Hei Para Tokoh Bangsa, Jangan Baperan!

Di zaman sekarang ini, sulit sekali menemukan tokoh-tokoh yang memiliki sikap seperti Pramoedya Ananta Toer atau Buya Hamka. Mereka berdua ini memang bukan kawan seideologi. Malah keduanya bertolak belakang. Hamka cenderung ke kanan, Pram cenderung ke kiri. Walau mereka berbeda prinsip dan ideologi, namun ada satu sikap yang menurut saya sama dari keduanya, yakni sikap gak baperan.

Loh maksudnya apa? Udah deh, tak usah pura-pura. Bukan rahasia umum lagi, kalau di darah tokoh-tokoh nasional kita sekarang ini mengandung enzim-enzim baperan kadar tinggi. Entah itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo, maupun Megawati.

SBY kurang baperan apa coba? Kalau pribadi atau sikapnya disentil, dikit dikit curcol, dikit-dikit prihatin. Prabowo hampir sebelas duabelas dengan SBY. Dia bela-belain dukung Jokowi di pilkada DKI, tapi 2 tahun setelah itu Jokowi maju sebagai presiden. Baper, dia bilang Jokowi Presiden Boneka. Parahnya lagi, waktu debat pilpres, dibelakang panggung Prabowo gak mau nyalami kader PDIP yang kurus itu. Megawati lain lagi. Gara-gara dikalahkan SBY di pilpres 2004 dan 2009, 2 kali dia gak datang di acara pelantikan SBY sebagai Presiden. Oh.. c’mon gaes! Jangan terlalu baperan gitu lah!

Jangan bersikap kerdil gitu lah! Lihat dong mas Pram dan uda Hamka. Mereka gak baperan kayak kalian genks! Uda Hamka misalnya. Walaupun dia pernah dipenjarakan oleh pemerintahan Sukarno, tapi ketika Sukarno wafat, ulama asal minangkabau ini bersedia menyolati bung Besar.

Sama juga dengan Pramoedya Ananta Toer. Walau dia pernah dikecewakan oleh Sukarno, dia gak baper. Ceritanya begini; waktu Pram ke Istana Negara, di sana hadir menteri-menteri. “Pada waktu itu saya datang membawa hadiah baju surjan dari Uzbekistan. Dari kepala Dewan Menteri Uzbekistan, hadiah kepada Sukarno saya serahkan. Pada waktu itu saya usulkan pada Bung Karno. Bung Karno kalau mengundang orang luar negeri, undanglah pengarangnya. Karena dia nanti kalau pulang akan menulis tentang Indonesia. Itu lebih efektif dari pada atase kebudayaan kita di luar negeri.”

“Setuju!” kata Bung Karno. Dia panggil saya ‘mas’. “Ya… setuju mas Pram,” katanya. “Tapi kalau mereka ku undang (ke)sini, mas Pram yang jadi tuan rumah.” “O…. nggak bisa begitu Bung Karno.” “Demokrasi terpimpim itu terpimpin segala-galanya,” kata Bung Karno. “Betul tetapi pembagiankerja juga penting,” saya bilang begitu. Waktu saya bilang supaya pengarangnya diundang, “Hanafi, catat itu!” katanya (Bung Karno). Setelah saya membantah, berhenti pembicaraan dengan dia dan kemudian semua pencalonan saya ke lembaga Negara dicoret. Semunya,” kata Pramoedya dalam bukuPram Melawan!

Tahu namanya tertolak di pencalonan lembaga Negara tak membuat Pram baper, lalu nangis di pojok kamar. Pram dengan santai bilang “Oh… nggak soal untuk saya. Sebagai pengarang nggak ada kekuatan yang bisa memecat saya… ha… ha.. ha…” kata Pram sambil tertawa di buku yang saya jelas tadi.

Walau pernah dikecewakan oleh sang Proklamator, Pram tetap memuji Sukarno setinggi gunung semeru. Dalam buku Pram Melawan! Penyusun buku ini Tanya ke Pram “menurut Bung kelemahan Bung Karno di mana?”

Di buku itu, Pram jawab, “dia tidak punya…. Mestinya dia memang jadi tokoh internasional. Belum ada orang Indonesia segemilang dia. Intelektual. Praktikus dalam bidang arsitektur. Memahami budaya nation-nya. Tahu sejarah. Banyak baca buku luar negeri. Sampai sekarang belum ada yang seperti Sukarno.”

Masih di buku Pram Melawan, Pram juga gak baper saat dikecewakan oleh M. Yamin salah satu Founding Father negeri ini. Pram pernah menjadi juru tulis Yamin saat ia berpidato. Semakin panjang durasi pidato Yamin, semakin panjang pula hasil tulisan Pram.

Anda pernah kerja kaya Pram? Orang pidato kebangsaan, lalu anda tulis tuh apa yang ia ucapkan.  Kalau tokohnya gagap mah enak! Jari tangan kita masih sanggup mengimbangi kecepatan bicaranya. Tapi kalau kecepatan pidatonya sepertinya kecepatan cahaya? Bisa keriting tuh jari!

Saya gak sanggup deh, kalau ngelakoni yang begituan. Bayanginnya aja gak sanggup! Tapi pram sanggup loh! “Tahun 44-45, pidatonya (M. Yamin) yang merekam dalam stenogram (tehnik menulis cepat) kan saya. Diponegoro dan Gajah Mada itu saya yang susun. Dia ngomong cepat saya catat pakai stenogram. Saya susun, dicocokkan dengan memakai bahan yang ada di perpustakaan kantor berita Domei,” kata Pramoedya di buku Pram Melawan!

Sungguh malang nasib Pram. Sudah jadi juru tulis, namun namanya tak pernah di sebut ketika pidato Yamin dibukukan. “Dia bicara itu secara gramatikal banyak yang keliru. Saya yang betulin. Hasilnya saya serahkan ke dia. Terus diterbitkan. Nama saya nggak disebut. Di zaman jepang, (pidato) Diponegoro itu dicetak empat kali. Berapa saya dikasih? Tiga puluh perak satu naskah. Tiga puluh perak itu harga satu baju kaos,” jelas Pram.

Tak hanya bayaran yang kecil, kekecewaan Pram juga terjadi saat ia kesulitan keuangan. Bermaksud untuk meminta uang pada Yamin, “suatu waktu saya coba minta uang, datang ke rumahnya. Nggak diterima,” keluh Pram.

Lalu apakah Pram marah dan memprovokasi seniman-seniman Lekra untuk bikin demo berjilid-jilid ke rumah Yamin? Nggak lah! Demo berjilid-jilid itu mah gaya anak zaman now. Kalau gaya anak zaman old itu pasang hati seluas samudra, sambil terus memuji dan membela orang yang pernah mengecewakannya.

“Dia (Yamin) itu yang memberikan pada bangsa Indonesia bahasa Indonesia. Pejuang bahasa Yamin, sejak muda. Nggak pernah disebut-sebut Yamin (dalam sejarah). Heran saya. Saya nggak ngerti Indonesia ini,” kata Pram membela Yamin di buku Pram Melawan!

Nah, saya pikir sikap seperti Pram dan Hamka inilah yang kurang dari tokoh-tokoh nasional kita saat ini. Kalau saya ketemu tokoh bangsa yang suka baperan, saya akan beranikan diri bilang; Hei para tokoh bangsa, jangan mudah baperan gitu lah! Carilah panutan keluasan hati pada Pramoedya Ananta Toer di buku Pram Melawan! Niscaya gak bakal rugi!

Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

Leave a Reply