Bersikap Adil pada Kartini

Kartini

Kajian atas kritik dan polemik sosok Kartini

 Tanggal 21 April 2016 nanti jadi momentum penting bagi saya. Selain hari peringatan Ibu Kita Kartini, hari itu ialah hari pengkuan ‘dosa’ buat saya. Pengakuan bahwa saya pernah salah menilai Kartini.

Pada tahun 2009 lalu saya pernah menulis artikel tentang Kartini. Artikel itu saya beri judul “Kartini Perempuan Gagal”. Tulisan artikel itu bercerita bagaimana kerasnya pemikiran feminisme Kartini menentang pernikahan, tapi akhirnya menikah dengan laki-laki yang sudah beristri.

Saya akui artikel tersebut menyampaikan sinisme kepada Kartini. Sinisme terhadap Kartini yang tak mampu memegang teguh ideologi feminismenya. Tulisan artikel itu sendiri banyak terinspirasi dari buku seorang feminis Indonesia; Gadis Arivia. Ia juga menyebut Kartini gagal sebagai perempuan.

Selain memuat kegagalan Kartini, artikel saya itu juga mewakili kesangsian para kritikus yang mengkritik ‘pengkultusan’ Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Menurut mereka, masih banyak perempuan hebat selain Kartini yang jasanya dianggap lebih besar ketimbang jasanya dalam memajukan pendidikan untuk perempuan. Misalnya saja Sultanah Safiatudin (1644—1675). Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu. Ia dikenal sebagai sosok pintar dan aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pendidikan untuk pria dan wanita. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ia pun mampu menghalau Belanda dari Aceh.

Tokoh lainnya ialah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini pun tak kalah hebat kontribusinya. Ia adalah seorang wanita yang ahli dalam bidang pemerintahan dan sastra. B.F. Matthes, warga Belanda ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, menurut Bachtiar, perempuan ini mendirikan sekolah pertama di Tanette yang merupakan tempat pendidikan modern pertama yang dibuka untuk putra dan putri.

Selain itu, beberapa kritikus Kartini juga menghadirkan nama Rohana Kudus dan Dewi Sartika yang berkontribusi terhadap pendidikan di zaman dan di daerahnya masing-masing.

Pertanyaan para kritikus Kartini masih sama dari zaman Soekarno hingga sekarang; mengapa harus Kartini? Mengapa bukan tokoh perempuan lainnya?

Selain penilaian Kartini sebagai perempuan gagal dan perbandingan jasa dengan tokoh perempuan lainnya, kritik radikal lainnya ialah sikap skeptis akan keaslian surat-surat Kartini. Jika kita cari artikel di mesin pencari google, akan cukup banyak ditemui artikel yang di paragraf tertentu meragukan keaslian surat Kartini.

Sikap skeptis itu didasari atas tak ditemukannya naskah asli surat Kartini, ditambah dengan kenyataan bahwa yang memuplikasikan surat Kartini adalah J H Abendanon. Ia merupakan petinggi Belanda yang mengurusi bidang pendidikan dan kebudayaan di Hindia Belanda saat itu. J H Abendanon dicurigai memalsukan surat-surat Kartini untuk kepentingan politik etis Belanda.

Itulah tiga contoh kritik yang dilayangkan para feminis dan kritikus kepada sosok Kartini. Sebelum buru-buru menilai Kartini, alangkah bijaknya kita kupas satu persatu polemik sosok Kartini tersebut.

Meluruskan ideologi Kartini

Di awal sudah saya jelaskan bahwa saya pernah salah menilai Kartini. Saat ini harus saya akui kesalahan tersebut. Saya terlalu cepat memberikan ‘vonis’ kepada Kartini. Saya terlalu terburu-terburu menilai Kartini gagal sebagai seorang perempuan.

Saya merasa saat ini seperti warga negara Jerman dalam penglihatan Nietzsche. “Apa yang kurang dari orang-orang Jerman? Belajar melihat, membiasakan mata pada ketenangan, pada kesabaran, untuk membiarkan hal-hal datang kepadanya, untuk menunda penilaian. Belajar melihat secara seksama yang partikular untuk memahami dalam totalitasnya.” kata Nietzsche.

