INDIKASI PERETASAN; TINDAKLANJUT KPU DIPERTANYAKAN

Senin siang (05/04) sekitar pukul 12.30 WIB terjadi indikasi peretasan terhadap beberapa akun pemilih SiMiRa yang dipakai untuk voting elektronik (e-voting) Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) 2021 di kalangan Jurusan Teknik Informasi (TI) Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Maliki Malang.

Pemungutan suara Pemilwa dilaksanakan serentak di semua jurusan pada tanggal 06 April pukul 08.00-15.00 WIB via website SiMiRa yang disediakan oleh pihak Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) UIN Maliki Malang dengan ketentuan akses login serupa dengan sistem siakad. Pengumuman terkait pemenang pemilwa kemudian diinformasikan pada pukul 15.30 WIB hari itu juga.

Moch. Reinaldy Destra Fachreza, mahasiswa Teknik Informasi (TI), mencoba mengakses website SiMiRa guna memberikan hak suaranya sekitar pukul 13.10 WIB. “Namun, setelah saya klik pada bagian bilik suara tertulis bahwa saya telah melakukan pemilihan. Padahal saya tidak login sebelumnya”, terangnya. Berdasarkan keterangan yang tertera di bilik suara¸ pengisian suara itu dilakukan pada pukul 12.30 WIB.

Begitu pula, indikasi peretasan ini tidak hanya terjadi pada akun Reinaldy. Arya Abimanyu, mahasiswa TI, juga menjelaskan bahwa telah terjadi peretasan terhadap akun-akun lainnya, “ga hanya angkatan saya, tapi juga angkatan atas saya ada yang mengalami hal serupa (diretas, Red).” Arya menambahkan “Kebanyakan yang diretas pilihannya (kandidat, Red) sama.” Dia memohon tindak lanjut dari Komisi Pemilihan Umum Fakultas Sains dan Teknologi (KPU-F Saintek) terkait indikasi peretasan ini. “Untuk saat ini, kami mendapat informasi bahwa sudah ada 57 orang yang melapor kepada Panitia Pengawas Pemuli Fakultas. Kami juga nunggu tindak lanjut dari mereka”. Semua akun mereka tersebut memilih nomor urut 02 di ranah kandidat ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Informatika. Berdasarkan hasil pengumuman Pemilwa, kubu tersebut memenangkan pemilihan ini.

Sementara itu, pihak Reinaldy mengaku sudah mendapat klarifikasi dari pihak KPU-F Saintek bahwa hanya ada tujuh mahasiswa yang ditindaklanjuti terkait indikasi peretasan tersebut. “Dan pihak KPU-F Saintek memberikan tawaran untuk pemilihan ulang kepada ketujuh mahasiswa tersebut” lanjutnya. Padahal, pihak yang mengalami hal ini jumlahnya lebih dari angka tersebut.

Ketua Panwaslu F-Saintek mengaku memang terjadi peretasan. “Sekitar jam 12 siang ke atas terjadi sistem yang auto-input”, beber M. Aziz Maulana. Lanjutnya, sistem tersebut terjadi secara otomatis. Sehingga pihak Panwaslu dan juga KPU tidak tahu akan hal tersebut karena ketika tes sistem yang dilakukan sebelum pemilihan berjalan dengan lancar. 

Sementara itu, Anastasa Angie, Ketua KPU-F Saintek, masih belum dapat memastikan  apakah sistem website SiMiRa benar-benar diretas atau tidak karena yang memegang penuh adalah pihak Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) UIN Maliki Malang. “Jika memang benar ada peretasan, maka nanti bisa dilakukan pemilihan ulang”, jelasnya. Angelia tidak menjelaskan lebih lanjut terkait mekanisme pemilihan ulang tersebut.

MUSTAHIL AUTO-INPUT

Terkait auto-input sistem yang dijelaskan pihak Aziz, Kamal selaku mahasiswa jurusan TI angkatan 2017 menyebut hal itu tidak masuk akal. “Mustahil sih. Kalau misalkan auto-input seharusnya pilihnya random. Waktu inputnya harusnya barengan. Sedangkan dari pengakuan teman-teman tidak begitu,” jelasnya. ia mengklaim “Ini adalah kesengajaan dan merupakan penyalahgunaan data pribadi karena login pemilih ini memakai akun siakad,” tambah Arya menimpali.

Penyalahgunaan data pribadi sendiri termasuk tindakan cracking yang diatur dalam Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan pelaku dapat dijerat pidana penjara paling lama 8 tahun dan atau denda paling banyak delapan juta rupiah.

Mukhlis Fuadi selaku ketua PTIPD menjelaskan bahwa pihaknya tidak mempunyai kewenangan untuk membeberkan data-data pemilihan. karena hal itu termasuk hak dan wewenang KPU-Universitas, “Sesuai serah terima sebelumnya, saya cuma membantu membuatkan aplikasi. Untuk olah data, jadwal, daun sebagainya itu adalah ranah KPU-U. Jadi saya  ga berani bersuara,” jelasnya.

Arya berharap ada transparansi dari pihak KPU dan Panwaslu, khususnya dari KPU-F Saintek berupa data history log website SiMiRa. “Minimal lah, kami dapet transparansi data tersebut”.

One thought on “INDIKASI PERETASAN; TINDAKLANJUT KPU DIPERTANYAKAN

Tinggalkan Balasan