Gelombang Chaos Pemaknaan Pancasila

Tampaknya peringatan hari lahir pancasila 1 Juni 2016 mendatang hanya sebatas seremonial belaka. Pancasila belum membumi di tanah pertiwi ini. Pancasila masih belum meresap ke jiwa warga Indonesia.

Ironinya, justru makin hari makin besar gelombang anti pancasila di negeri ini. Gelombang anti pancasila itu termanifestasi dalam sikap membenci, perselisihan, SARA, egoisme akut dan terorisme.

Misalnya saja menjelang pertengahan Januari 2016, terjadi peristiwa teror di jakarta yang menewaskan beberapa polisi dan warga sipil. Di saat yang hampir bersamaan, awal Januari hingga pertengahan Februari 2016 terjadi pula pertikaian antar kelompok di Medan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat dan Maluku. Di beberapa pertikaian tersebut memakan korban jiwa.

Tak cukup sampai disitu. Maret 2016 sikap melecehkan SARA menggema dari mulut salah satu anggota DPRD Fahira Idris. “Target Liberal untuk membolehkan orang kafir memimpin di wilayah mayoritas umat muslim,” katanya. Di dunia maya lebih gila lagi. Sikap-Sikap kebencian yang menyinggung SARA kerap dialamatkan kepada Ahok.

Bulan April 2016 lain lagi. Pada bulan ini Pancasila milik negeri ini dikotori oleh pengusaha yang menghianati sistem aturan pajak. Pada bulan ini nama pejabat Negara, petinggi partai dan penguasa besar Indonesia mencuat namanya di skandal Panama Papers. Beberapa nama yang terseret ialah Menteri BUMN Rini Soemarno, Kepala BPK Harry Azhar Azis, petinggi Golkar Abu Rizal Bakrie,  Riza Chalid, Chairul Tanjung, Ciputra dan Sandiaga Uno.

Di bulan Mei tambah parah. Di bulan ini tampaknya Pancasila benar-benar dihina. Mayjend TNI (purnawirawan) Kivlan Zen dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pelakunya.

Kivlan Zen pada 23 Mei 2016 menyatakan siap perang melawan PKI. Bahkan, ia mengaku sudah menghimpun pasukan untuk melawan PKI. “Kami sudah tidak ada lagi seminar-seminaran, kami siap perang,” ujar Kivlan. Menhan Ryamizard Ryachudu lain lagi. Ia peringatkan orang-orang PKI untuk keluar dari Indonesia. Padahal Soekarno pernah bilang, “Pancasila itu tidak anti kepada Kom (komunis).”

Dua tokoh TNI ini bahkan tak segan menjual Pancasila ketika mereka mengeluarkan pernyataan anti PKI. Sikap Pancasila macam apa yang diamini oleh mereka? Memerangi secara nyata dan mengusir orang PKI yang juga warga negara Indonesia sama sekali bukan cerminan sikap Pancasila. Karena Pancasila berazaskan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda namun tetap satu tujuan).

Dari rentetan peristiwa tadi, saya tak menemukan satupun sikap Pancasila yang tercermin dari aksi Fahira Idris, Ryamizard Ryacudu, Kivlan Zen, para teroris dan kelompok yang bertikai serta para pejabat Negara dan pengusaha yang terlibat Panama Papers. Saya tak tahu Pancasila macam apa yang mereka amini.

Para teroris yang ngebom Jakarta jelas bukan cerminan sikap Pancasila. Karena ini bertentangan dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Pertikaian antar kelompok juga bukan cerminan pancasila. Karena bertentangan dengan sila ketiga; Persatuan Indonesia. Sikap Fahira Idris yang melecehkan SARA apalagi. Ini jelas-jelas merusak sila Persatuan Indonesia dan melecehkan azas Bhinneka Tunggal Ika. Sikap para pengusaha dan beberapa pejabat Negara yang terlibat Panama Papers jelas mengikis sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Aksi anti PKI duo tokoh TNI Ryamizard Ryacudu dan Kivlan Zen juga tak mencerminkan Pancasila. Aksi mengancam perang dan pengusiran menciderai sila persatuan Indonesia dan sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ini sebenarnya fenomena akut. Banyaknya sikap-sikap anti Pancasila makin hari makin kencang saja gaungnya. Tak hanya rakyat biasa, pejabat negara pun ikut meramaikan sikap-sikap anti Pancasila. Ironi.