Harus saya akui Nietzsche benar tentang orang-orang yang terlalu cepat memberikan penilaian terhadap sesuatu. Saya saat itu tak mengkaji pemikiran Kartini terlalu dalam, saya tak membaca surat-suratnya hingga tuntas, tapi sudah berani menilai Kartini. Ceroboh memang.

Tapi, sepertinya tak hanya saya yang ceroboh. Para penganut paham feminisme pun sepertinya banyak yang ceroboh menilai Kartini.

Saat ini mungkin para feminis masih banyak yang setuju dengan pemikiran Gadis Arivia yang menilai Kartini gagal sebagai perempuan. Dalam terminologi feminisme, bersuamikan seorang laki-laki beristri tiga bukanlah cerminan seorang feminis sejati. Menikah dengan laki-laki saja sudah merupakan bentuk ketertindasan bagi seorang feminis. Apalagi menikah dengan laki-laki yang sudah beristri tiga. Padahal Kartini dalam beberapa suratnya  menentang keras pernikahan. Ia bahkan menganggap poligami ialah sebuah dosa.

“Hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa…. Mengertilah engkau sekarang apa sebabnya maka sesangat itu benar benciku akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, aku bebas,” tulis Kartini pada Stella Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899.

Tapi pada akhirnya, tanpa paksaan Kartini menikah dengan Bupati Rembang yang sudah beristri tiga. Hal inilah yang membuat para feminis (termasuk Gadis Arivia) sangat kecewa dengan Kartini.

Asal tahu saja, pemikiran Kartini memang sangat dekat dengan ideologi feminisme sebelum tahun 1902. Tak hanya mengkritisi pernikahan, ia dalam beberapa suratnya juga mengkritiki agama dan adat istiadat jawa yang melarang perempuan saat itu untuk berpendidikan.

Kekecewaan para feminis cukup wajar, karena mereka menganggap Kartini bagian dari mereka. Namun, sepertinya para feminis tak membaca tuntas surat-surat Kartini.

Mengganggap Kartini seorang feminis saya pikir tidak tepat. Apalagi menganggap Kartini gagal sebagai perempuan (dalam artian feminisme), menurut saya, itu penilaian yang ceroboh.

Jika kita baca buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang disusun oleh Armijn Pane, maka akan terlihat perubahan ideologi Kartini. Pada Surat yang dikirim pada 1899, Kartini banyak mengkritik masalah agama, poligami, dan adat istiadat Jawa. Surat yang dikirim pada 1900 banyak berbicara mengenai kegirangan Kartini yang akan bersekolah ke batavia dan bicara tentang pentingnya pendidikan untuk perempuan pribumi.

Surat yang dikirim pada 1901 lebih banyak bicara tentang kekecewaan Kartini karena gagal sekolah, bicara tentang kritik dominasi laki-laki dalam pernikahan dan bicara cita-cita mendidik anak sesuai dengan misi kesetaraan gender.

Ada pun surat yang dikirim pada Januari 1902 hingga Juni 1902 bicara mengenai keresahan hati Kartini akan nasib buruk yang akan ditimpa oleh adiknya yang menikah pada awal 1902. Kartini pada masa ini masih sangsi dengan perkawinan.

Sedangkan surat yang dikirim mulai dari juli 1902 hingga September 1904 tak lagi bicara mengenai kesangsian terhadap agama, adat, pernikahan dan dominasi laki-laki. Pada fase ini, Kartini sudah benar-benar lepas dari ideologi feminisme. Ia lebih banyak bicara tentang tuntunan agama, bicara tentang pentingnya pendidikan untuk anak-anak perempuan pribumi dan kejadian-kejadian ketika ia mendirikan sekolah dan mengajar.

Nah, fase inilah yang dilewatkan oleh para feminis. Harus diakui bahwa Kartini pada awal pemikirannya memang lebih cenderung berideologi feminis. Tapi pada akhirnya ia lebih memilih Islam sebagai pegangan ideologinya.

