Clarissa dan Kisah Pembunuh dari Gang Buntu

Kasus Pembunuhan John Sallamander yang merupakan ahli waris sah dari Keluarga John, pemilik perusahaan kilang minyak terbesar Jakarta pada tanggal 1 Januari lalu telah menemukan titik terang setelah mayat diotopsi 3 minggu . Sabtu 22 Januari 2022, seorang perempuan berambut merah panjang bernama Diana mengakui bahwa ialah pelakunya. Diana mengakui perbuatannya setelah dua jam setelah prosesi pemakaman usai. Polda Metro Jaya, tanpa melakukan penyelidikan lagi dengan segera memasukkan Diana ke dalam sel. Menurut Briptu Sandi, tanpa perlu penelitian lebih lanjut Diana sudah mengakui dan akan segera dimasukkan ke dalam sel. “Pelakunya sudah kami ketahui, setelah kami masukkan ia ke dalam sel, kami segera menutup kasus ini” Tegas Briptu Sandi dalam Konferensi Pers di hari Minggu bersama Kompas TV.


Demikian ia melakukan kegiatan kesehariannya. Sebagai Jurnalis media independen Jakarta Post, Clarissa dituntut agar selalu meningkatkan kualitas empatinya agar semakin licin dalam melihat fenomena sosial. Demikian cara Clarissa meningkatkannya : Bangun pagi, membuat secangkir teh hijau kesukaannya, dan menyalakan TV. Ia meyakini, jika Ia konsisten melakukan rutinitasnya, dengan sendirinya tuntutan tiga hari per berita yang harus ia berikan kepada Redaktur akan semakin cepat. Lebih-lebih jika ia berhasil mengambil berita skala nasional.

Sudah dua minggu ini ia terlambat menyetor berita. Padahal mulanya Clarissa tak pernah seterlambat ini. Bila Jurnalis lain bisa menghasilkan 21-24 berita per minggu, Clarissa bisa melebihi itu. Bulan lalu, tepat pada akhir tahun 2021, Clarissa bahkan mencapai puncak rekor yang tak pernah dipecahkan oleh Jurnalis lain. Dalam sebulan Clarissa berhasil menghasilkan 50 berita dalam satu bulan. 30 berita pendek, 10 berita mendalam dan 10 lainnya Feature. Sayang awal tahun 2022, Clarissa membuka rekor buruk. Ia hanya dapat menghasilkan 10 berita dalam dua minggu terakhir. “Persentase produktivitas anda menurun sebesar 10% Clarissa, apa yang anda pikirkan? Sungguh buruk” Ujar Redakturnya saat bertemu dalam rapat redaksi Mingguan.

Clarissa tidak hirau atau khawatir akan kritik dari redakturnya. Toh, ia sudah berhasil memecahkan rekor tertinggi sepanjang pengalaman ia bekerja di media itu. Bahkan sampai saat ini belum ada yang berhasil melampaui rekornya. Begitulah Clarissa, para rekan medianya mengenal dia sebagai seorang yang ambisius: Semangat berkarya, totalitas dan pintar mengambil celah angle berita. Namun sayang, kerap para rekan kerjanya tak pernah mengetahui rencana yang akan ia lakukan. Ia selalu mandiri.

Ya, Minggu ini seluruh rekan kerjanya dibuat kaget. Bagaimana mungkin seorang Jurnalis produktif dengan predikat Jurnalis terbaik dapat begitu stagnan di awal tahun, padahal biasanya para Jurnalis kembali memulai semangatnya di awal tahun. “Pasti ada yang janggal” Duga Rezky, salah seorang editor Clarissa.

Minggu ini Clarissa banyak bertaruh. Sejak kasus kematian John Sallamander pada awal Januari lalu, Clarissa banyak bertaruh bahwa ia harus turut andil dalam kasus ini. Baginya, kematian “Raja Minyak Jakarta” ini tidak mungkin sebuah kebetulan. Sejak jasadnya ditemui dengan banyak bekas tusukan di leher, ia meyakini bahwa pembunuhan ini merupakan pembunuhan berencana. Ia menganggap ini bukan pembunuhan umum seperti yang terjadi pada banyak kasus rumah tangga yang saling tusuk akibat perselingkuhan, kecemburuan yang tak tertampung dan atau seperti kasus seorang suami yang tak bisa menafkahi keluarganya. Meskipun kematian itu terjadi di gang yang berada di sekitar rumahnya.

