Kegiatan Larut Malam Dinilai Tidak Positif

(15/09) Teater Kontemporer Komedi (TK2) UIN Maliki Malang menyelenggarakan pentas teater di depan teras gedung SC bertajuk, “Surat Cinta Untuk Rama,”. Aisha Burhan selaku anggota TK2 mengaku mempersiapkan pentas itu sekitar dua bulan. Aisha dan anggotanya latihan mulai pukul 06.00-10.00 WIB dan pukul 16.00-17.30 WIB lalu dilanjut pukul 19.00-00.00 WIB. Namun, Abdul Azis selaku Kabag Kemahasiswaan menilai bahwa latihan hingga larut malam merupakan kegiatan yang tidak positif. “Kalau kegiatan sampai larut malam, latihan, itu nggak positif dan sangat tidak dianjurkan,” ungkap Azis.

Menanggapi hal itu Aisha mengaku banyak rangkaian yang harus dilakukan saat pendalaman peran. Sehingga membutuhkan waktu yang lama, “Pertama pemanasan dulu, berimajinasi, konsentrasi, fokus, meditasi, setelah itu berusaha menyampaikan imajinasi lewat gerakan,” ungkapnya saat ditemui di Sekret TK2. Aisha menambahkan bahwa meditasi yang dilakukan hanya 30 menit dan menurutnya masih kurang intens, lalu ditambah lagi gerakan tanpa beban.

Aisha dan anggotanya memilih waktu latihan intensif dimalam hari karena menurutnya suasana itu hening. Ia mengaku jika latihan siang hari banyak suara-suara yang mengganggu konsentrasi, “Kebanyakan orang-orang seni itu imajinasinya keluar pada malam hari, lebih kreatif jadi ide-ide liar itu keluar pada malam hari,” tambah mahasiswi jurusan Pendidikan IPS ini.

Senada dengan Aisha mengenai latihan, Mohammad Sholeh Sabtin selaku anggota Pagar Nusa (PN) tidak setuju jika kegiatan larut malam dinilai tidak positif. Sholeh latihan hingga pukul 23.00 WIB dihari Rabu dan pukul 22.30 dihari Jumat. Menurutnya, waktu latihan yang dibutuhkan atlit bela diri ini masih kurang, “Malah seharusnya butuh waktu lebih karena ada waktu buat fisik dan materi, biasanya latihan fisik sekitar dua jam selebihnya ya materi,” ucap mahasiswa jurusan Manajemen itu.

Berbeda dengan Aisha dan Sholeh mengenai latihannya, Khoirudin Zain pun menyelesaikan kegiatan rapat organisasinya hingga larut malam. Zain selaku Ketua Pelaksana Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) UIN Maliki Malang 2018 mengatakan bahwa ia dan anggotanya  menyelesaikan rapat pukul 01.30 WIB ketika memilih 12 finalis grandfinal. Akibatnya, pengumuman 12 finalis MAWAPRES 2018 diundur satu hari, yang awalnya  tanggal 24 September menjadi 25 September 2018.

Perihal rapat yang berakhir hingga larut malam, Azis pun mengungkapkan kalau itu tidak punya kecerdasan memanajemen waktu, “Kalau rapat itu 1-2 jam selesai, saya dulu juga aktivis tetapi tidak sampai begadang-begadang,” tuturnya.

Zain menyayangkan perkataan Azis, menurutnya ia dan anggotanya harus menyatukan pikiran agar hasil yang didapat maksimal, “Banyak aspek yang dinilai, banyak pertimbangan dari teman-teman, kalkulasi nilainya perlu banyak waktu dan reng-rengan yang detail karena menyatukan angka itu nggak mudah,” katanya. Zain juga harus memilih finalis yang benar-benar berkualitas baik di akademik maupun non akademik.

Azis juga mengatakan bahwa dalam ajaran nabi dan rasul, malam hari dipergunakan untuk istirahat, “Alam itu kan punya ritme, siang dibuat untuk beraktivitas, malam dibuat untuk istirahat. Nabi dan Rasul juga mencontohkan seperti itu,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Sholeh mengungkapkan bahwa Azis belum mengetaui ruang lingkup kehidupan, “Toh banyak orang pasar bekerjanya malam hari, bukan berarti bekerja larut malam itu nggak positif, kalau orang lembur bagaimana? Apakah pekerjaan itu nggak positif? Selagi itu baik kenapa tidak,” pungkasnya.  Zain menambahkan bahwa kegiatan larut malam dianggap wajar ketika hal tersebut bertujuan baik dan menambah prestasi bagi mahasiswa. [Servita Ramadhianti]

One thought on “Kegiatan Larut Malam Dinilai Tidak Positif

Leave a Reply