Lalu peristiwa penting apa yang terjadi dalam hidup Kartini, sehingga ia meninggalkan feminisme? Di dalam buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tak akan ditemukan sebab pemikiran Kartini bisa berubah dari feminisme menjadi lebih Islamis. Karena sepertinya ada beberapa surat yang sengaja tak dirilis oleh J H Abendanon.

Tapi, dari penuturan Fadihila Sholeh kita bisa tahu, peristiwa penting yang membuat Kartini berubah ialah pertemuannya dengan Kiai Sholeh Darat. Asal tahu saja, Fadihila Sholeh ialah cucu Kiai Sholeh Darat. Dan, Kiai Sholeh Darat sendiri disebut-sebut sebagai guru dari Hasyim Asyari dan Ahmad Dahlan, pendiri NU dan Muhammadiyah.

Menurut penuturan Fadihila Sholeh, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat pada saat Kartini berkunjung ke rumah pamannya yang menjabat sebagai Bupati Demak. Disana, Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian tafsir surah Al Fatihah yang sedang diberikan oleh Kiai Sholeh Darat.

Kartini takjub dengan isi pengajian itu. Karena sebelum bertemu Kiai Sholeh Darat, ia tak pernah tahu apa makna surah Al Fatihah. “Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca,” tulis Kartini kepada Stella Zeehandelaar pada 6 Nopember 1899.

Pada zaman Kartini hidup, Belanda memang melarang para ulama untuk menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa apapun. Pertemuannya dengan Kiai Sholeh Darat sepertinya mulai membuka mata Kartini. Ia yang sebelumnya menuding ulama melarang menerjemahkan Alquran, mulai sadar bahwa Belanda lah dalang dibalik kebutaannya terhadap agama Islam selama ini.

Mendapat pencerahan baru, Kartini mulai belajar tafsir Alquran dari Kiai Sholeh Darat. Ia bahkan mendorong Kiai itu untuk menerjemahkan Alquran agar penganut agama Islam bisa memahami kitab sucinya.

Lalu bagaimana dengan idealisme feminisme Kartini yang menentang pernikahan dan poligami? Pernikahan dalam pandangan feminisme hanya akan membuat perempuan menjadi manusia domestik. Dalam pernikahan perempuan diwajibkan mengurus segala kebutuhan rumah tangga (dapur, sumur, kasur). Atas kesangsian feminisme itu, saya punya jawabannya.

Menurut Asrori, seorang lulusan pondok pesantren Lirboyo Kediri, secara dasar kewajiban istri hanyalah macak dan manak (berdandan dan melahirkan). Bahkan menurutnya kewajiban seorang suami dalam Islam ialah mencukupi hampir seluruh kebutuhan istri (termasuk masak untuk istri). Nah, menurut saya pemahaman seperti ini pula yang diperoleh Kartini ketika berguru pada Kiai Sholeh Darat. Ia tahu, bahwa sebenarnya agama Islam tak memperlakukan perempuan dengan buruk.

Jika Kartini sudah tahu bahwa agamanya tak memperlakukannya dengan buruk, sangat manusiawi jika ia akhirnya berpaling dari feminisme ke Islam. Inilah yang tak diketahui oleh para feminis yang menyudutkan Kartini. Mereka tak mempelajari secara mendalam mengapa Kartini bisa berubah 180 derajat.

Mengapa Kartini yang Dipilih?

Mengapa harus Kartini? Mengapa bukan Sultanah Safiatudin, atau Siti Aisyah We Tenriolle atau Rohana Kudus? Ini pertanyaan yang selalu dilontarkan jika bicara simbol perjuangan perempuan.

Polemik penetapan Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan tak hanya bergaung saat ini saja. Polemik ini sudah ada sejak Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, yang isinya menetapkan Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April sebagai hari besar.

Dapat kita pahami bahwa ‘kecemburuan’ penokohan Kartini paling besar dipengaruhi oleh hubungan dekat Kartini dengan pemerintah Hindia Belanda dan kemunculan tokoh Kartini disaat Belanda menjalankan politik balas budinya (politik etis). Faktor lainnya ialah anggapan bahwa jasa Kartini lebih kecil dibandingkan tokoh perempuan lainnya.

