China Adalah Kita

Sekarang ini, saya agak malas membuat tulisan yang berkaitan langsung dengan politik. Bagi saya, peristiwa politik saat ini seperti bukit yang diselimuti halimun (kabut) dipagi hari. Kita tak bisa melihat jelas bukitnya sebelum halimunnya hilang. Kita tak bisa naif menunjukan keberpihakan kita sebelum semua kebobrokannya mencuat ke publik.

Begitu juga dengan gonjang-ganjing politik di DKI Jakarta saat ini. Kita tak bisa langsung tunjuk hidung; ini pahlawannya, itu penjahatnya! Kita tak bisa langsung menilai. Ahok kah pahlawannya, atau kelompok anti Ahok lah pahlawan yang sebenarnya?

Kita tak tahu secara utuh. Biarkan dulu kedua belah pihak menunjukan kebobrokannya masing-masing. Kita tunda dulu emosi, persepsi, penilaian dan dukungan kita atas manuver politik mereka.

Tapi, walaupun politik susah ditebak, kita patut geram dengan kelompok tertentu yang memanfaatkan isu rasial dan agama dalam melancarkan manuver politiknya. Rasial dan Agama bukanlah barang murahan yang dengan seenaknya didengung-dengungkan di atmosfir politik. Rasial dan Agama lebih suci dan agung ketimbang politik yang selalu saja berkubang dalam lumpur yang kotor. Nah, dua isu inilah yang terus menerus didengungkan-dengungkan, dihembus-hembuskan, dan dikoar-koarkan dalam perpolitikan DKI Jakarta saat ini.

Misalnya saja manuver politik yang dilancarkan oleh kelompok anti Ahok pada 20 Mei 2016 lalu. Tuntutan mereka sih tak ada hubungannya dengan rasial. Tapi kecaman terhadap etnis Ahok diikutsertakan. “Ahok China! Jangan mau dikibulin China,” teriak salah satu orator demo.

Jauh sebelum demo itu, kecaman terhadap etnis Ahok kerap ditujukan. “Ahok @basuki_btp itu BUKAN Negara. Dia pendatang di Negaraku, dan tidak tahu diri pula,” tulis Ratna Sarumpaet, aktivis HAM sekaligus sutradara, di twitter 12 Mei 2016 lalu. Pendatang yang dimaksudkan oleh Ratna mengacu pada etnis tionghoa Ahok.

Tak hanya sekali. Ia juga meretweet kalimat rasial dari akun @HalimTeuku. “Indonesia bisa maju berdiri sendiri tanpa China. Ayoo Bangkit Pribumi.Indonesia.! BUKTIKAN SEKARANG..! #LengserkanJokowiTangkapAhok”

Selain Ratna, ada pula pentolan Front Pembela Islam (FPI) yang sering mengecam etnis Ahok. “Kalau Ahok sudah mulai pakai JURUS CINA MABOK, kita wajib pakai JURUS KEMPLANG BABI !!!” kata Habib Muhammad Rizieq, ketua umum FPI.

Selain Ratna dan Rizieq, netizen yang mengaku pribumi pun ikut-ikutan mengecam etnis Ahok. “@AlladinRoss: Usir China kafir dari NKRI. Negara ini milik pribumi. China kafir hanya penumpang yg tak tahu diri. Penjarakan Ahok, Si China kafir,” tulis akun @ErnitaMpd di twitter.

Dari kalimat-kalimat kebencian itu, para pembenci etnis Ahok itu memposisikan diri sebagai pribumi, dan Ahok adalah non pribumi. Tapi, kalau ditanyakan apa standarnya seseorang disebut pribumi, mereka sepertinya bakal kelimpungan menjawab. Ratna Sarumpaet dan Habib Muhammad Rizieq keturunan Arab, apakah mereka pribumi?

Baik kelompok pendemo, Ratna Sarumpaet, Habib Muhammad Rizieq dan netizen pembenci etnis Ahok sepertinya hanya melihat etnis China (tionghoa) dari fisiknya saja, bukan dari sejarah Indonesia. Mereka hanya melihat gambaran mata sipit, kulit putih dan rambut lurus etnis china, bukan dari apa yang sudah dilakukan etnis China. Mereka hanya melihat permukaan tanpa menyentuh kedalaman.

