Media Massa atau Media Bissnis

Sebuah analisis tentang independensi dan sikap media terhadap isu politis

Pilihan antara kepentingan bisnis dan kepentingan pemberitaan yang berimbang telah menjadi bahan perdebatan besar hingga saat ini. Seiring laju modernisme, pers menjadi lahan bisnis. Peminat dan pelakunya pun beragam dan terus bertambah.

Diakui atau tidak, sering kali kepentingan pemegang modal dalam media bercampur dengan kebijakan redaksi suatu media. Pemberitaan dirancang sedemikian rupa guna menyokong kepentingan pemegang modal. Disinilah, pers beralih wujud menjadi komoditas komersil.

Pada sisi lain, kepentingan media akan informasi juga telah membuat celah tersendiri bagi orang-orang tertentu. Orang-orang tersebut adalah orang yang begitu haus akan publisitas. Mereka dengan cerdas mengemas berbagai persitiwa sehingga ia bisa selalu muncul di berbagai media.

Orang seperti ini yang disebut oleh Bimo Nugroho, salah satu anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai medialomania. Istilah itu ia sampaikan dalam sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Jurnalistik di Universitas Islam Bandung. Medialomania sendiri adalah istilah yang dimaksudkan untuk merujuk pada ‘penyakit’ gemar menjadi narasumber.

Bagi orang seperti ini, media adalah kendaraan politik. Ia mampu membangun relasi dengan pelaku media, serta pandai membungkus peristiwa melalui komentar-komentar, atau aksi-aksi yang sesuai dengan selera wartawan. Orang yang ‘gila’ publisitas itu kerap memberi fasilitas seperti konferensi pers hingga ‘amplop’ kepada wartawan. Ia sedapat mungkin menjadikan dirinya teman akrab yang mudah dicari oleh wartawan. Disadari atau tidak, media kemudian terjebak menjadi media politik orang tersebut.

Keadaan seperti itulah yang tengah digambarkan oleh Raam Goal Varma dalam Film RANN yang dirilis tanggal 29 Januari 2010 di India. Film ini bercerita tentang stasiun televisi India 24/7 milik Vijay Harshvardhan Malik (Amitabh Bachchan) seorang jurnalis senior idealis dan dihormati masyarakat. Sesuai dengan keinginan pemiliknya, India 24/7 merupakan saluran berita yang semata-mata melayani publik.

Namun, tidak demikian bagi Malik bin Jay (Sudeep) anaknya. Baginya, saluran berita ayahnya adalah sebuah perusahaan bisnis yang harus membuat keuntungan untuk meningkatkan keuntungan material.

“….43 tewas, 55 luka, 19 kritis, ledakan bom sudah menjadi hal biasa bukan lagi menjadi kilasan berita utama, sekali lagi kemarahan warga hindu pada puncaknya, semua orang menuduh orang muslim,” kata Vijay Malik ketika menyiarkan breaking news tentang terorisme. “Hari ini terjadi serangan bom, apakah sistem kita tidak bisa belajar dari kesalahan? Ataukah kesalahan itu telah berubah menjadi kebiasaan? Jika begitu maka status kita lebih berbahaya daripada terorisme,” lanjutnya. Saat itu India tengah terjadi teror bom yang semakin berutal.

Malik bin Jay ketika itu menonton berita yang dibacakan oleh ayahnya tersebut.

“Ayahmu luar biasa,” kata Yasmin Hussain (Neetu Chandra), pacar Jay.

“Ya memang,” kata Jay. “Tetapi stasiun televisinya tidak.”

“Apa?” tanya Yasmin kaget.

“Ayah merasa, tugas media semata-mata hanya untuk melayani publik,” jawab Malik.

“Jadi? Bukankah dia benar?”

“Ya. Tapi ketika sang ‘dokter’ sendiri terjatuh sakit, bagaimana ia bisa mengobati penyakit?”

“Apa maksudmu?,” Tanya Yasmin semakin penasaran.

“Stasiun televisi kita berubah menjadi unit yang sakit, Yas. Bisnis (media) sekarang tidak berdasarkan prinsip,” jawabnya dengan serius.

“Tapi jay, media bukan hanya sekedar bisnis.”

“Aku tak mengerti yang kau maksud. Bahkan pabrik sabun saja sebuah bisnis, stasiun tv dan berita juga sebuah bisnis,” kata Jay mendebat.

Seiring dengan persaingan antar TV, saluran India 24/7 menempati rating terendah. Stasiun televisi milik Vijay tersebut kalah saing dengan televisi milik Amrish Kakkar (Mohnish Behl) yang dulu pernah bekerja sebagai pegawai biasa di India 24/7.

