilah contoh pada kami dengan cara berbondong-bondong menyesaki studio XXI untuk nonton film nasional. Bagi sineas, terus kampanyekan film nasional di kancah internasional. Dan bagi warga negeri ini, kita hargai karya sineas anak bangsa dengan cara memprioritaskan film nasional.

Dengan kampanye massal film nasional diharapkan dapat membuat film anak negeri dipadati penonton dan mampu bersaing dengan film hollywood.

Jika kampanye film nasional tersebut masih belum dapat membendung film hollywood, hal ketiga yang dilakukan adalah membatasi geraknya. Caranya? Pemerintah buat PP nya agar film hollywood yang tayang di studio XXI tanah air dinaikan tarif tiketnya hingga 50 persen.

Harapannya dengan kebijakan itu, penonton kelas menengah ke bawah akan lebih memilih film nasional yang harga tiketnya lebih murah dibandingkan film hollywood.

Tak sampai disitu. Di PP tersebut pemerintah dapat membuat kebijakan bahwa kenaikan tiket sebesar 50 persen itu diharuskan masuk ke kas negara. Dana yang masuk dari kebijakan itu dapat dipergunakan untuk menyokong kualitas film nasional.

Sedangkan untuk regulasinya, pemerintah dapat memberikan beasiswa bagi para sineas muda untuk belajar perfilman di luar negeri. Pemerintah juga dapat menggunakan dana tersebut untuk mensponsori film nasional yang dianggap berkualitas dan memiliki potensi jual yang tinggi.

Dengan kebijakan seperti itu, perfilman nasional diuntungkan dari dua sisi. Pertama dapat membuat penonton lebih melirik film nasional. Kedua, jika film hollywood masih tetap digandrungi, film nasional bisa dapat subsidi lewat kebijakan kenaikan tarif tiket film hollywood.

Nah, semoga dengan cara-cara tersebut film nasional makin digemari. Para sutradara, produser, aktor dan aktris film dapat berbangga diri ketika film mereka ditonton oleh banyak warga Indonesia, tanpa lupa untuk meningkatkan kualitas karya mereka. Dan semoga di peringatan hari film nasional berikutnya film nasional tak lagi “dikangkangi” oleh film hollywood. Sekian.[]

Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

5 thoughts on “Batman v Superman : Down of Indonesian Movies

  1. Menurut saya, ketika sebuah film (lokal) diabaikan, dan masyarakat lebih memilih film holiwud, tu adalah konsekuensinya. Esensi film (bagi saya) adalah akses untuk mendapatkan pelajaran, makna, pesan yang disampaikan film itu.
    Bukan suatu masalah. Malah menjadi masalah ketika masyarakat (semua kalangan) dibatasi akses menonton film karena pemerintah menaikan harga film holiwud. Bukankah ada ketimpangan disana?

    Masyarakatlah yang berhak memilih film berdasarkan penilainnya sendiri. Ya, penilaian dari diri sendiri. Seperti yang dulu diajarkan oleh Pak Nietzsche.

  2. Menurut saya, ketika sebuah film (lokal) diabaikan, dan masyarakat lebih memilih film holiwud, tu adalah konsekuensinya. Esensi film (bagi saya) adalah akses untuk mendapatkan pelajaran, makna, pesan yang disampaikan film itu.
    Bukan suatu masalah. Malah menjadi masalah ketika masyarakat (semua kalangan) dibatasi akses menonton film karena pemerintah menaikan harga film holiwud. Bukankah ada ketimpangan disana?

    Masyarakatlah yang berhak memilih film berdasarkan penilainnya sendiri. Ya, penilaian dari diri sendiri. Seperti yang dulu diajarkan oleh Pak Nietzsche.

Leave a Reply