Dilema Maba Menuju PTMT 1 November 2021

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) untuk semester ganjil tahun akademik 2021/2022 (12/10). Surat edaran ini dikeluarkan untuk menindaklanjuti Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI tentang Penyelenggaraan Perkuliahan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Selama Pemberlakuan PPKM pada Masa Pandemi Covid-19 dan Surat Keputusan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tentang Ketentuan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Kebijakan tersebut membuat beberapa mahasiswa ragu akan efektivitas agenda yang terhitung mendadak ini karena jarak antara diturunkannya SE kampus dengan pelaksanaan PTMT yang sangat dekat. “Kebijakan SE perkuliahan offline yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 November mendatang itu kurang efektif. Karena, pemberitahuan ini baru diputuskan dalam jangka waktu dekat,” ucap Aisabellia Nur Syabani, mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2021. 

Dalam surat edaran tersebut, kampus memprioritaskan PTMT untuk mahasiswa baru yang akan masuk 100% secara luring dikarenakan adanya pembelajaran khusus di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly. Namun, setelah keluarnya surat edaran tersebut belum ada informasi lebih lanjut terkait mekanisme kedatangan mereka dan juga pemberitahuan dari pihak Ma’had yang belum ada kejelasannya. “Jujur membuat kami sedikit kebingungan terkait informasi yang kami rasa tidak memuaskan karena belum pastinya SE (baca: pengumuman mekanisme kedatangan)” Ungkap Abdul Givari Pratama Amboy, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2021. 

Sejalan dengan Givari, Jihan Aulia Nimran mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2021 yang kini berdomisili di Bima, Nusa Tenggara Barat ini mengungkapkan pendapatnya terkait kebijakan PTMT tersebut. “Alhamdulillah saya merasa senang karena kuliah udah offline. Tapi menurut saya, berita nya dadakan. Apalagi kami yang dari luar pulau Jawa harus banyak persiapan.”

Mengisi Surat Pernyataan

Dari pihak kampus, mahasiswa baru diwajibkan untuk mengisi surat pernyataan bermaterai dan meminta orang tua untuk menandatangani surat tersebut. Terdapat dua lembar surat pernyataan, pertama untuk surat pernyataan setuju dan yang lembar kedua untuk surat pernyataan tidak setuju. 

Dalam surat pernyataan setuju, pihak orang tua menyatakan untuk mengizinkan putra-putri nya mengikuti PTMT sesuai protokol kesehatan, bersedia membiayai tes pemeriksaan covid-19, bersedia menerima sanksi jika tidak mengikuti protokol kesehatan dari kampus dan terakhir adalah bersedia untuk menanggung seluruh biaya pemeriksaan dan perawatan jika mahasiswa terindikasi covid-19. Sedangkan dalam surat pernyataan yang tidak setuju, orang tua harus menuliskan alasannya tersebut. 

Surat pernyataan ini dibagikan kepada mahasiswa baru secara online pada 19 Oktober 2021 dengan batas pengisian sampai Sabtu (22/10) kemarin tanpa ada penjelasan lebih lanjut. “Kami hanya disuruh untuk mengisi lalu mengumpulkan surat pernyataan tersebut”, Ungkap Aisabellia 

Merespon hal ini, Umi Sumbulah, Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Malang mengatakan bahwa pihak kampus memperpanjang waktu pengisian hingga Rabu (27/10) mengingat masih banyaknya mahasiswa yang belum mengetahui terkait informasi ini. Per hari Selasa (26/10) sudah ada sekitar 2300-an lebih yang bersedia mengisi persetujuan untuk masuk ma’had tersebut. “Saya kira sampai besok itu mungkin sampai 2500 atau kurang lebih segitu atau mungkin tambah”, Jelasnya. Pihak kampus sendiri, setelah pengisian surat pernyataan itu selesai, maka akan melakukan penjadwalan untuk mahasiswa masuk ma’had. 

Setelah penjadwalan sudah dirancang, Mahasiswa bisa memilih sendiri terkait waktu kedatangan mereka antara tanggal 2 sampai 5 November. “Setelah itu nanti, setelah jadwal-jadwal tahapan kedatangan itu diisi semuanya mereka memilih mulai tanggal dua, tiga, empat, atau lima. Jadi ada 4 sampai 5 hari dari tanggal 2 November itu. Jadi bukan 1 itu sudah PTMT nya tetapi mereka mau mulai masuk ma’had.” pungkasnya. Jika terdapat kemungkinan mereka tidak bisa datang dan menetap di ma’had misal karena adanya ketidaksetujuan orang tua yang bersangkutan, maka menurut sosok yang pernah menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UIN Malang tersebut, maka mereka bisa melaksanakan kegiatan secara daring.

Pihak Kampus Sedang Mempersiapkan Segalanya

Pihak kampus saat ini sedang mempersiapkan semua yang dibutuhkan menjelang PTMT 1 November mendatang dengan mengadakan rapat dengan para pimpinan kampus. “Rektorat semuanya mulai dari Rektor, Wakil Rektor (Warek), Ketua Biro (Kabiro), Dekan-Dekan, Wakil Dekan (Wadek), Wadek I, Wadek III, semua termasuk Kepala Ma’had, Kepala Lembaga, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT), semuanya sudah menyiapkan ini dan kita rapat berkali-kali.” Ungkap Umi saat dikonfirmasi pada Selasa sore (26/10) 

Begitu pula, pihak kampus menurutnya sudah mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang PTMT mendatang beserta simulasi tata ruang kelas, dan sebagainya, ”Wong yang di sini nanti masuknya kelasnya 50% – 50% . 50% dikelas, 50% di ma’had gantian. Kan nggak boleh kapasitas kelas 40. Maksimal 20. Lah kan semua kelas juga sudah diberi kursi 20 jaraknya satu setengah meter kan gitu-gitu to

Umi juga menegaskan bahwa SE kebijakan PTMT yang dikeluarkan sebelumnya dinilai tidak mendadak karena telah melalui tahapan kajian dari hasil proses jajak pendapat dengan orang tua mahasiswa serta pertimbangan lainnya, ”termasuk teman-teman saya wakil rektor 1 di beberapa PTKIN ada anaknya Rektor kan, ‘Bu Warek kapan ini masuk anak saya harus masuk gitu-gitu’ ”, terangnya. 

Kendati demikian, tanggal 1 November semakin dekat, dan kejelasan terkait proses kedatangan mahasiswa baru ke Ma’had masih belum keluar. Padahal seharusnya, terang Givari, setelah SE dari kampus turun mereka bisa mempersiapkan diri dan juga mempersiapkan biaya untuk pindah ke Malang. Apalagi untuk mahasiswa yang berada di luar daerah membutuhkan persiapan yang jauh lebih matang lagi. “Kalau informasinya sangat ber-episode begini bisa-bisa orang tua kami hilang kepercayaan terhadap kami, malah dikira bohong”, Ungkap Givari.

Givari berharap keputusan ataupun informasi apapun dari kampus terkait PTMT ini sebaiknya disegerakan atau dipercepat supaya meminimalisir terjadinya disinformasi melihat semakin dekatnya pelaksanaan PTMT tanggal 1 November mendatang. “Sekiranya dari pihak kampus untuk lebih berani lagi dalam mengambil tindakan dan tindakan itu tidak menimbulkan banyak protes dari mahasiswa”, harapnya. []

Tinggalkan Balasan