Kekerasan Politik Masih Ada

Kekerasan politik masih saja terdengar di Aceh. Yuwani, calon legislatif (caleg) dari Partai Nasional Aceh (PNA) tewas dikeroyok Februari lalu. Nasib yang tak jauh beda juga menimpa Faisal, caleg PNA ini tewas ditembak pada 2 Maret seperti yang diberitakan beberapa media masa. Korban kekerasan politik ini tak hanya dari partai lokal Aceh saja. Muslim, seorang caleg Nasdem Aceh ini diculik dan disiksa, beruntungnya ia masih bisa melarikan diri 15 Maret lalu.

Melihat Aceh saat ini seperti melihat kembali Indonesia pada 1965-1966, dimana orang-orang yang dituduh komunis dibantai. Diferensiasi yang ekstrem memicu kelompok lain represif, membelenggu ideologi lain yang tak sejalan. Diferensiasi terhadap komunis kala itu berujung pada penculikan, pemenjaraan, pembantaian, bahkan pembunuhan. Aksi penundukan yang dilakukan kelompok-kelompok represif ini bisa dikatakan sebagai upaya menguniversalkan ideologinya.

Mpu Tantular, dalam kitabnya Sutasoma mengisahkan sebuah konsep Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna walaupun berbeda-beda tetapi sesunguhnya tetap satu. Kesatuan yang diwacanakan dalam Sutasoma ini masih mengakui adanya perbedaan. Diferensiasi didalamnya tak berujung pada tindakan penundukan, bahkan menghargai perbedaan lain, bisa dikatakan tak ada hal represif yang memaksa menuju logika tunggal.

Kedamaian bisa diupayakan jika kembali pada Bhinneka Tunggal Ika. Kedamaian akan hadir dengan upaya saling menghargai perbedaan satu sama lain. Sesederhana itu kah? Bagimana jika utilitas yang coba digapai saling bertentangan. Misalkan saja Aceh ingin merdeka dan bebas dari dominasi Jawa, sementara kepentingan yang lain ngeyel dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika mengacu pada dialektika Hegel, akan ada sintesis yang muncul dalam dua kutub yang saling bertentangan.

Nyatanya bukan perkara mudah untuk menemukan titik temu antara dua kutub yang jelas saling beretentangan. Karena itu ada saja yang tak sabaran dan menganggapnya sebagai hal utopis. Mereka berhasrat melakukan percepatan seperti penaklukan demi segera terwujudnya utilitas yang diinginkan. Terlepas belum terjawabnya soal titik temu, percepatan itu tak lantas mewajarkan upaya-upaya yang tidak manusiawi seperti kekerasan dan pembunuhan. Pembenaran terhadap percepatan yang menodai perikemanusiaan perlu ditelaah lagi. [Rachmad Imam Tarecha]

One thought on “Kekerasan Politik Masih Ada

Leave a Reply