Ingin Merah Muda, Tetapi Seorang Laki-laki

Anak perempuan, sejak usia dua tahun menyukai warna merah muda. Anak laki-laki, sejak usia empat tahun menunjukkan penolakan terhadap warna merah muda. Pada usia balita itu, Claudia Hammond, penulis Mitos Gender ‘Merah Muda vs Biru’ pada laman BBC Future beranggapan bahwa itu adalah waktu dimana mereka mulai menyadari jenis kelamin mereka. Bersamaan dengan itu, lingkungan sekitar balita mulai merangkum definisi-definisi tentang perempuan dan laki-laki.

Sejalan dengan Claudia, Nancy Groves dan Victoria Richards, dalam tulisan bertajuk Pink For Girls, Blue For Boys: Gender Stereotypes Worry 6 in 10 Parents di Huffington Post menunjukan bahwa urusan merah muda atau biru ini kemudian jadi urusan keadilan sosial. Catatan penelitian Fawcet Society yang mereka kutip mengungkapkan tentang stereotip gender yang tidak adil, menciptakan anak yang dibatasi hanya karena jenis kelaminnya. Definisi-definisi tentang gender kemudian menjadi sekat seperti apa artinya menjadi seorang laki-laki, semacam bolehkah laki-laki menunjukkan emosi, dan lain sebagainya.

Masih dalam tulisan Nancy dan Victoria, menandai anak berdasarkan gender memperkuat stereotip tetang hal apa saja yang boleh atau tidak untuk anak laki-laki dan perempuan. Efek jangka panjangnya begitu merusak, mempengaruhi banyak hal seperti pilihan karir.

Lantas kenapa orang tua begitu menginginkan biru untuk anak lelakinya, dan merah muda untuk anak perempuanya? Sosiolog dari Universitas Maryland, Philip Cohen mengungkapkan bahwa ini hanya satu dari sekian strategi pasar. Biru untuk laki-laki dan merah muda untuk perempuan.

Nancy dan Virtoria juga menunjukkan bagaimana mereka bekerja. Seperti saat orang tua sedang kehilangan inspirasi untuk membelikan hadiah anaknya. Mereka mengetikkan kata kunci “hadiah untuk anak perempuan” atau “hadiah untuk anak laki-laki”. Hasilnya, terbagi menjadi merah muda dan biru. Teman mereka yang bekerja di bagian pemasaran memberitahu, jika merek-merek besar secara sadar membagi produk anak berdasarkan gender, karena terbukti meningkatkan penjualan. 

Tetapi, jika keinginan orang tua dan anak dikendalikan pasar, bukankah mereka masih punya kesempatan menolak dengan dasar selera atau kesukaan? Bukankah selera atau kesukaan tidak dapat dibentuk? Bagaimanapun kuatnya hegemoni, bukankah hegemoni hanya lewat jika anak tidak menyukainya? Seperti laki-laki yang kemudian menyukai warna merah muda, walaupun hegemoni yang dominan mengarahkan bahwa merah muda itu perempuan dan laki-laki itu biru. Yang suka tetap suka, hegemoni hanya lewat. Akan tetapi, konsep ini juga masih terbuka lebar untuk terus digugat. Tentang bagaimana keinginan, kesukaan, pilihan, atau preferensi itu dibentuk, atau sebenarnya preferensi itu melekat pada setiap jiwa secara unik tanpa campur tangan orang lain.

Ada sebuah kajian yang tampaknya akan membangun ketakutan baru bahwa keinginan ternyata tidak terikat dengan selera atau kesukaan. Betapa mengerikanya jika keinginan kita dikuasai institusi hegemoni, dan kita menjalankannya meski kita tidak selalu suka. Amy Pollick dalam artikelnya berjudul Deligh, Desire, and Dread mengemukakan temuan menarik dari lab Berridge dan komplotanya yang memisahkan fenomena suka dan ingin.

Beridge dan komplotannya menggunakan penanda perilaku suka lewat juluran lidah. Seperti tikus dan bayi, mereka akan menjulurkan lidah ketika menyukai sesuatu. Mereka menambahkan dopamin pada otak tikus dan menyebabkan kelebihan neurotransmitter yang membuat tikus menginginkan makanan manis walaupun sebenarnya tikus tidak menyukainya. Mekanisme yang sama bekerja pada pecandu narkoba. Mereka semakin ingin mengkonsumsi narkoba walaupun lambat-laun rasa suka terhadap narkoba berkurang.

Temuan soal tak terkendalinya suka dan ingin, menjadi momok besar jika suka dan tidak suka telah kehilangan kontrol atas keinginan yang mungkin bisa dibentuk institusi hegemoni. Otonomi atas diri kita sendiri mungkin sudah lama enyah. Semuanya dibentuk dan suka tidak suka kita harus menjalankanya. Seperti laki-laki yang akhirnya memilih biru meski sebenarnya menyukai merah muda.

Jadi, jika kontrol atas keinginan yang dibentuk pasar atau institusi hegemoni berupa selera atau rasa suka tidak suka pun tak berdaya, maka tawaran Nancy dan Victoria perlu dipertimbangkan. Berhentilah mengetik pada mesin pencari dengan pemisahan gender untuk hal-hal yang tidak signifikan.[]

Rachmad Imam Tarecha
Pengamat junior, berkelas dan berwibawa.

Leave a Reply