Puisi-puisi Edel; Edelweiss Kering di dalam Vas Kaca

Edelweiss tercerabut, hanya seikat angin angin gunung menjadi semrawut lebah-lebah kalang kabut pikirku berserabut, sembunyi lari dari prajurit Istana Putri Edelweiss tinggal Kuantar dirimu yang mengering ke rumah, pulang kembali pada hunian kecil di kaki Semeru abadi di ruang tamu, di atasnya tergantung kandil emas warisan omah. Edelweiss kering di dalam vas kaca, biarlah debu menumpuk, bagai selimut salju di puncak Titlis di kelopakmu kala

Puisi-puisi Salma; Terusir dari Tanah Sendiri, Dara

Terusir dari Tanah Sendiri Musik perkawinan dilantunkan dengan mesra dengan riuh bisingnya suara orang yang berbahagia tertawa Bersatu jadi lebih utuh dengan terihat duduk di singgasananya Sedangkan aku? Aku asik bermain dengan sepi Menjadi pendengar mereka yang berbicara lirih Mengusut semua yang terjadi pada ibu pertiwi Ini bukan duka ataupun lara Bukan pula senang atau bahagia Ini iba Cerita-cerita tentang kejayaan kerajaan

Puisi-Puisi Husni; Bubur Kayu, Itulah Aku

Api yang Terbakar   Ku tatap sekelilingku Ku tak melihat yang ditangkap mataku Namun ku melihat tatapan kosong para jelata Ditindas ¬†mata pongah tikus berdasi Sungai kecil tak sadar menganak air di sudut mataku Qalbuku berkecamuk Diantara marah dan sedih Antara benci dan cinta Api menyala di jiwaku Membara terbakar oleh ulah naga nusantara Para penguasa negara tanpa rasa Membunuh halus orang yang

Sajak-sajak Suara Momoy; Instalasi Gawat Demokrasi

Peristiwa di Balik Bilik kotak hanyalah kotak yang tak bisa bersuara, apalagi membawa kabar gembira yang terdengar isinya macam-macam membawa perubahan dari zaman ke zaman kotak hanyalah kotak yang tak bisa mengkotak-kotakan kotak celengan, penyimpan recehan, pula pemborosan anggaran label pemilihan cap gagang persegi pilihan bulat tidak botak demokrasi janji dan kotak tak bisa berpisah lagi eksistensi, unjuk gigi sudah

Kata- Kata

Aku adalah pendusta terhebat Aku menciptakan kebohongan-kebohongan Dan dengan masifnya dipercaya begitu saja Hingga fakta menjadi bual tak bermakna   Aku adalah juru kampanye paling ulung Aku menebar janji dan dalil Dan rakyat¬† mengerubutinya di TPS-TPS Hingga calon yang ku usung melelangnya   Aku adalah penulis berita tersahih Aku ahlinya menulis hoax dan fitnah Dan jubah umat pun menjadi gerah Hingga realita hanya

Darah Merah Putih Bangsa

Tanah syurga dunia memuji Negeri yang kaya penjuru iri Merdeka di kaki sendiri Tekad pendiri negeri Nusantara terpongah dengan harta melimpah Menengadah dengan perhiasan nan indah Ibu pertiwi??? Usia renta tak serta mendewasa Tua haus tahta, muda candu ganja Daratan metropolitan sarang PSK Desa suburkan penguasa yang congkel perut jelata Hasrat membabi buta Tunas bangsa mengurcaci Darah muda untuk mengabdi mantapkan jati diri Berubah

Politik Dagelan

Di sebuah gubuk kecil Perbincangan ringan terjadi Ocehan si emak tak henti-henti Terdiam aku mendengarnya Tercekat menelaah ocehannya Katanya manusia itu memang serakah Doyan duwit, lahan, dan jabatan Ini loh nduk zaman edan Orang-orang jadi tak terkendali Karna pemilihan ajang bergengsi Berbagai golongan mengatur strategi Memilih anggota yang katanya kompeten Agar tumbuhnya sebuah perubahan Tapi nyatanya hanyalah bayang-bayang Yang benar hanya guna menunjang akreditasi