Kekecewaan Mahasiswa Kimia dalam Pemira 2018

Pemilu Raya (Pemira) UIN Malang dilaksanakan di kantin Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) pukul 07.00 – 15.00 WIB (05/03). Namun ketika pencoblosan, surat suara calon Ketua Himpunan (Kahim) Kimia habis. Akibatnya beberapa peserta tidak mendapatkan hak memilih calon Kahim Kimia.

Dalam absensi yang disediakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Saintek, terdapat 223 mahasiswa jurusan Kimia yang hadir ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Namun hasil perhitungan suara hanya terdapat 201 surat suara. Sejumlah 60 suara untuk calon nomor satu, 139 surat suara untuk calon nomor dua, dan dua suara tidak sah. Berarti, ada 22 mahasiswa yang tidak mendapatkan hak memilih.

Salah satu peserta yang tidak mendapatkan hal memilih adalah Widiya Nur Safitri, ia pun merasa kecewa. “Ya sedih, kita sudah antusias mau nyoblos eh nggak jadi. Satu suara itu berharga. Kecewa sih kecewa, tahun ini tahun terakhir nyoblos,” ucap mahasiswa jurusan Kimia angkatan semester delapan itu. Senada dengan Widiya, Dhema Pissela Bayu Martha, mahasiswa baru jurusan Kimia juga kecewa dengan habisnya surat suara, ia tidak dapat memilih calon pemimpinnya. ”Kecewa, mbak, kita sebagai warga Kimia berhak menyalurkan suara dan berhak memilih calon pemimpin yang menurut kami memumpuni,” ujarnya.

Begitu juga dengan Maulida Qurrota ‘Ayun, mahasiswa baru jurusan Kimia, ia merasa kecewa karena tidak mendapatkan hak memilih calon Kahim Kimia. “Kan itu hak kita, kita mau nggak golput ternyata nggak jadi milih,” tuturnya. Elvin Eka Wanidia Utami juga menyayangkan hal ini dan terpaksa golput, “Kenapa dari awal nggak disiapkan lebih untuk segala yang dibutuhkan? Kami dan teman-teman kesal,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, Mohamad Abdul Falah, Ketua KPU Fakultas Saintek mengatakan, pihak panitia sudah menambah surat suara untuk calon kahim jurusan Kimia. “Sebenarnya sudah nambah (surat suara_red), kami minta menunggu setengah jam untuk mencetak, panitia sudah semaksimal mungkin dan ngomong baik-baik (kepada_peserta), kita juga sudah ngomong ke KPU-U untuk menambahkan surat suara,” katanya.

Namun menurut Maulida, ia sudah menunggu lebih dari sejam untuk surat suara tambahan, tapi tidak ada kepastian dari pihak panitia. “Nggak ada hasil dari panitia, buang-buang waktu saja,” keluhnya.

Abdul Falah pun menanggapi, saat pengambilan surat suara dikendalakan macet, dan waktu pencoblosan telah berakhir. “Tau sendiri kan Malang itu macet, agak lama datangnya. Saya cari anaknya udah nggak ada. Waktu pemira keburu tutup. Kan ada aturannya sendiri serentak Pemira ditutup pukul 15.00 WIB,” terangnya. Abdul Falah juga mengatakan bahwa dirinya telat mengetahui informasi kurangnya surat suara untuk mahasiswa jurusan Kimia. “Ketika surat suara tinggal 50 lembar, itu (panitia pemungutan suara_red) harus konfirmasi. Saya telat buka ponsel dan membaca informasinya, tadi saya lihat surat suara langsung dibawah 50 lembar,” ungkapnya.

Menanggapi peristiwa ini, Widiya mennyarankan, “seharusnya panitia menyediakan surat suara ¾ dari jumlah mahasiswa, terus kalau kehabisan surat suara cari tempat yang terdekat biar nggak kelamaan ngambilnya”. Arief Hadiyan Fithrony, mahasiswa baru jurusan Kimia juga memberi saran, “seharusnya kalau sudah ada daftar pemilihnya yang di absen, surat suara juga disesuaikan bahkan mungkin dilebihkan buat jaga-jaga kalau ada surat suara yang rusak”.

3 thoughts on “Kekecewaan Mahasiswa Kimia dalam Pemira 2018

  1. ini pelajaran buat KPU biar lebih tanggung jawab, alasan ponsel mati, malang macet itu klise. Hal ini akan menjadi cambuk buat KPU jangan salahkan mahasiswa kimia, kalo besok tidak ada yang mau ikut pencoblosan ditahun tahun selanjutnya.

Leave a Reply