Tak ada lagi nasionalisme. Yang tertinggal di mereka ialah egoisme kelompok, egoisme ekonomi dan egoisme politik.

Tak ada lagi pancasila. Yang tertinggal di benak mereka ialah nafsu buruk kelompok, nafsu buruk ekonomi dan nafsu buruk politik.

Jika hanya egoisme dan nafsu buruk saja yang tertinggal di mereka, adakah yang salah dari pemahaman mereka terhadap pancasila? Jika tak ada yang salah, mengapa sikap mereka dalam bernegara menimbulkan chaos (kekacauan)?

Memahami Pancasila sejatinya memang tak mudah. Jangan kira jika sudah hafal Pancasila, lalu mampu mengamalkannya. Bapak pencetus Pancasila, Soekarno, bahkan tak pernah menuliskan secara rinci bagaimana memahami pancasila secara utuh.

Orang-orang terdahulu hanya dapat memahami Pancasila dari pidato-pidato Bung Karno yang menyinggung tentang Pancasila. Saat ini sebenarnya sudah ada buku “Filsafat Pancasila Menurut Soekarno”. Namun, itu bukan buku yang sengaja ditulis Bung Karno untuk membahas pancasila, melainkan buku itu berisi kumpulan pidato-pidato Soekarno yang sedikit banyak bicara Pancasila. Tentu saja memahami kumpulan pidato bukan pekerjaan mudah.

Namun, sebagai pemula, kita bisa memposisikan Pancasila sebagai sebuah “keyakinan” ┬ámilik seluruh warga Negara Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika). Ia digali dari kebiasaan rakyat Indonesia.

Manusia yang bertuhan, manusia yang beradab, bersatu, bermusyawarah dan mencapai kesepakatan untuk keadilan sosial adalah kebiasaan yang sudah ada dalam diri warga Indonesia, sejak zaman kerajaan dahulu. Di tiap suku dan adat di negeri ini rata-rata memiliki ciri ketuhanan (keyakinan), keadaban, persatuan (perkumpulan, komunal), dan musyawarah untuk mencapai keadilan sosial. Oleh karena itu, Soekarno sebagai pencetus Pancasila tak mau mengakui kalau Pancasila sebagai ide originalnya. “Saya hanya penggali Pancasila,” kata Soekarno.

Manusia yang bertuhan (sila pertama) haruslah benar-benar memaknai agamanya secara cukup baik. Agama apa pun yang ada di Indonesia pada umumnya mengajarkan tentang adab, perdamaian, dan keadilan.

Jika seseorang sudah mengamini Agamanya membawa pesan adab, kedamaian dan keadilan, maka secara otomatis individu tersebut mampu menjadi manusia yang adil dan beradab (sila kedua).

Jika semua manusia Indonesia sudah beradab dan adil (anti memerangi saudara sebangsanya), maka persatuan antar rakyat (sila ketiga) bisa diwujudkan. Jika persatuan sudah terwujud, maka musyawarah untuk mencapai mufakat bisa dilakukan (sila keempat). Kalau masih perang dan masih membenci satu sama lain rasanya mustahil untuk musyawarah.

Sedangkan musyawarah itu sendiri ujung-ujungnya adalah mencapai mufakat untuk keadilan sosial bagi rakyat (sila kelima). Nah, apakah para teroris, kelompok yang suka bertikai, Fahira Idris, Ryamizard Ryacudu, dan Kivlan Zen serta Pejabat Negara dan pengusaha yang terlibat Panama Papers sudah memahami Pancasila secara baik? Semoga saja pemahaman kita terhadap Pancasila makin hari makin membaik setelah membaca tulisan ini. Sekian.[]

Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

Leave a Reply