Ruang Pendidikan Sebagai Hak Asasi bukan Komoditi

Kampus adalah sebuah ruang atau tata kelola yang berfungsi sebagai sarana berinteraksi satu sama lain. Untuk mewujudkan fungsi tersebut, para mahasiswa seringkali mengadakan diskusi diskusi kecil di wilayah kampus. Tempat yang dapat mereka jangkau seperti di lorong-lorong kelas, dibawah pohon yang rindang ataupun di kantin dan gazebo menjadi pilihan mereka

Widji dan Elegi Kaum Buruh

juga ada neni kawan bariyah bekas buruh pabrik kaos kaki kini jadi buruh di pabrik lagi dia dipecat ya dia dipecat kesalahannya: karena menolak diperlakukan sewenang-wenang Membaca puisi Widji Thukul yang bejudul Satu Mimpi Satu Barisan seperti melihat realitas. Bagaimana tak berdayanya seorang buruh pabrik terhadap bos-bos mereka. Kisah Neni dalam puisi tersebut jelas-jelas terjadi di negeri

Mahasiswa dan Ruang Gerak Berekspresi

Mahasiswa adalah kaum intelektual yang sedang menempuh pendidikan baik di Universitas, Institut, maupun Sekolah Tinggi. Namun jika kita melihat sejarah Indonesia perubahan yang terjadi di Indonesia tidak lepas dari peran mahasiswa.  Mulai dari Perhimpoenan Indonesia di Belanda, yang didirikan pada 1922 oleh Mohammad Hatta, yang saat itu sedang belajar di

Para Pahlawan yang Kalah pada Harinya

Sepuluh November sebelumnya menjadi hari di mana bangsa Indonesia mengadakan nostalgia serentak. Hari di mana bangsa ini berilusi tentang keberanian para pahlawan yang diidolakan masing-masing daerah. Lagu Mengheningkan Cipta didendangkan di institusi-institusi pendidikan, di kelas-kelas kuliah, dan di setiap pojok kota ataupun desa. Namun, 10 November kali ini sedikit berbeda.

Para Pembangkang

Al-Qur’an melukiskan dengan getir itu semua: “(Ingatlah) ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkat gunung (Thursina) di atas kamu (seraya kami berfirman): Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepada kamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah: 63) Surat itu tidak saya kutip dari