Dealova Rakyat Metafora

Saat kubalut lukamu Ku tak kuasa Menahan perihnya derita Melobi negeri untuk kita tempati Menyanyikan yel-yel pergerakan untuk kita memendam kebengisan dan wajah teduh yang kau simpan Kini pudar mencari kebenaran Saat kubalut lukamu Tak dapat aku menahan pedihnya Melihatmu bebas di tanah merdeka Asyik bermanja-manja Dan kini gugur tulang belulang dimakan anjing Sampai tiba…

Menangis Petang

Kulihat wajah-wajah kecewa itu Pada ia sang laksamana begitu juga calon-calonnya Yang seharusnya menjaga tapi malah mengudara Sakit di mana-mana dan juga hati pula Mulut dibungkam hati disayat Tangan diborgol mata ditutup Jam per jam jam fikiran dijejali kata ‘seharusnya sesal’ katanya Tapi kebenaran tetap menang Belasan warga ditangkap dan disekap Tangis pecah keluarga Kebenaran…

Pakde Pakde Parlente

Ini kisah tentangmu, Bapak-Bapak Lelaki yang Bersahaja, yang berada di puncak pimpinan kuasa Kau Bapak yang Sejahtera, yang menyejahterakan kami dengan sederhana, jika saja kami marah, mungkin tak ada lagi nama Republik Negara Kau Bapak idola, jika saja kau jatuh cinta, Rakyat siap menghujatnya, kami Rakyat siap menjadi tameng bagi segala cela, untuk dilempar jauh…

Politik Dagelan

Di sebuah gubuk kecil Perbincangan ringan terjadi Ocehan si emak tak henti-henti Terdiam aku mendengarnya Tercekat menelaah ocehannya Katanya manusia itu memang serakah Doyan duwit, lahan, dan jabatan   Ini loh nduk  zaman edan Orang-orang jadi tak terkendali Karna pemelihan ajang bergengsi Berbagai golongan mengatur strategi Memilih anggota yang katanya kompeten Agar tumbuhnya sebuah perubahan…

KAMPUS RUBAH

Apabilah wajah sudah digandakan Dua bibir dijual-belikan Melas jadi rayuan Rupawan jadi bohongan Rubah jadi teladan Inilah pemuda haha hihi Merdeka atau mati Kata Soekarno “banyak setan di Bumi” Kata Tan Malaka “Jancok” Kata Sujiwo Tedjo “Tindaslah, maka aku bebas” Kataku “ Jangan percaya selogan itu, semua karanganku bukan dari si empu” Biar rubah berbohong…

Tanah Apa Tanah Siapa

Langit tak lagi menawan bak kemarin, kini muram karena senja penuh elegi Angin pun tak lagi bertiup membawa damai, Mereka bertanya, kemana pohon-pohon hijau yang menari bersama angin di panggung agraris   Mana lawan mana kawan Orang bilang mereka aparat, tapi lagaknya keparat Orang bilang mereka pejabat, tapi hobinya menindas rakyat Orang bilang mereka berilmu,…

Revolusi Ilusi

Ilustrasi: Nur Misbakhus Sholeh   Sodara-sodara! Kawan-kawan ! Sahabat-sahabati ! dan apalagi namanya sekalian   Lupakanlah nomor satu Lupakanlah nomor dua Saatnya kita jadi satu Indonesia fatamorgana   Mari kita bersama-sama melakukan revolusi mental dari mental-mental tahu tempe Menuju mental burger, bistik, dan daging iga   Ubah itu ladang, dan sawah-sawah Kita tak lagi butuh…