Beasiswa El-Zawa Bukan Solusi UKT Tinggi

Ridwan, salah satu orangtua wali mahasiswa jurusan arsitek mengeluhkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibebankan saat temu wali mahasiswa baru. Ia merasa keberatan karena mendapatkan UKT sebesar Rp 7.771.000.  Abdul Haris selaku rektor dalam sambutannya di gedung Sport Center lantai dua menyatakan jika ada mahasiswa yang kesulitan membayar UKT bisa mengajukan beasiswa ke El-Zawa. “El-Zawa memberi bantuan kepada mahasiswa yang kesulitan bayar UKT, jadi gak perlu ada protes-protes”. (10/8)

El-Zawa yang merupakan unit pengelolaan zakat dan wakaf di UIN Maliki Malang memang memiliki program beasiswa kader El-Zawa. Pendaftaran beasiswa tersebut dibuka tiap tahun melalui proses seleksi. Mahasiswa yang ingin mendapatkan beasiswa harus memenuhi beberapa syarat diantaranya mahasiswa aktif minimal semester tiga, menyerahkan berkas IPK minimal 3,00 untuk jurusan sains dan 3,25 untuk jurusan sosial, serta surat keterangan tidak mampu. Setelah itu, dilanjutkan dengan seleksi survei tempat tinggal calon penerima dan wawancara.

Yurike Prastika, salah satu penerima beasiswa tahun 2018 ini menuturkan bahwa beasiswa yang diberikan pihak El-Zawa senilai Rp 2.500.000.
Padahal pendapatan gabungan kedua orangtuanya hanya Rp 1.700.000 perbulan. Beasiswa tersebut tidak bisa menutup penuh UKT Yurike yang senilai Rp 3.114.000. “Sisanya Saya tambahin sendiri sebesar Rp 614.000,” ucap mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam itu.

Ketua El-Zawa, Nurul Yaqien mengatakan bahwa dana beasiswa yang diberikan kepada penerima maksimal Rp 2.500.000 saja. Menurut Yaqien, keputusan itu ada atas usulan dari oleh Abdus Salam Nawawi selaku ketua Badan Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur yang pernah memberi usulan pada Yaqien mengenai beasiswa, “Mahasiswa yang diberi beasiswa jangan sampai penuh, tetap kita bantu maksimal Rp 2.500.000,” begitu Yaqien mengulang ucapan Salam.

Ada seratus pendaftar beasiswa pada tahun 2018. Namun, kuota penerima beasiswa dibatasi maksimal empat puluh orang saja. Selain itu, mahasiswa hanya bisa menerima beasiswa dua semester saja. Yurike menyayangkan kuota beasiswa yang sedikit itu, “Harusnya lebih memahami kondisi mahasiswanya, dengan membuka banyak program beasiswa dan kuota lebih,” ucap Yurike. 

Yaqien mengaku keterbatasan kuota dan masa beasiswa karena kendala keuangan unit. Dana El-Zawa biasanya berasal dari infaq dan zakat para dosen dan karyawan UIN Malang saja. “Kemampuan uang kita yang membatasi, jadi setelah dapat beasiswa dari sini bisa cari beasiswa yang lain,” ujar Yaqien. Idrus juga menerangkan bahwa pendanaan unit ini bersifat mandiri, hanya berasal dari uang zakat dan tidak ada anggaran dari kampus.

Aldi Nur Fadil Auliya, selaku ketua Senat Mahasiswa (Sema) menuturkan bahwa adanya beasiswa El-Zawa kurang solutif untuk menyelesaikan masalah UKT. “Melihat kondisi UIN Malang yang beasiswanya tidak banyak dan sistem informasi yang selalu error untuk diakses,” jelasnya. Menurut Aldi, hal yang paling solutif ialah dengan merubah sistem, “Seperti adanya tim verifikasi UKT atau adanya banding UKT untuk mahasiswa baru secara langsung ketika tidak sesuai dan penurunan UKT”.

Harapan Aldi untuk kampus, memastikan keadilan hadir untuk para mahasiswa dan orangtua yang membiayainya, “Mau tidak mau harus kita akui, banyak yang tidak validasi di UIN Malang terkendala dengan biaya,” ucapnya. Begitupun dengan Yurike, ia berharap kampus tidak merumitkan proses banding UKT, “Semoga kampus bisa lebih objektif dalam penetapan UKT. Seperti Saya dan beberapa teman Saya yang mendapatkan UKT tinggi padahal pendapatan keluarga Kami tidak besar,” ungkapnya. []

Leave a Reply