Menurut saya, membandingkan Kartini dengan tokoh perempuan seperti Siti Aisyah We Tenriolle, Sultanah Safiatudin dan Rohana Kudus kurang tepat. Saya pikir, bukan soal sudah berapa sering Sultanah Safiatudin dan Cuk Nyak Dien yang angkat senjata melawan Belanda. Dan, bukan pula soal sudah berapa anak yang dicerdaskan oleh Siti Aisyah We Tenriolle dan Rohana Kudus. Tapi, sudah berapa banyak orang yang terinspirasi lalu tergerak melawan Belanda karena ide dan tulisan Kartini.

Kartini selain berperan sebagai guru yang mencerdaskan anak pribumi, ia juga seorang ‘konseptor’ dan ‘pelopor’ pergerakan. Ia lebih banyak bermain di ranah ide, sedangkan tokoh perempuan bermain di ranah aksi.

Kita tak bisa tahu sudah berapa banyak laki-laki dan perempuan pribumi yang terinspirasi karena tulisan Kartini, lalu tergerak untuk berjuang merebut kemerdekaan. Suka atau tidak Kartini diuntungkan oleh 2 hal. Pertama, ia menulis idenya. Kedua, ide tulisannya dipublikasikan secara massal. Sedangkan tokoh perempuan yang saya sebutkan tadi rata-rata tak menuliskan idenya, dan otomatis idenya tak terpublikasi secara massal.

Kita tak tahu secara pasti sudah seberapa besar pengaruh pergerakan kemerdekaan yang tercipta dari surat-surat Kartini. Tapi yang jelas kentara ialah gerakan kesadaran Nasional menentang penjajah Belanda yang digawangi oleh HOS Tjokroaminoto pada rentang 1915 hingga 1921 terjadi di Jawa dimana surat-surat Kartini dipublikasikan secara massal.

Ini artinya para tokoh perempuan selain Kartini tak bisa memberi pengaruh terhadap gerakan kesadaran nasional yang terjadi di Jawa. Karena para tokoh perempuan tadi kontribusinya di luar Jawa, bukan di pulau Jawa. Sultanah Safiatudin dan Cuk Nyak Dien adalah warga Aceh. Siti Aisyah We Tenriolle adalah warga Sulawesi. Sedangkan Rohana Kudus warga Sumatera Barat. Yang terakhir, Dewi Sartika warga Jawa Barat. Tapi kita tak tahu idenya, karena ia tak menuliskan pemikirannya seperti Kartini. Nah, saya kira karena hal inilah Soekarno lebih memilih Kartini sebagai ikon pejuang perempuan Indonesia ketimbang tokoh perempuan lainnya.

 Menakar Keaslian Surat Kartini

Apakah surat-surat Kartini palsu? Ini adalah pertanyaan yang paling radikal terhadap sosok Kartini. Sikap skeptis ini muncul karena sosok Kartini dihadirkan oleh J H Abendanon pada masa politik balas budi (politik etis). Ada kecurigaan bahwa Abendanon lah yang menulis surat-surat itu bukan Kartini.

Untuk menjawab kecurigaan ini tak mudah. Tapi menurut saya ada beberapa bukti yang merujuk pada keaslian surat-surat Kartini.

Pertama; detail surat Kartini. Kartini dalam surat-suratnya sangat detai menggambarkan keadaan hati dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Misalnya surat berikut ini. “Aku harus menurut suamiku itu; atau boleh juga ku tolak, tetapi laki-laki itu berhak merantaiku seumur hidup, tetapi tak usah mengindahkan hatiku. Bila bapak mengawinkan daku demikian, pastilah aku bunuh saja diri ku. Tetapi bapak tidak akan berbuat demikian,” tulis Kartini pada Stella pada 23 Agustus 1900.

Di surat itu bisa kita lihat, betapa Kartini sangat detail menggambarkan apa yang belum dan akan terjadi dalam hidupnya. Di beberapa surat bahkan menggambarkan kasih sayang sang ayah pada Kartini.