Kita tak tahu, China seperti apakah yang dimaksudkan oleh para pendemo, Ratna, Rizieq, dan netizen itu? Apakah China yang dimaksud adalah seperti Lei Jun si CEO Xiaomi, inc? Atau China yang dimaksudkan adalah seperti Chinanya Didik Nini Towok dan Gusdur? Mereka pun sepertinya bingung, ketika pertanyaan ini diajukan pada mereka.

Asal tahu saja. Menyebut China hanya dari mata sipit, kulit putih dan rambut lurus adalah kenaifan. Menyebut China dengan nada sumbang stigma, lalu membedakan diri dari mereka suatu kecelakaan.

Coba perhatikan raut wajah kita masing-masing. Perhatikan pula ciri fisik ayah, Ibu, paman, nenek, kakek dan sepupu kita. Jangan-jangan kita atau salah satu dari keluarga kita China? Karena memiliki ciri fisik yang mirip dengan etnis China.

Terus terang paman dan beberapa sepupu saya memiliki ciri fisik seperti etnis china. Mata sipit. Kulit putih. Apakah nenek moyang saya China? Tak lucu sebenarnya bagi saya yang beretnis Minang Sumatera Barat, berasumsi seperti itu. Karena sebagian besar etnis Minang pun tak terlalu suka dengan etnis China.

Tapi mengapa etnis Dayak Kalimantan, etnis melayu Palembang, Jambi, Lampung, dan warga Manado memiliki ciri fisik seperti China? Saya punya sedikit pencerahan.

Berdasarkan amatan saya, ada 3 jenis sebutan China di Indonesia. Pertama; China Original. Kedua; China Tionghoa Indonesia. Ketiga; China etnis non Tionghoa.

China Original adalah warga negara China yang berada di negaranya atau tinggal sementara di Indonesia untuk suatu waktu. Misalnya saja Lei Jun, CEO Xiaomi, inc pemilik perusahaan smartphone Xiaomi dan pekerja-pekerja negeri Tiongkok yang didatangkan oleh pemerintah ke Indonesia. Lei Jun dan pekerja China tadi asli China. Tinggal di China. Dan tak punya KTP Indonesia.

Sedangkan China Tionghoa Indonesia adalah warga Indonesia yang lahir, tumbuh besar, sekolah, berkarir dan mati di Indonesia. Mereka punya KTP Indonesia, masih menjaga tradisi Tionghoanya dan tak akan pulang ke negeri China. Walaupun saat lebaran tiba. Apa anda pernah dengar etnis Tionghoa Indonesia berbondong-bondong antri tiket pesawat saat lebaran tiba?

Ahok, Sandra Dewi, Rio Haryanto, Didik Nini Towok, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti dan Mey Chan adalah beberapa contoh warga China Tionghoa Indonesia. Hidup dan mati mereka di Indonesia. Bahkan pengabdian, keringat, dan tenaga mereka untuk Indonesia.

Tak hanya mereka. Para pendahulu mereka juga banyak yang mengabdi untuk Indonesia. Sebut saja Oei Tjoe Tat, Ong Hok Kam, Soe Hok Gie, dan pahlawan Nasional kita Laksamana MudaTNI John LieTjeng Tjoan. Bahkan, menurut Pramudya Ananta Toer, warga China Tionghoa Indonesia ini banyak yang berjuang bersama-sama dengan Soekarno di PNI untuk merebut kemerdekaan.

Baik Ahok maupun pendahulunya yang mengabdi untuk Indonesia sejatinya adalah pribumi. Mereka ini bukan orang asing seperti penilaian para pendemo Ahok, Ratna dan Habib Muhammad Rizieq. Mereka-mereka ini warga Indonesia. Sama seperti kita. Beda tipis mereka dengan kita ialah hanya masalah etnis dan tradisi China yang masih mereka jaga.

Yang terakhir ialah China etnis non Tionghoa. Sebutan untuk jenis China ini mengacu pada warga Indonesia yang lahir, tumbuh besar, sekolah, berkarir dan mati di Indonesia.  Ber-KTP Indonesia, dan beretnis non Tionghoa. Etnis mereka bisa Jawa, Minang, Sunda, Bugis, Batak, Melayu dan lain sebagainya.

