Bersikap Damai Sejak Dalam Pikiran

Saya gregetan. Tahun 2016 ini tampaknya hampir selalu dihiasi dengan pertikaian antar kelompok. Berdasarkan amatan saya, dari awal januari hingga 13 februari 2016 ada 5 kasus pertikaian antar kelompok yang terjadi. Perikaian antar kelompok itu terjadi di berbagai daerah di Indonesia; dari Medan hingga Maluku.

Pertikaian pertama terjadi di Maluku pada 10 Januari 2016. Antar kelompok pemuda kelurahan Toboko dan Kota Baru, Maluku Utara terlibat bentrok. Akibat peristiwa ini, 2 orang pemuda harus meregang nyawa.

Sembilan hari kemudian pertikaian kembali terjadi. Pertikaian kedua ini terjadi pada 19 Januari 2016. Kali ini korbannya eks pengikut Gafatar. Pemukiman mereka di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat dibakar oleh warga setempat, karena kelompok tersebut dianggap meresahkan warga. Tidak makan korban jiwa, tapi sekitar 700 jiwa eks anggota Gafatar harus kehilangan tempat tinggal mereka dan dipaksa pulang ke kampung asal mereka.

Pertikaian tak berhenti disitu saja. Pada 31 Januari 2016 bentrokan antar kelompok terjadi kembali. Kali ini kota Medan yang membara, akibat bentrok antara Pemuda Pancasila (PP) dengan Ikatan Pemuda Karya (IPK). Pertikaian ini makan korban 1 jiwa meninggal dunia, dan 5 orang luka-luka.

Tak cukup menunggu lama untuk tenang, negeri ini kembali dihiasi pertikaian. Kali keempat pertikaian kembali terjadi. Kali ini terjadi di Kabupaten Bandung Barat, antara kelompok ormas Menggala dengan ormas Pemuda Pancasila. Memang dalam peristiwa itu tak ada korban jiwa dan tak ada pula aksi bakar-bakaran, tapi bentrok terjadi karena masalah sepele. Yakni karena masalah aksi dorong dada yang dilakukan oleh anggota PP pada anggota ormas Menggala. Miris.

Tak kalah miris, pertikaian kembali terjadi. Kali kelima ini pertikaian terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Perkaranya cukup sepele. Warga dari desa Paga mencegat salah satu warga Wolowiro lalu minta rokok. Rokok diberi, tapi salah satu warga wolowiro malah dihajar hingga kritis. Korban lalu lapor pada orang tua dan warga desanya, akhirnya terjadilah bentrok antar dua desa tersebut.

Kalau mau dikalkulasi, mungkin setiap tahun terjadi ratusan kali bentrok dan pertikaian antar kelompok dan warga di negeri ini. Ini baru bicara wilayah Indonesia. Saya tak menjamin kalau bentrokan dan pertikaian jarang terjadi di belahan bumi lainnya. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan peradaban kita ini?

Kalau mau dirunut secara historis, peradaban kita (dunia) sangat banyak diwarnai dengan masalah sikap saling bertempur, membunuh dan menguasai. Sebut saja tragedi zaman kegelapan abad V di daratan Eropa, penjajahan, pendudukan, perang dunia I, disusul perang dunia II, sampai di Indonesia dengan tragedi pembunuhan warga PKI di Indonesia pada rentang tahun 1948, pembunuhan warga PKI pada tahun 1965-1968, tragedi Malari, tragedi pembakaran gereja, dan tragedi Poso.Tragedi-tragedi kemanusiaan berlanjut tidak hanya pada ranah bangsa dan Negara, tapi merasuk pula ke organisme terkecil dari struktur sosial kita, yakni keluarga. Contoh yang paling sederhana, dari kecil kita sudah diajarkan untuk bersikap membedakan etnik kita dengan etnik di luar diri kita. Padahal pada waktu merdekanya bangsa ini, kita bersumpah bertanah air satu, berbangsa satu dan bebahasa satu; Indonesia.

Sedari kecil kita sepertinya sudah terbiasa membedakan segala sesuatu; membedakan jenis kelamin kita dengan lawan jenis kita, membedakan usia kita, membedakan status sosial , membedakan etnis dan budaya, membedakan pola pikir, membedakan ideologi hingga membedakan gaya hidup kita dengan orang-orang di luar diri kita. Padahal sejatinya, kita dan manusia lainnya berasal dari jenis yang sama.

Kita memang berbeda satu dengan yang lainnya, tetapi bukan berarti kita ikut mengembangkan sikap membedakan. Seperti kata Gusdur, “tidak boleh ada pembedaan kepada setiap warga Negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan, serta ideologi.”