Selain itu ada pula suratnya yang menggambarkan detail isi dialog Kartini dengan sang ibunda. Di beberapa surat bisa kita temukan juga informasi dari Kartini yang menjelaskan detail adat istiadat Jawa, dan informasi lainnya yang rasa-rasanya mustahil orang Belanda bisa tahu; misalnya informasi detail tentang tuntunan agama Islam.

Di beberapa suratnya di tahun 1903 hingga 1904, Kartini cukup banyak menyampaikan tuntutan agama pada sahabat-sahabatnya. Ia pernah menulis tentang keutamaan sabar, puasa dan seorang hamba Tuhan yang akan diuji sesuai kemampuannya.

Selain detail isi surat Kartini, poin kedua ialah soal kronologi surat-surat Kartini. Di pertengahan tulisan ini, sudah saya jelaskan bahwa terjadi perubahan ideologi dan pemikiran dalam diri Kartini. Ini terjadi tak sekonyong-konyong. Ada proses, ada informasi kejadian, ada pertentangan psikis dalam surat Kartini.

Jika surat itu dibuat bukan oleh Kartini, mengapa surat itu tak dibuat dengan alur datar saja; tanpa proses perubahan ideologi dan tanpa pergolakan psikis? Saya pikir, ini salah satu hal yang menepis anggapan surat Kartini ditulis oleh J H Abendanon.

Poin ketiga yang dapat merujuk keaslian surat Kartini ialah sinisme Kartini pada bangsa Eropa. Tak mungkin rasanya petinggi Belanda merilis surat yang berisi sinisme kepada Eropa.

Kartini memang cukup kritis pada Eropa di masa-masa terakhir hidupnya. “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” tulis Kartini kepada nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902.

Isi surat tersebut jelas menyiratkan bahwa Kartini mengkritik keras bangsa Eropa. Dalam surat yang sama, ia bilang bahwa bangsa Eropa hanya mencari untung saja ketika memberi pertolongan pada pribumi. “Ada sekali dikatakan bapak kepadaku “Ni. Janganlah sangka, banyak orang Eropah yang sungguh-sungguh sayang kepadamu. Cuma satu dua org saja yang berhati demikian.” Kebanyakannya berbuat seolah-olah suka kepada kami, supaya dipandang orang atau karena mengingat untung labanya buat dia sendiri,” sambung Kartini pada nyonya Abendanon.

Apakah tiga hal ini terpikir oleh para kritikus yang meragukan keaslian surat Kartini? Lalu, apakah mereka sudah membaca tuntas dan mengkaji dalam surat-surat Kartini?

Perdebatan Kartini mungkin saja akan terus berlangsung. Tapi saya harap para feminis dan kritikus selayaknya bersikap adil pada Kartini. Dan, jangan sampai ketidaksukaan terhadap seseorang menghalangi kita untuk bersikap adil dengan mengerdilkan jasa-jasanya. Sekian. [Hendri Mahendra]


Editor : Salis Fahrudin


Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

2 thoughts on “Bersikap Adil pada Kartini

  1. Jika demikian, maka saya lihat Kartini tdk mempelajari Islam scr total, sehingga dia akhirnya melihat seolah-olah Islam sedmikian indahnya perlakuannya thd perempuan.

    Kartini tidak (atau belum ?) mempelajari bgm perempuan tdk bisa menikahkan dirinya sendiri, sbgm lelaki; bgm posisi perempuan dlm hukum waris; bgm posisi perempuan dalam memberikan kesaksian dlm pengadilan; bgm wajibnya perempuan utk tunduk thd suaminya sdgkan lelaki tidak demikian thd istrinya, dsb…

    Sehingga bagi saya Kartini bukanlah perempuan gagal, krn tidak ada standard bgm sehrusnya menjadi seorang perempuan. Namun saya katakan Kartini bukanlah seorang feminist. Itu saja.

  2. kesalahan bukan pada kartininya mas “penulis amatir” akan tetapi pada keistimewaan yang diberikan pemerintah indonesia padanya…

Leave a Reply