1 Januari 2022

Di dalam indekos kecil yang terletak di Gg. Palm 9, Clarissa keluar dari kamarnya. Hari ini ia berencana menuju Jl. Palmerah Utara 3 yang terletak 56 KM selatan kamarnya. Menurut desas-desus warga sekitar kosnya, ia mendapatkan informasi bahwa di sana terdapat dua pasang keluarga yang mati akibat Covid 19. Menurut desas-desus itu juga, Clarissa mendapat informasi bahwa dugaan itu hanya akal-akalan rumah sakit agar mendapatkan intensif bantuan lebih dari Menteri Kesehatan. “Biasa, orang rumah sakit kalo mau ngambil keuntungan suka gila, yang miskin berobat dianggap covid akhirnya segala daftar bayaran ditambahin. Gila bu. Kemarin malam tahun baru ada dua keluarga yang meninggal, pas udah dibawa ke rumah sakit dianggep covid. Udeh tuh sekeluarga meninggal, ya kita yang miskin bisa apa” Demikian desas-desus tetangga kos Clarissa beredar.

Setelah mengulik lebih jauh informasi itu melalui tetangganya. Clarissa segera berencana memutuskan berangkat mencari data perihal informasi yang ia terima. Dengan sepasang sepatu Converse putih mengkilat, baju adidas dan levis biru muda, ia berangkat menuju lokasi. Casual, seperti gaya hidup masyarakat urban kelas menengah sedikit ke bawah Jakarta, gaya hidup pas-pasan.

Sampai di lokasi, Clarissa menemui penggali kubur yang tempo hari mengubur dua keluarga tadi. Herman namanya. Ia adalah penggali kubur tulen, seperti seorang pekerja profesional lainnya. Herman telah lama menggeluti pekerjaan ini selama 20 tahun. Kini di usianya yang sudah menginjak 50 tahun, ia baru mendapati jumlah mayat yang harus ia kubur perhari 50-100 mayat. Herman yang sedang duduk di bawah pohon beringin, di atas amben tampak lelah dengan kucuran keringat yang hampir membasahi seluruh bajunya. Ia seperti baru diguyur hujan deras berhari-hari. Clarissa menghampirinya.

“Permisi pak, apa benar bapak yang tempo hari lalu menguburkan dua keluarga yang baru saja meninggal akibat Covid?” Tanya Clarissa sambil membungkuk.

“Iya benar neng, ada perlu apa ya?: tanya Herman heran.

“Ini pak, saya mohon izin perkenalan. Saya Clarissa, Jurnalis Jakarta Post. Saya mohon izin bertanya apakah diizinkan?” Jelas Clarissa.

“Iya silahkan neng”

“Kalau boleh tahu, kemarin yang hadir di pemakaman siapa aja ya pak?”

“Oh kalau kemarin dua keluarga neng, jadi banyak banget, ya satu keluarga bawa 10-15 orang ke pemakaman. Jadi kalo itungan keluarganya yang sampai 30 orang lah. Belum lagi dari tenaga Kesehatan yang bawa mobil ambulan, itu kayaknya ada 5 orang lah neng. Oh ya, kemarin juga ada tambahan sih, kalo gak salah dari Politeknik Jakarta, katanya mereka sekalian bantu neliti kebenaran kematian itu. Kan belakangan banyak yang aneh neng semenjak Covid, kadang kita bingung membenarkan apa yang meninggal itu bener covid apa enggak. Ya saya juga bukan orang berpendidikan neng, jadi gak tau apa-apa,” cerita Herman panjang, jauh melebihi perkiraan pertanyaan Clarissa.

“Oh ya pak, kalo emang bener kemarin juga hadir orang Politeknik Jakarta, mereka ngapain aja ya pak lebih jelasnya?” Tanya Clarissa penasaran

“Itu neng, mereka neliti, gatau neng bawa peralatan medis gitu. Kemaren soalnya sempet ada keributan di sini. Dua pihak keluarga yang meninggal itu katanya ga terima kalo keluarganya di bilang covid. Nah, akhirnya ada orang Poltek itu yang inisiatif bantu mereka. Akhirnya mereka yang meredakan pertengkaran itu, mereka bilang memang dua keluarga itu meninggal akibat covid,” jelas Herman secara mendetail.