Beda tipis China etnis non Tionghoa ini dengan Chinanya Ahok, Rio Haryanto, Sandra Dewi, Didik Nini Towok, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti dan Mey Chan hanyalah pada tradisi saja. Jika Ahok dan China Tionghoa Indonesia hidup dengan tradisi Tionghoa, sedangkan China Etnis non Tionghoa ini hidup dengan tradisi Jawa, Minang, Sunda, Bugis, Batak, Melayu dan lain sebagainya.

Ciri fisik China etnis non Tionghoa ini mirip dengan ciri fisik China Tionghoa Indonesia. Coba anda perhatikan deh ciri fisik warga Manado, Palembang, Jambi, Lampung, dan etnis Dayak Kalimantan. Ciri fisik mereka mirip dengan kebanyakan warga China Tionghoa Indonesia. Mata cenderung sipit. Kulit putih. Rambut lurus.

Setahu saya, nenek moyang etnis melayu Palembang dan etnis Dayak Kalimantan ialah orang China. Etnis melayu Palembang yang bermata cenderung sipit dan berkulit putih didapat dari nenek moyang mereka yang diperkirakan bangsa China. Menurut cerita rakyat Palembang, pada kerajaan Sriwijaya ada seorang pangeran dari bangsa China bernama Tan Bun An datang ke kerajaan Sriwijaya lalu menikahi putri kerajaan Sriwijaya, Siti Fatimah. Setelah menikah Tan Bun An memboyong istrinya ke negeri China. Tak lama tinggal di negeri China, mereka lalu kembali ke tanah Sriwijaya. Cerita tentang cinta sejati Tan Bun An dan Siti Fatimah ini bisa kita lihat di pagoda pulau Kemaro sungai Musi di Palembang.

Saya tak tahu apakah cerita ini benar atau tidak. Yang jelas ciri fisik kebanyakan warga etnis Melayu Palembang sangat mirip dengan bangsa China. Dari cerita rakyat dan ciri fisiknya, sepertinya dapat dipastikan nenek moyang etnis melayu Palembang adalah bangsa China.

Selain etnis Melayu Palembang, ada pula etnis Dayak Kalimantan yang memiliki ciri fisik yang sama dengan bangsa China. Dari mana etnis Dayak ini mendapatkan ciri fisik tersebut?

Pada tahun 1750, Sultan Mempawah di Kalimantan menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci. Mereka tak hanya berdagang, tapi juga tinggal di Kalimantan.

Dari sanalah akhirnya terjadi asimilasi. Diperkirakan banyak dari warga bangsa China tersebut yang menikah dengan warga etnis Dayak. Makanya tak heran, jika beberapa penelitian menyatakan bahwa nenek moyang beberapa rumpun Dayak berasal adalah bangsa China.

Tak hanya warga etnis Dayak Kalimantan dan etnis Melayu Palembang yang memiliki ciri fisik seperti bangsa China. Etnis melayu Jambi, Lampung dan warga Manado juga memiliki ciri fisik seperti bangsa China. Saya belum tahu pasti siapa nenek moyang etnis-etnis tersebut. Tapi dari ciri fisik mereka, dapat diperkirakan nenek moyang mereka adalah China.

Nah, jika nenek moyang warga Manado, Palembang, Jambi, Lampung dan Dayak Kalimantan adalah bangsa China, bisakah kita sepakat dengan para pendemo Ahok, Ratna Sarumpaet dan Habib Muhammad Rizieq, lalu menyebut kelompok etnis tersebut sebagai orang asing? Saya sih tak pernah dengar ada stigma “China” atas kelompok etnis tersebut. Mereka sudah dengan sendirinya disebut sebagai warga pribumi, walau ciri fisiknya mirip ciri fisik Ahok dan Rio Haryanto.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita semua berdiri di depan cermin. Perhatikan wajah kita dalam-dalam. Perhatikan detail ciri fisik kita. Jangan-jangan kita China??[]

Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

Leave a Reply