Kelakar Zaskia dan Hilangnya Makna Pancasila

Netizen dan warga Indonesia di dunia nyata heboh. Pasalnya, ada orang yang menghina lambang negara ini. Adalah Zaskia Gothik seorang penyanyi dangdut yang melakukan pelecehan terhadap pancasila.

Kejadiannya bermula saat program Dahsyat edisi selasa 15 Maret 2016 di putar di RCTI. Di acara tersebut, Denny Cagur selaku host bertanya kepada Zaskia Gothik. “Pancasila, sila kelima gambar apa?” tanya Denny. “Bebek nungging,” tulis Zaskia di kertas yang disediakan untuk menjawab.

Sontak saja, melihat perilaku Zaskia itu warga Indonesia meradang. Protes, kritikan dan cacian langsung ditujukan kepada Zaskia Gothik. “Saskia gotik itu cantik mukanya aja tapi ga ada otaknya,” caci akun facebook Thithien Nya Aris menanggapi berita Zaskia di laman diposkan.com. Tak kalah meradangnya, akun facebook Boy Jhoened mencaci lebih keras dari Thithien. “Zaskia tau nya cuma mekangkang dapat duit,” tulisnya di laman diposkan.com.

Kehebohan karena perilaku Zaskia itu tak hanya terjadi di dunia maya, tapi juga dunia nyata. Di dunia nyata tak hanya warga sipil saja yang kecewa dengan sikap pemilik goyang itik itu, tapi juga anggota DPR dan DPD RI. “Penghina lambang negara itu harus diberi hukuman yang berat, karena ini memang diatur dalam perundang-undangan,” kata Agus Hermanto, wakil ketua DPR dari fraksi Partai Demokrat. Selain itu, kecaman juga datang dari Fahira Idris, wakil ketua komite 3 DPD RI. “Yang bersangkutan telah melecehkan lambang negara yang harusnya kan kita hormati. Contoh ada orang luar yang menghina negara kita, kan kita pasti marah. Dia seharusnya bisa menjaga perkataannya itu, apalagi dia seorang artis,” kata Fahira.

Bahkan Fahira Idris sudah resmi melaporkan Zaskia Gothik ke polda metro jaya dengan tuduhan Pasal 154a KUHP tentang penodaan terhadap bendera dan lambang negara RI junto Pasal 155 KUHP tentang menyebarkan perkataan yang mengandung pernyataan permusuhan dan kebencian. “Soal ZG (Zaskia Gothik) ini sangat merisaukan dan harus diproses secara hukum karena telah melakukan pelecehan terhadap lambang negara. Candaan atau kelakarnya bodoh. Lambang negara bukan untuk dipermainkan,” ujar Fahira kepada CNNIndonesia.com.

Tak hanya Fahira seorang saja yang melaporkan perbuatan Zaskia itu, penyidik Cyber Crime Polda Metro Jaya dan LSM KPK ikut melaporkannya ke polisi. Lengkap sudah penderitaan penyanyi dangdut lulusan SD ini.

Saya sendiri sangsi dengan kelakar Zaskia yang berlebihan itu. Tapi saya lebih sangsi lagi dengan sikap lebay anggota DPD, DPR, pihak Cyber Crime dan LSM yang mencoba memenjarakan Zaskia Gothik. Karena secara hukum pelantun “bang jono” ini tak bisa dikenakan pasal penghinaan lambang negara. Coba baca deh pasal 154 huruf a KUHAP yang berbunyi, “barang siapa yang menodai bendera Kebangsaan Republik Indonesia dan lambang Negara Republik Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”

Untuk memahami pasal ini harus ada penjelasan mengenai lambang negara Indonesia. Kita bisa ambil penjelasan dari UU no. 24 tahun 2009 pasal 46 yang menyatakan, “lambang negara kesatuan republik Indonesia berbentuk garuda pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.” Jadi, dalam konteks zaskia mengganti padi dan kapas dengan bebek nungging, bukan bentuk penodaan terhadap lambang negara. Karena UU no 24 tahun 2009 tadi sudah menjelaskan dengan jelas bahwa lambang negara adalah Garuda.