Menurut saya, janin dari perpecahan dan pertikaian dimulai saat kita bersikap membedakan diri kita dengan individu atau kelompok di luar diri kita. Ironisnya, sikap membedakan itu kemudian tumbuh dan berkembang ke arah fanatisme. Seperti fanatisme terhadap club sepak bola, fanatisme terhadap kelompok atau golongan, fanatisme terhadap idola dan lain sebagainya.

Efek sikap fanatisme ini tidak main-main. Antar kelompok atau golongan bisa bunuh-bunuhan. Sebut saja peristiwa akibat fanatisme club sepak bola. Pada tahun 1990-an stadion brawijaya dirusak oleh Aremania (sebutan untuk pendukung club Arema), karena kalah berlaga dari club sepak bola wamena.

Tidak terima stadion kebanggaan mereka dirusak, warga Kediri marah, dan mengepung dan mencegat pendukung Arema yang akan kembali ke Malang. Dari warga Kediri yang bercerita kepada saya, ada 4 orang meninggal dikeroyok karena merusak stadion sepak bola milik mereka.

Saya mencurigai sikap fanatisme ini pula yang melatarbelakangi sejarah pertempuran, perperangan, pembunuhan dan bentrokan-bentrokan yang mewarnai peradaban kita selama ini. Oleh karena itu, di media sosial saya cukup sering menyinggung hal ini. Di status BBM, Whatsapp dan Facebook saya pernah menulis status begini; Masalah peradaban adalah masalah psikologis. Di kesempatan lain saya menulis beda lagi; Berbeda, beda dengan sikap membedakan. Di lain status saya menulis lain lagi; Bersikap damai sejak dalam pikiran.

Selagi masih ada sikap fanatisme yang berlebihan, kita tidak akan mampu bersikap damai secara total. Ada kutipan yang menurut saya paling tepat menggambarkan keadaan fanatisme tersebut. Nietzsche, dalam bukunya Senjakala Berhala, menulis begini; Apa yang kurang dari orang-orang Jerman? Belajar melihat, membiasakan mata pada ketenangan, pada kesabaran, untuk membiarkan hal-hal datang kepadanya, untuk menunda penilaian. Belajar melihat secara seksama yang partikular untuk memahami dalam totalitasnya.

Kutipan Nietzsche tersebut menohok sikap kita yang tak mampu belajar melihat, tidak mampu belajar bersabar. Bersabar, menahan diri dari penilaian-penialian buruk kepada orang lain. Untuk belajar melihat hal-hal partikular (ras, etnik, agama, kelompok) dalam diri kita, dan memahami dalam totalitasnya bahwa kita, mahluk berakal ini memiliki kesamaan dengan mahluk berdaging dan berakal lainnya yakni manusia.

Saat ini dengan massifnya gerakan perdamaian dari kelompok-kelompok yang peduli pentingnya perdamaian (salah satunya gerakan Gusdurian), mungkin saja kita sudah sedikit mampu hidup berdampingan dan rukun dengan entitas yang ada diluar diri kita.

Namun, apakah sikap damai sudah ada sejak dalam pikiran kita? Apakah kita benar-benar telah mampu menerima entitas atau individu diluar diri sebagai saudara kita yang berasal dari jenis yang sama? Atau apakah kita hanya sedang berpartisipasi semu dalam kerukunan dan kedamaian seperti kata Masashi Kishimoto?

Masashi Kishimoto dalam komiknya menulis;kerjasama atau berdamai tidaklah berbeda dengan pertarungan yang sunyi. Saya mencoba membenarkan pernyataan Kishimoto tersebut. Kita dalamhidup ini, hidup berdampingan, tapi kita membedakan diri dengan orang diluar diri kita. Kita hidup damai bertetangga, tetapi secara sunyi kita “berperang” dengan individu di luar diri kita. Kita berdamai dan hidup berdampingan, tapi partisipasi kita di dalamnya bersifat semu.

Jika anda tidak percaya, survey saja berapa kali anda dalam sebulan memiliki prasangka yang buruk kepada tetangga anda. Tanya pada diri kita masing-masing, apakah kita benar-benar tulus menerima entitas diluar kita atau kita mengamini pernyataan Masashi Kishimoto?

Nasib peradaban, baik atau buruk, kelam atau terang, damai atau bertikai semuanyatergantung pada psikologis kita masing-masing. Dengan dorongan psikologis lah kita membuat peradaban, dan dengan dorongan itu pula kita menghancurkannya. Semoga dengan merubah sikap dan dorongan psikologis kita ke arah yang positif dan damai, kita dapat mewarisi peradaban yang lebih baikuntuk anak cucu kita di masa depan. Jadi, bersikap damailah sejak dalam pikiran.[]

Hendri Mahendra

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply