Pakde Pakde Parlente

Ini kisah tentangmu, Bapak-Bapak Lelaki yang Bersahaja, yang berada di puncak pimpinan kuasa Kau Bapak yang Sejahtera, yang menyejahterakan kami dengan sederhana, jika saja kami marah, mungkin tak ada lagi nama Republik Negara Kau Bapak idola, jika saja kau jatuh cinta, Rakyat siap menghujatnya, kami Rakyat siap menjadi tameng bagi segala cela,

Politik Dagelan

Di sebuah gubuk kecil Perbincangan ringan terjadi Ocehan si emak tak henti-henti Terdiam aku mendengarnya Tercekat menelaah ocehannya Katanya manusia itu memang serakah Doyan duwit, lahan, dan jabatan   Ini loh nduk  zaman edan Orang-orang jadi tak terkendali Karna pemelihan ajang bergengsi Berbagai golongan mengatur strategi Memilih anggota yang katanya kompeten Agar tumbuhnya sebuah perubahan Tapi nyatanya hanyalah bayang-bayang Yang benar hanya guna menunjang akreditasi

KAMPUS RUBAH

Apabilah wajah sudah digandakan Dua bibir dijual-belikan Melas jadi rayuan Rupawan jadi bohongan Rubah jadi teladan Inilah pemuda haha hihi Merdeka atau mati Kata Soekarno “banyak setan di Bumi” Kata Tan Malaka “Jancok” Kata Sujiwo Tedjo “Tindaslah, maka aku bebas” Kataku “ Jangan percaya selogan itu, semua karanganku bukan dari si empu” Biar rubah berbohong Dia sedang mengamalkan ilmunya Itu yang diajarkan Pembohong akan dibohong Bukankah

Tanah Apa Tanah Siapa

Langit tak lagi menawan bak kemarin, kini muram karena senja penuh elegi Angin pun tak lagi bertiup membawa damai, Mereka bertanya, kemana pohon-pohon hijau yang menari bersama angin di panggung agraris   Mana lawan mana kawan Orang bilang mereka aparat, tapi lagaknya keparat Orang bilang mereka pejabat, tapi hobinya menindas rakyat Orang bilang mereka berilmu, ternyata itu bukan

Aku Bukan Aku

“Pernahkah kamu berpikir, menjadi dalang ditengah-tengah ketakutan, darah-darah, kegelisahan dan ribuan ledakan senapan yang begitu dahsyat?” Hari itu pukul delapan dini hari, langit masih saja seperti pukul tiga pagi. Suram, sunyi, dan matahari enggan mempersilahkan sinarnya untukku. Bangkit dari hibernasi yang entah kapan aku memulainya, aku linglung memikirkan sesuatu yang tidak

Revolusi Ilusi

Ilustrasi: Nur Misbakhus Sholeh   Sodara-sodara! Kawan-kawan ! Sahabat-sahabati ! dan apalagi namanya sekalian   Lupakanlah nomor satu Lupakanlah nomor dua Saatnya kita jadi satu Indonesia fatamorgana   Mari kita bersama-sama melakukan revolusi mental dari mental-mental tahu tempe Menuju mental burger, bistik, dan daging iga   Ubah itu ladang, dan sawah-sawah Kita tak lagi butuh makan nasi Makan saja potongan besi   Ayam, sapi, dan ternak lainnya Silakan gembalakan di lapangan

Raksasa Itu Kusebut Negara

aku mengenal seorang raksasa dengan kaki tangan yang amat besar matanya selalu memelototi yang bernama keadilan seolah ia tak mau itu ada tangannya memegang rantai yang terikat di leher manusia di bawah kakinya kakinya yang megah terangkat satu sebagai ancaman bagi mereka yang tak mau diam siap menginjak dan menyepak giginya yang bertaringkan emas hasil dari keringat manusia yang dipaksa