Kemudian, untuk memulihkan keuangan dan rating India 24/7, Jay bin Malik, anak Vijay mencari cara lain supaya stasiun televisinya kembali menjadi nomor satu di India. Keadaan inilah yang lalu dimanfaatkan oleh Mohan Pandey kelompok partai oposisi yang selalu beropisisi dan berambisi merebut tampuk kekuasaan dari Perdana Menteri India, Hooda (K.K Raina).

Mohan Pandey (Paresh Rawal), selain ketua oposisi yang selalu menentang Hooda, Ia juga seorang koruptor ulung. Ia selalu mengaitkan terorisme dengan politik Hooda untuk mendapatkan keuntungan dari situasi ini.

Pandey sangat lihai mengatur strategi dengan menghalalkan  segala cara. Akhirnya Jay bin Malik mau menerima kerjasama dengan Mohan Pandey dengan bujukan kakak iparnya Shankalya Naveen (Rajat Kapoor) yang ambisius ingin menjadi pengusaha terbesar di India. Dengan membuat bukti palsu berupa video yang ditayangkan di televisi  India 24/7, membuat orang tidak mempercayai lagi Perdana Mentri Hooda.

Rencana keji itu sukses. Kini televisi India 24/7 menjadi televisi nomor satu lagi di India sekaligus menjadi kendaraan politik Mohan Pandey.

 

POLITIK DAN MEDIA memang ibarat dua sisi mata uang. Politik juga memerlukan media massa sebagai wadah dalam mengelola kesan yang hendak diciptakan.

Asal tahu saja, tidak ada gerakan sosial yang tidak memiliki divisi media. Apapun bidang yang digeluti oleh sebuah gerakan, semuanya memiliki perangkat yang bertugas untuk menciptakan atau berhubungan dengan media. Di sisi lain media massa harus bersikap independen: bebas dari kepentingan politik, etnik ataupun agama.

Para politisi sadar betul, bahwa tanpa adanya media, aksi politik tak akan berarti apa-apa. Bahkan, menurut C. Sommerville dalam bukunya Masyarakat Pandir atau Masyarakat Informasi (2000), kegiatan politik niscaya akan berkurang jika tidak disorot media.

Media memang memiliki kemampuan reproduksi citra yang dahsyat. Dalam reproduksi citra tersebut, beberapa aspek bisa dilebihkan atau dikurangi dari realitas aslinya. Kemampuan dramatisir ini pada gilirannya merupakan amunisi yang baik bagi para politisi, terutama menjelang pemilu. Dengan demikian media sangat mudah merekayasa kebebenaran yang sesungguhnya.

Jack Snyder, guru besar ilmu politik dari Columbia University, dalam bukunya From Voting to Violence (2003) menunjukkan bahwa media massa memiliki peran yang besar dalam proses transisi politik dari zaman otoritarianisme menuju arah demokratisasi.

Snyder sangat menekankan bagaimana peran dari media sebagai pembuat opini publik yang bisa menyokong kepentingan para elit politik. “Mereka bisa mengobarkan kepentingannya yang sangat terbuka, terutama karena pada masa awal demokratisasi terjadi, suasana berpendapat bebas terjadi, pers lebih mudah didirikan, dan semuanya bisa menjadi alat bagi para maniak kekuasaan untuk menaikkan posisinya. Namun jika media massa cukup profesional, mereka bisa jadi pengimbang atas kepentingan-kepentingan para elite politik, dan media tak perlu jatuh menjadi corong kepentingan elite politik tadi,” tulis Snyder.

Yang menjadi masalah bagi politisi adalah bagaimana ia menjalin hubungan mutualisme dengan pihak media; bagaimana ia membangun kesan tertentu dengan memilih latar belakang (pada televisi) saat bercakap-cakap dengan media; bagaimana ia mampu meyakinkan media bahwa ia dan aksinya adalah hal penting yang harus diperhatikan. Semua hal tersebut dilakukan dengan imbalan berupa publisitas.

Monang Saragih berpendapat, “bahwa adalah hak setiap orang untuk berserikat dan menyampaikan gagasan-gagasannya. Kebebasan sudah datang untuk setiap orang dalam menyampaikan sikap politiknya. Dan tidak ada yang lebih baik dari media dalam menyalurkan hasrat tersebut.” Secara sederhana, pendapat ini memang benar. Namun tatkala dipraktekkan, sulit bagi media untuk keluar dari kepentingan diri sendiri yang mengatasnamakan kepentingan publik.

