Deklarasi Perdamaian Tak Mau Dintervensi

Salah satu tarian yang disuguhkan kala acara deklarasi Bulan Cinta Damai dan Lingkungan Alam (15/2)didepan Makam Pahlawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP)
Salah satu tarian yang disuguhkan kala acara deklarasi Bulan Cinta Damai dan Lingkungan Alam (15/2)didepan Makam Pahlawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP)

Terik matahari mulai menyengat saat Imam Muslich membuka acara deklarasi Bulan Cinta Damai dan Lingkungan Alam di Bhumi Arema, “Salam Satu Jiwa Aremaaaa” teriaknya. Gelaran acara minggu pagi itu (15/2) diramaikan oleh 27 komunitas yang terbagi dalam 45 kelompok komunitas. Diantaranya Komunitas Peduli Malang, Raggae, Save Street Children, Neolath Community, Fotografi, dan Prasna Paramita. Bertempat di depan Makam Pahlawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), masing-masing komunitas menampilkan aksinya tanpa memakai atribut sponsor. Baliho-baliho pun terpampang tanpa satupun logo sponsor baik produk maupun partai tertentu.

“Memang kami tidak ada sponsor. Coba cari kalau ada lapor saya,” ujar Muslich bersemangat. Pria yang tergabung dalam Neolath Community itu memaparkan bahwa acara ini mengajak siapapun tanpa embel-embel promosi. Ia mengakui ada beberapa politisi yang menawarkan bantuan dana, “Yawes, tak biayain,” ujarnya menirukan salah satu politisi yang menawarkan dana. “Kalau politisi pasti punya kepentingan. Kami tidak ingin terjebak dalam masalah itu,” paparnya.

Pengakuan Muslich menyiratkan bahwa ia dan kawan-kawannya tak ingin diintervensi oleh pihak manapun. Karena tujuan para politisi maupun perusahaan yang ingin dicantumkan logonya adalah untuk menyebarkan pandangan, ideologi, maupun memperkenalkan suatu produk barang yang baru. Komunikasi melalui tanda-tanda atau logo tertentu dibahas dalam ilmu semiotika.

Ferdinand De Saussure menjelaskan dalam semiotika, terdapat tanda dan penanda dalam logo tersebut. Tanda bisa berupa warna, isyarat, objek akan mempresentasikan sesuatu, sedangkan penandanya berupa makna yang dapat diartikan dari tanda tersebut. Pencantuman logo yang berfungsi sebagai tanda itu akan membuat masyarakat mengenal, mengingat dan bahkan mendukung kelompok yang logonya dicantumkan sebagai bentuk penanda atau makna. Makna-makna inilah yang tidak diinginkan Muslich sebagai bentuk intervensi.

Padahal, bukan rahasia umum lagi bila sponsor tertentu selalu meminta logonya dipasang di semua atribut panitia maupun peserta. Acara dengan jumlah massa yang banyak tentu akan menguntungkan sponsor karena dagangannya dapat dikenal banyak orang atau para politisi dapat mencitrakan diri di mata masyarakat. Perilaku penawaran dan pencitraan tersebut sejatinya tak lebih sebagai perilaku pemasaran. [Imam Abu Hanifah]

Leave a Reply