Clarissa lesu, data awalnya telah patah. Padahal untuk sampai ke pemakaman itu ia membutuhkan biaya sebesar 30 ribu untuk menyewa Grab Car. Tetapi bagaimanapun Clarissa tidak hanya pernah mengalaminya sekali. Pernah suatu waktu ia harus pergi ke pulau Seribu meliput kapal tenggelam yang diduga akibat Nahkoda yang mabuk ternyata isu itu patah akibat klarifikasi dari PT. Pelni yang mengaku bahwa kapal itu adalah kapal tua. Rentan karam. Dengan wajah kisut sedikit putus asa ia pamit ke Herman, “baik pak terima kasih atas infonya” ujar Clarissa lemas.

Clarissa pergi pelan-pelan dari pemakaman, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah kedai kopi yang berjarak 600 M dari pemakaman. Ia duduk di depan teras kedai, sambil memesan Matcha, minuman hijau kesukaannya. Sambil beristirahat ia membuka Instagram di gawainya. Ia berharap setelah isunya patah menemukan kembali isu baru yang bisa ia kejar di hari ini. Setelah berputar-putar ke berbagai akun, Clarissa tak juga kunjung mendapatkan isu yang cocok baginya. Sambil menghela nafas, ia melihat di depan kedai ada seorang loper koran yang sedang beristirahat di atas kursi milik ruko toko kue. 

Clarissa tertegun, sebab memasuki tahun kini, ketika media cetak dituntut untuk lebih fleksibel menghadapi tantangan dunia digital, ratingnya semakin hari semakin turun. Clarissa bangun sejenak, dan membeli koran dari loper yang ia lihat.

“Berita Jakarta satu bang” Ucapnya sambil memberi uang kertas 5000 rupiah.

“Ini neng”  Ujar tukang loker itu sambil memberikan koran yang Clarissa minta.

Clarissa kembali ke kedai, kembali ke tempat duduknya dan sambil minum sajiannya ia membuka koran.  Tiga lembar halaman sudah ia lewati tapi tak satupun berita yang menarik minatnya. Sambil mengeluh ia menutup laman koran sejenak dan berkata,”Jurnalisme pasaran, selalu ikut selera pasar” keluhnya. Clarissa memang jurnalis yang sentimen terhadap perkembangan Jurnalisme di Indonesia, yang menurutnya telah kalah oleh industri informasi. Kadang bila ia melihat rekan setempat kerjanya melakukan hal sama ia kerap mengejeknya dengan ejekan “dasar penjilat kabar”.

Laman koran tersisa 3 halaman lagi, Clarissa menduga bahwa di laman selanjutnya ia akan membaca berita memuakkan lagi. Berita bola, berita mode dan fashion atau berita selebriti. Tetapi ia menganggap biarlah tak apa membosankan, ia sudah membelinya dan perlu ia habiskan. Ketika ia membuka laman selanjutnya, ia menemukan kolom kriminal. Sebuah kolom yang berisi kabar harian tentang tindak kriminal yang terjadi di masyarakat. Clarissa yang duduk membungkuk, tiba-tiba saja berubah tegak seolah ia mendengar sambaran petir besar. “Ini baru namanya berita!” Ujarnya kencang dan tanpa sadar hampir seisi kedai tiba-tiba menengok ke hadapannya.”

JOHN SALAMANDER, PENGUSAHA KILANG MINYAK TERBESAR JAKARTA DIBUNUH OLEH PEREMPUAN TAK DIKENAL

Demikianlah tajuk koran itu. Di dalam keterangan berita, Clarissa mendapatkan informasi bahwa John Sallamander dibunuh di gang buntu yang memanjang menuju rumahnya. Saat itu, 1 Januari John Sallamander baru saja pulang dari perusahaannya setelah membagikan pesangon akhir tahun kepada seluruh karyawannya. John pulang mengendarai mobil Chevrolet berwarna merahnya. 

Bila anda menuju arah selatan dari Jln Palmerah Utara, anda akan menemukan sebuah gang kecil tepat di samping Gedung Plaza. Di samping gedung itu, anda akan melihat sebuah rumah mewah berwarna kuning keemasan. Lokasi rumahnya tepat di ujung gang sempit dan buntu itu. Itulah rumah John Sallamander. 

