Berdagang pun Dilarang

Muncul kesepakatan baru antara Murobbi (pembimbing) dan jajaran kepengurusan Musyrif (pendamping) Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly (MSAA) UIN Maliki Malang, Mahasantri dilarang berdagang, terkecuali melalui perantara koperasi mabna, “Demi menjaga keamanan dan kenyamanan mahasantri, adanya bentuk perdagangan di mabna manapun dilarang terkecuali melalui perantara koperasi mabna”, jelas Febri Kurniawan salah satu musyrif Mabna Ibnu Sina.

“Di satu sisi kami merasa iba dengan perjuangan kemandirian mereka, tapi apa yang sanggup kami lakukan. Kami kan hanya perantara peraturan, adanya aturan seperti ini kan juga buat kebaikan kita bersama”. tambahnya. “Keputusan ini telah berlangsung kurang lebih satu dua bulan” ucap Erik Rizaldi, Mahasantri pedagang nasi kuning dan gorengan, (4/22)

Abdul Hadi, selaku konsumen membela mahasantri pebisnis, “Masa sekedar berdagang aja tak boleh, kasianlah mereka, toh seumpama ada untung juga di bagi ke pihak pengurus mabna”, ungkap mahasantri asal jombang itu.

Dengan adanya pelarangan berdagang bagi mahasantri, hak dagang pun berpindahtangan ke pihak pengurus mabna. Keputusan ini menimbulkan kontroversi di kalangan mahasantri, harga gorengan yang sebelumnya berharga Rp. 500,- naik menjadi Rp. 750,- ”Wes koyok nerapke sistem ekonomi kapitalis wae mabna iki, garakno males tuku gorengan” ujar Zaky Nur, mahasantri Ibnu Sina.

Luthfi Aminullah, Murobbi Mabna Ibnu Sina, menjelaskan perihal pelarangan berdagangnya Mahasantri, “Sebenarnya pelarangan mahasantri berdagang tidak tertera dalam aturan tertulis, namun demi menjaga keamanan dan kenyamanan kita bersama alangkah lebih baiknya jika mahasantri dilarang berdagang “

Mahasantri berharap ada solusi terbaik mengenai masalah ini, “yah, saya pastinya ya masih pengen berdagang mas, tapi ya mau bagaimana lagi, semoga kedepan ada solusi yang lebih baik lagi lah mas” pungkas Erik Rizaldi. [Ali Zia Husnul Labib]

Tinggalkan Balasan