Dalam konteks media yang turut bermain dalam politik praktis, Andreas Harsono, pendiri Majalah Pantau membantah pernyataan Saragih tersebut. Menurutnya, wartawan sebaiknya memisahkan diri dari dunia politik. Media harus memilih salah satu dari kedua ranah tersebut. “Alasannya, keduanya memiliki fungsi dan idealisasi yang berbeda. Keduanya tak dapat berjalan seiringan karena tak selamanya kepentingan sebuah golongan politik menyuarakan kepentingan yang lebih besar atau nasional; sementara media yang menjadi kendaraan politik beroperasi secara lebih besar,” kata Harsono.

Media yang berpolitik bisa menyesatkan para pembaca, pendengar, atau pemirsa. Sebab, pemilihan narasumber, pemilihan waktu atau ruang bagi suatu sosok atau peristiwa, serta keseimbangan pelaporan atas suatu fakta akan menjadi bias dengan sengaja. Sedangkan kelompok yang menjadi lawan politik dari pemilik media dengan sendirinya akan tereliminir. Cara pandang politisi dengan wartawan terhadap informasi, mutlak berbeda! “Ketika Anda memiliki kekuasaan, Anda menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kepemimpinan anda. Namun jika Anda wartawan, anda menggunakan informasi untuk membantu orang mengambil sikap mereka sendiri,” beber Jimmy Carter, mantan Presiden Amerika Serikat tahun 1970-an.

Oleh karena itu media sebagai pengemban kepentingan masyarakat (dalam skala besar) harus mampu menjalankan kode etiknya secara benar. Tak hanya itu, verifikasi sebagai intisari jurnalisme juga harus diperhatikan oleh pemilik media, agar tak ada pihak yang dirugikan dalam pemberitaan.

 

DENGAN TERSIARNYA VIDEO yang menyatakan Hooda adalah dalang di balik aksi terorisme yang kerap terjadi di India, membuat posisi Perdana Menteri tersebut tersudutkan. Sedangkan Moohan Pandey sebagai oposisi lalu muncul sebagai ‘pahlawan’ yang menolak dan mengecam terorisme tersebut.

Tanpa sadar, Vijay terbawa oleh arus perpolitikan. Konsekuensinya, pidato ‘kritis’ Moohan Pandey selalu menjadi headline news dalam stasiun India 24/7. “Sepertinya India 24/7 telah berubah menjadi sebuah saluran pribadi bagi Mohan Pandey,” kata Vijay Malik pada anaknya.

Purab Shastri (Ritesh Deshmukh) seorang wartawan Idealis yang bekerja di India 24/7 tidak percaya bukti yang ditayangkan saluran televisi tempat ia bekerja. Ia juga kecewa pada pimpinannya. Sebab, ia menilai Vijay tidak melakukan verifikasi terhadap keabsahan video yang sebenarnya direkayasa oleh Mohan Pandey tersebut. Lalu, Purab bertindak sendiri. Ia menelusuri kebenaran video itu. Dengan verifikasi dan investigasi yang ketat, ia menemukan bukti bahwa video tersebut hasil rekayasa Moohan Pandey dan Malik bin Jay.

Ada yang menarik diakhir film ini. Vijay Harshvardhan Malik akhirnya bersedia mengakui kesalahan pemberitaan yang selama ini ia lakukan. “Pertama-tama adalah pemerintah. Lalu politikus. Kemudian para industrialis, merupakan tugas mereka kepada kepentingan umum dari negeri ini agar sistem berjalan tetap stabil dan terkendali. Seberapa baikkah orang ini bertanggung jawab memenuhi tugas mereka? Bagaimana orang awam bisa tahu?” kata Vijay. “Tanggal 21, aku telah mengatkan kebohongan kepada kalian, tentang kebohongan yang keji, yang menyebabkan Hooda dijatuhkan ini adalah kisah sosok egois. Jay anakku melakukannya dengan sadar sedangkan aku, melakukannya tanpa sadar. Tapi ia ada alasan untuk itu,” kata Vijay pada masyarakat India lewat stasiun TV miliknya.

Sikap seperti ini tidaklah mudah kita temui. Apakah ada media yang terbuka dan mau meminta maaf ketika mereka keliru dalam pemberitaannya?[Agung Maulana]

Judul                        : RANN

Penulis Cerita         : Ronit Banawlikar

Sutradara             : Ram Gopal Varma

Produser                 : Madhu Mantena Sheetal, Vinod Talwar

Rilis                          : 29 Januari 2009

Pemeran                 : Amitabh Bhachan, Sudeep, Ritesh Deshmukh, Paresh Rawal

Bahasa Pengantar : India

Produksi                  : PVR Pictures

Leave a Reply