Menurut rilis berita yang Clarissa baca, John meninggal tepat 2 kilo meter dari rumahnya. Tempat ia biasa memarkir mobilnya. Ketika ia sedang berjalan menuju rumahnya, di tengah gelap gang, dan hanya ada cahaya bulan John tiba-tiba saja merasa limbung. Darah mengucur dari lehernya. Setelah ia menyentuh lehernya, ternyata ia telah ditikam oleh sebilah pisau dapur. Ketika ia cabut, ia jatuh. Polisi menemukannya 15 menit setelah kejadian berlalu melalui laporan penjual Nasi Goreng yang ada di sebelah gang.

Sirine polisi dan ambulan saling bersaut bergantian memenuhi jalan sekitar. Tempat kejadian perkara segera dibatasi, John dibawa menuju rumah sakit terdekat, Patria Hospital IKKT. Sayang, John tak bisa diselamatkan. 15 menit setelah ambulan membawanya detak jantung John berhenti di tengah jalan.

Berita rampung. Posisi duduk Clarissa semakin tegak. Alisnya mengkerut dan matanya melotot. Ia kaget bercampur bingung. Ia kaget sebab siapa yang tak mengenal John Sallamander. Konglomerat minyak terbesar dari generasi ketiga keluarga John mati dengan konyol. Siapapun, menurut Clarissa mengenalnya. Keluarga John adalah keluarga besar yang punya pengamanan ketat. Layaknya mafia tambang, ia memiliki banyak aparat, advokat, preman dan segala akses lain yang dapat menunjang keamanan keluarga dan perusahaannya.

“Mati konyol, ini janggal!” Ujar Clarissa dalam hatinya.

Dari sinilah alasan Clarissa itu bermula. Sejak membaca berita itu, Clarissa memutuskan mencari fakta tersembunyi di balik kematian John Sallamander. Mulai dari 2 Januari, beriringan dengan proses otopsi jasad kematian John, Clarissa mencari kegiatan keseharian John selama 3 bulan terakhir. Clarissa meyakini bahwa kematian ini adalah ulah dari salah satu kompetitor bisnis keluarga John. 

Bila ditotal, sampai terbit kabar terakhir Clarissa telah menghabiskan per tiap hari 20 jam untuk melacak fakta lain. Ia mengumpulkan kliping koran yang memberitakan tentang perusahaan John, mengumpulkan dokumen perusahaan, mencari nama-nama kongsi terdekat, memetakan posisi politik perusahaan. Layaknya seorang detektif, kini kesehariannya hanya dipenuhi dengan bayangan kasus itu. Hasil wawancara telah ia kumpulkan. Sayang sampai 22 Januari setelah kabar terakhir terbit, ia juga tetap tak menemukan hasil. Nihil.

Bila dijumlah porsi keuntungan dan kerugiannya. Clarissa berhasil mengetahui seluk beluk perusahaan John, bahkan beberapa informasi tersembunyi dari kompetitornya seperti keluarga Rey. Bisa saja, dengan informasi itu Clarissa dapat memeras keluarga John yang sedang dilanda duka. Sayang, keingintahuan Clarissa akan kasus kematian itu jauh lebih besar dibanding keinginannya mendapat upah. Tetapi Clarissa tetap mendapat kerugian. Ia banyak kehilangan waktu dan produktivitasnya. Para rekan kerjanya mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Clarissa. Honor hariannya yang semula 300 ribu per hari, kini dipotong hanya sebesar 100 ribu. Cukup untuk biaya hidup harian, tetapi tak memiliki sisa.

Berita itu, ya berita singkat hasil konferensi pers yang membuat Clarissa kembali kesal. Angle beritanya patah hanya diakibatkan oleh sepotong berita konferensi pers yang disampaikan oleh Kapolda Metro Jaya. Tak lain, berita itu adalah berita yang menjelaskan bahwa pembunuh John Sallamander nyatanya bukan dari lingkungan bisnisnya, melainkan hanya seorang perempuan kurang kerjaan bernama Diana.


