Politik Dagelan

Di sebuah gubuk kecil Perbincangan ringan terjadi Ocehan si emak tak henti-henti Terdiam aku mendengarnya Tercekat menelaah ocehannya Katanya manusia itu memang serakah Doyan duwit, lahan, dan jabatan   Ini loh nduk  zaman edan Orang-orang jadi tak terkendali Karna pemelihan ajang bergengsi Berbagai golongan mengatur strategi Memilih anggota yang katanya kompeten Agar tumbuhnya sebuah perubahan…

KAMPUS RUBAH

Apabilah wajah sudah digandakan Dua bibir dijual-belikan Melas jadi rayuan Rupawan jadi bohongan Rubah jadi teladan Inilah pemuda haha hihi Merdeka atau mati Kata Soekarno “banyak setan di Bumi” Kata Tan Malaka “Jancok” Kata Sujiwo Tedjo “Tindaslah, maka aku bebas” Kataku “ Jangan percaya selogan itu, semua karanganku bukan dari si empu” Biar rubah berbohong…

Tanah Apa Tanah Siapa

Langit tak lagi menawan bak kemarin, kini muram karena senja penuh elegi Angin pun tak lagi bertiup membawa damai, Mereka bertanya, kemana pohon-pohon hijau yang menari bersama angin di panggung agraris   Mana lawan mana kawan Orang bilang mereka aparat, tapi lagaknya keparat Orang bilang mereka pejabat, tapi hobinya menindas rakyat Orang bilang mereka berilmu,…

Aku Bukan Aku

“Pernahkah kamu berpikir, menjadi dalang ditengah-tengah ketakutan, darah-darah, kegelisahan dan ribuan ledakan senapan yang begitu dahsyat?” Hari itu pukul delapan dini hari, langit masih saja seperti pukul tiga pagi. Suram, sunyi, dan matahari enggan mempersilahkan sinarnya untukku. Bangkit dari hibernasi yang entah kapan aku memulainya, aku linglung memikirkan sesuatu yang tidak penting. “Kok masih gelap…

Revolusi Ilusi

Ilustrasi: Nur Misbakhus Sholeh   Sodara-sodara! Kawan-kawan ! Sahabat-sahabati ! dan apalagi namanya sekalian   Lupakanlah nomor satu Lupakanlah nomor dua Saatnya kita jadi satu Indonesia fatamorgana   Mari kita bersama-sama melakukan revolusi mental dari mental-mental tahu tempe Menuju mental burger, bistik, dan daging iga   Ubah itu ladang, dan sawah-sawah Kita tak lagi butuh…

Raksasa Itu Kusebut Negara

aku mengenal seorang raksasa dengan kaki tangan yang amat besar matanya selalu memelototi yang bernama keadilan seolah ia tak mau itu ada tangannya memegang rantai yang terikat di leher manusia di bawah kakinya kakinya yang megah terangkat satu sebagai ancaman bagi mereka yang tak mau diam siap menginjak dan menyepak giginya yang bertaringkan emas hasil…

Suara Serak dari yang Tertindas

Yang Mulia dan Yang Agung Kemarahan kami tak lagi bisa kami bendung Kau cekik kami dengan regulasimu dengan program-programmu yang tak bermutu   Kau ajarkan kami bahasa import Bahasa yang kau sebut dari surga Kau naikkan harga tiket masuk Kau bandingkan kami dengan logika pasar   Tapi kau lupa kami belum butuh itu Surga kami…