Jika yang diplesetkan Zaskia hanya lambang padi dan kapas, itu tak memenuhi syarat penodaan lambang negara. Kalaupun beberapa pihak ngotot ingin Zaskia dipenjarakan karena menodai lambang padi dan kapas, harusnya dari sejak dulu lembaga atau organisasi-organisasi swasta yang menggunakan lambang padi dan kapas dipenjarakan juga. Karena perusakan dan pemakaian terhadap lambang negara jelas-jelas melanggar UU. Ringkasnya, KUHAP pasal 154 a KUHAP hanya  mengatur tentang penodaan tentang bendera merah putih dan lambang negara berupa garuda pancasila, bukan padi dan kapas. Karena dalam UU yang dimaksud dengan lambang negara adalah garuda.

Adapun pasal lain yang dituduhkan kepada Zaskia adalah pasal 57 huruf a dalam UU no. 24 tahun 2009. Pasalnya berbunyi, “setiap orang dilarang: a. Mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara.”

Perlu diingat, bahwa kalimat-kalimat dalam Undang-undang adalah kalimat yang jelas, padat dan terang maknanya. Dalam pasal 57 huruf a UU no. 24 tahun 2009 tersebut jelas diterangkan bahwa mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Garuda (Lambang Negara) melanggar Undang-undang. Zaskia jelas-jelas tak mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak burung Garuda. Bahkan ia hanya mencoret-coret selembar kertas putih. Apa mencoret-coret selembar kertas melanggar undang-undang?  Apalagi berdasarkan pernyataan maaf Zaskia, bahwa tidak ada niat atau maksudnya untuk menghina burung Garuda.

Jadi saya pikir, Fahira Idris, Cyber Crime dan LSM KPK tak perlu repot-repot mempolisikan Zaskia. Karena akan terjadi pemaksaan undang-undang. Harusnya tak ada tindak pidana, diada-adakan. Tentu ini tidak sesuai dengan sila kelima itu sendiri: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Disamping itu, semakin ngotot Fahira Idris, Cyber Crime dan LSM KPK memenjarakan Zaskia atas nama nasionalisme, semakin sempit pula nasionalisme mereka. Karena banyak kelompok-kelompok tertentu yang jelas-jelas merusak pancasila dan menggerogoti nasionalisme. Lihat saja kelompok dan personal yang di muka umum kerap mengkafirkan Gubernur DKI Ahok. Banyak pula kelompok dan personal yang menyulut permusuhan dengan mem-PKI-kan atau meng-komunis-kan kelompok dan pribadi yang mengkaji sejarah lain dari G30S 1965.

Bahkan, Fahira Idris yang mempolisikan Zaskia, di akun twitternya kerap mengkafirkan Ahok, yang dengan jelas mengajak umat muslim di Indonesia untuk memusuhi dan membenci gubernur DKI ini. Perilaku Fahira ini jelas-jelas mencoba menghilangkan makna dan lambang Garuda Pancasila yang bertuliskan: Bhinneka Tunggal Ika. Perilakunya ini juga mengancam dan menghina sila ketiga yakni Persatuan Indonesia, serta bertentangan pula dengan KUHAP Pasal 156 yang berbunyi, “barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap sesuatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.” Sekian.[]

Hendri Mahendra

Hendri Mahendra
Cuma penulis amatir

One thought on “Kelakar Zaskia dan Hilangnya Makna Pancasila

  1. Ini Pembelaan yang salah kaprah atau hanya sebatas cari sensasi pula. Jangan karena keberpihakan dan mencari jalan yang beda akhirnya membunuh kita sendiri. Coba dicermati pertanyaan dari Denny Cagur. Dia sudah menyebutkan Pancasila. mas Hendri juga perlu belajar ilmu sastra/Balghoh deh. biar tahu maksud dari teks atau perkataan. ada kalimat itu yang disebutkan sebagian tapi bermakna untuk kesemuaanya, pun sebaliknya. Pancasila tanpa simbol kelima juga tidak bermakna pancasila. Boleh tuh klau pindah jurusan Hukum saja, tak pikir di UIN MMI gk ada yang s1 Hukum, kecuali hukum Syariah.

Leave a Reply