Kasus Pembunuhan John Sallamander yang merupakan ahli waris sah dari Keluarga John, pemilik perusahaan kilang minyak terbesar Jakarta pada tanggal 1 Januari lalu telah menemukan titik terang setelah mayat diotopsi 3 minggu . Sabtu 22 Januari 2022, seorang perempuan berambut merah panjang bernama Diana mengakui bahwa dialah pelakunya. Diana mengakui perbuatannya setelah dua jam setelah prosesi pemakaman usai. Polda Metro Jaya, tanpa melakukan penyelidikan lagi dengan segera memasukkan Diana ke dalam sel. Menurut Briptu Sandi, tanpa perlu penelitian lebih lanjut Diana sudah mengakui dan akan segera dimasukkan ke dalam sel. “Pelakunya sudah kami ketahui, setelah kami masukkan ia ke dalam sel, kami segera menutup kasus ini” Tegas Briptu Sandi dalam Konferensi Pers di hari Minggu bersama Kompas TV.


Dengan mata yang masih tertutup setengah, Clarissa menyimak berita itu dengan seksama. Kantuknya tiba-tiba saja hilang, matanya melek seketika. Ia berharap yang ia dengar bukanlah kesalahan. Ia kembali memutar berita itu, kali ini melalui kanal youtube Kompas.

“Bangsat!!” Ujarnya sambil memukul foto Andreas Harsono, seorang jurnalis idolanya yang ia tempel di tembok indekosnya, 

“Lagi, lagi, lagi dan lagi patah, dan konyol mengapa kematian ini sekonyol kematian seorang suami depresi yang tak bisa menafkahi anaknya dan memutuskan bunuh diri meminum super pel,” suaranya naik dan semakin kesal.

Tanpa ba bi bu, Clarissa segera menuju ke kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan badan. Setelah itu ia bergegas menuju Lapas 1 Pemasyarakatan Cipinang. Seperangkat rekaman ia bawa. Kini ia tak lagi peduli soal pembunuhan itu, yang ada di benaknya kini hanya rasa ingin tahu motivasi pembunuh itu.

Sampai di lapas, ia menemui penjaga lapas. Ia meminta agar ia diperkenankan untuk mewawancarai Diana, pembunuh John Sallamander. Dengan bukti kartu pers yang ia miliki dan dengan label Jakarta Post tanpa ba bi bu pula sang penjaga mengizinkan Clarissa untuk mewawancarainya di ruang jenguk. “Hanya satu jam!” Ujar penjaga lapas. “Baik, cukup,” kata Clarissa dalam hati.

Clarissa memasuki ruang jenguk tahanan lapas. Ia melihat sosok Wanita bertubuh ramping berjalan gemulai seperti role model majalah Playboy. Bibirnya senyum ketika berhadapan dengan Clarissa. Ia mengulurkan tangan “Diana”sambil memperkenalkan diri ia duduk di depan Clarissa. Clarissa begitu bingung. Pembunuh macam apa ia ini. Clarissa pun mengakui betapa cantiknya Diana.

Clarissa menarik napas pelan-pelan, ia sadar ia harus tenang. Yang ia hadapi adalah pembunuh, posisinya adalah Jurnalis. Ia sadar ia harus berada dalam posisi tenang, dan ia harus berusaha fokus pada rentetan pertanyaan yang ia bawa.

“Clarissa, Jurnalis Jakarta Post” Balas Clarissa sambil berjabat tangan.

“Jurnalis? Apa yang anda butuhkan? Informasi tentang pembunuhan?  Sebuah fakta sebagaimana yang biasa jurnalis inginkan? Atau hanya sepenggal statement dari Narasumber?” Tanya Diana dengan senyum sumbing dan interogatif.

“Baiklah, sebaiknya saya beri anda kesempatan untuk bertanya, Ya, JURNALIS” tambah Diana seolah mengejek.

Sambil menghela nafas seolah ia terdesak, Clarissa mulai bertanya seperti bagiamana Diana memulai pembicaraan, “Baik. Diana, seorang Wanita berparas cantik, cocok untuk menjadi model, tetapi kini adalah pembunuh, menarik” Clarissa membuka wawancara dengan mengikuti tempo pembicaraan” Apakah anda benar pembunuhnya?” Tambah Clarissa bertanya dengan nada datar

“Ya. Kalaupun saya yang membunuhnya, apakah ada kerugian bagi anda? Ataukah keuntungan yang akan hadir? Apa yang akan anda dapatkan informasi mengenai pembunuhan itu dari saya, itu tak akan masuk akal. Setidaknya berita anda akan memuat hal itu. Artinya, saya menawarkan apakah anda akan melanjutkan wawancara? Pertimbangannya adalah tak ada kerangka logis dari jawaban yang akan anda terima. Semua di luar nalar, dan berita anda akan dianggap fiksi” Tambah Diana

“Saya akan tetap lanjut, Dan apa untungnya bagi anda bila berita saya dianggap fiksi? Setidaknya saya yakin, anda memiliki nalar untuk menjelaskan itu? Betapapun itu hal itu di luar kerangka logis” Tegas Clarissa meyakini

“Silahkan lanjutkan kalau begitu pertanyaannya. Oh ya, saya jawab terlebih dahulu, ya benar saya adalah pembunuhnya, saya mengakui” Tegas Diana dengan gambling

“Apa sebetulnya motivasi anda untuk membunuh? Adakah keuntungan dari pembunuhan itu?” Tanya Clarissa sambil mendekatkan rekamannya ke Diana

“Baik, saya akan menjelaskan secara gambling tanpa anda harus bertanya apapun lagi. Apa makna kematian bagi manusia sebetulnya Clarissa? Bukankah semua hal di dunia ini akan mengalami hal itu. Anda berkerudung, tentu anda islam dan anda mengenal bahwa sabda tuhan pun menjelaskan bahwa manusia akan merasakan kematian sekalipun mereka menghindarinya. Anda Jurnalis? Tentu anda seorang terpelajar, seorang Jurnalis mustahil tak banyak membaca Ilmu Pengetahuan. Anda tahu? Betapa sains berkembang sedemikian rupa. Mereka berkembang untuk menghindari kematian. Terakhir kali, setelah Hawking dan Einstein menemukan teori Singularitas, teori di mana ruang dan waktu yang menjadi musuh besar bersama ketakutan manusia akan kematian dapat disatukan meski masih menjadi pekerjaan rumah para ilmuwan”

“Demikianlah cara kerja manusia Clarissa, saya hanya mencoba mengambil satu eksperimen baru, tentang bagaimana membuat kematian manusia itu jauh lebih cepat. Salahkah saya membunuh? Toh, bila kita kembali ke prinsip tadi, kita tetap akan merasakan kematian bukan?”

“Kamu tahu, siapa yang saya bunuh? John Sallamander, raja minyak Jakarta. Seorang Konglomerat. Saya beruntung bisa membunuhnya. Dapatkah kamu bayangkan? Betapa naifnya dia sebagai jutawan ketika ia mati yang ditangisi adalah gelarnya sebagai jutawan. Artinya banyak orang yang menyayangkan gelarnya. Tangisan orang sekitar adalah tangisan terhadap hartanya, bukan John Sallamander sebagai manusia itu sendiri”

“Kamu tahu, sejak saya memutuskan membunuhnya setelah hasil proses beberapa calon korban, saya menemukan hal yang menarik. Betapa ikatan cinta yang dibangun oleh harta punya pengaruh kuat terhadap tangisan orang-orang yang menikmati hartanya. Sebenarnya saya ingin membunuh tokoh yang jauh lebih besar daripada itu. Kamu tau Mahatma Ghandi, atau Abdurrahman Wahid? Ya, andai dalam daftar list calon korban saya ada orang seperti mereka saya tentu akan membunuh manusia jenis itu. Kamu tau? Betapa tangisan kematian mereka adalah jauh lebih panjang kenangannya dibanding John Sallamander di 10-20 tahun nanti yang akan dilupakan. “

“Demikianlah cara kerja Manusia hidup. Mereka hidup di atas Imajinasi, khayalan tentang kasih sayang, cinta dan lain-lain. Tentu semuanya itu Palsu Clarissa. Hanya produk buatan. Itulah kehidupan manusia . Mereka hidup di atas fantasi palsu supaya mereka bisa bertahan hidup atau setidaknya mereka butuh alasan untuk hidup

Demikian penjelasan panjang Diana. Clarissa tertunduk diam. Dan tiba-tiba seluruh ruangan gelap. []

Tinggalkan Balasan