Kembalikan Masa Mudaku

Sumber gambar: soulmaks.com
Sumber gambar: soulmaks.com

Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun berlarian di tengah taman bermain pusat kota. Anak itu tertawa riang sambil melemparkan bola plastik ke arahku. Tawanya mengingatkanku dengan seorang teman. Kenangan itu terus meluncur jatuh di pikiranku, seperti rintik hujan sore ini. Tak bisa dihentikan, semakin deras, dan membasahi setiap objek yang ada di bumi. Gelak tawanya masih tergambar jelas dalam ingatan.

***

Suara langkah kaki menghentikan pembicaraan dua gadis berusia 15 tahun yang sedang asyik bercerita pengalamannya hari ini. Fatima menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Menyembunyikan tawa di balik selimut. Suara penjaga asrama sekolah memperingatkan waktu tidur bagi para penghuni asrama. Amat teratur seperti biasanya. “Dimohon untuk semua siswi menghentikan setiap aktivitasnya. Jam sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam,” teriak penjaga asrama.

Hey Mei, apa kamu sudah tidur?” tanya Fatima dengan nada berbisik kepadaku.

”Aku mau tidur Ima, jangan mengacau. Jika kamu ingin dihukum menyikat toilet malam ini, lakukan saja sendiri,” sahutku dengan pelan.

Ah kamu nggak asyik, Mei!” timpal Fatima.

Kami merupakan siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di kabupaten dengan tingkat populasi penduduk cukup tinggi di Jawa. SMP kami cukup modern. Segala sesuatu penunjang pendidikan dilengkapi teknologi yang tidak kalah dengan yang berada di pusat kota. Sekolah kami menyediakan asrama bagi siswa-siswi yang jarak rumahnya jauh.

Aku dan Fatima ditempatkan dalam satu kamar. Ranjang tempat tidur kami pun bersebelahan. Mungkin karena kami berasal dari daerah yang sama. Luas masing-masing kamar di asrama berlantai empat ini sekitar 3×3 meter. Satu kamar hanya diisi oleh dua orang saja.

Fatima selalu bersemangat untuk belajar. Ia gadis yang ceria, senyumnya begitu manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Kulitnya sawo matang dan perawakannya kurus dengan tinggi 145cm. Fatima selalu menjadi juara kelas, bahkan sejak kami masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Gadis yang memiliki cita-cita sama denganku ini selalu mengejekku karena aku selalu saja mendapat peringkat terakhir di kelas.

***

Kringgggg! Kringgg! Kringgg!

Dering jam weker membangunkanku tepat pukul tujuh pagi. Saat aku menoleh ke samping, Fatima sudah tidak ada di ranjangnya. Secarik kertas berisi catatan tertempel di kaca jam weker.

Hey dokter Mei, bersiaplah untuk masuk Instalasi Gawat Darurat pagi ini karena terlambat. Aku berangkat dulu. Bye bye…

Itulah yang ditulis Fatima. Tanpa pikir panjang, aku langsung memakai seragam dan mengambil tas. Lalu berlari dari lantai empat ke lantai dasar menuju ruang kelas. Sepanjang jalan tak henti-hentinya bibir ini mengutuk Fatima. Ini bukan kali pertama ia mengerjaiku seperti ini. Aku berharap bisa menjambak rambutnya saat tiba di kelas nanti.

***

Waktu sungguh cepat berlalu. Satu minggu lagi kami akan menghadapi ujian sekolah. Siang dan malam kami habiskan untuk belajar. Ima dengan telaten mengajariku beberapa mata pelajaran yang tidak kumengerti. Ima sangat tertarik dengan dunia kesehatan. Pernah aku memergokinya saat beribadah, tengah malam ia bersujud dan berdoa meminta agar ia dan aku diberi kemudahan untuk mewujudkan impian masing-masing. Tanpa kusadari, air mata membasahi kedua pipiku. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk lebih serius mewujudkan mimpi-mimpiku.

***

Satu minggu berlalu…

Seminggu kemudian, pengumuman kelulusan tertempel di papan pengumuman sekolah. Aku segera bergabung dengan kerumunan teman-temanku yang sedang mencari namanya masing-masing. Jariku terus mengurutkan nama dari bawah ke atas. Mencari namaku dalam daftar panjang itu. Urutan 157 dari 250 siswa. “Yeah, ini dia!” sorakku bahagia. Segera aku mencari nama Fatima.

Aku pun menemukan namanya. Di saat yang bersamaan, aku merasa sedih dan bahagia. Sedih karena aku bahkan tidak layak menjadi tandingan seorang Fatima. Namun, bahagia karena usahanya selama ini tidaklah sia-sia. Fatima berada di urutan pertama dengan nilai terbaik. Semua mata pelajaran yang diujikan, nilainya hampir sempurna.

Fatima menghampiriku dan mengucapkan selamat. Kami berpelukan bahagia. Namun, kami tak boleh larut terlalu lama dengan kebahagiaan karena kelulusan ini. Ujian masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah menanti kami. Masih ada waktu dua minggu untuk belajar. Kami memiliki tujuan yang sama, yakni bisa diterima di SMA nomor 1 di luar kota.

Masih sama dengan saat  akan menghadapi ujian sekolah. Aku belajar sejak siang hingga malam. Namun bedanya, Fatima tidak bisa mengajariku karena jarak rumah kami cukup jauh. Harus melewati perkebunan singkong dan tebu, kira-kira 80 kilometer.

***

Dua minggu berlalu. Ruang ujian Fatima tepat berada di sebelah ruangku. Selesai ujian, aku menunggunya di depan ruang ujian. Aku tidak sabar ingin pamer karena bisa keluar lebih dulu. Namun, ia tak kunjung tampak. Hingga bel penanda ujian berbunyi dan satu persatu peserta ujian keluar dari ruang, tak satupun dari mereka yang menandakan ciri-ciri Fatima. Muncul banyak pertanyaan yang berontak ingin keluar dari kepalaku dan menyeret lidahku untuk berbicara. Aku segera menghampiri pengawas ujian yang baru saja keluar dari ruang ujian.

“Maaf Pak, mengganggu. Apakah ada peserta di ruangan ini yang tidak ikut ujian?” tanyaku pada pengawas itu.

“Iya, nama identitasnya Fatima Azahra,” jawabnya.

Semakin banyak spekulasi-spekulasi liar yang muncul di kepalaku. Kaki ini lemas seketika. Apakah Fatima sakit? Apa terjadi sesuatu di jalan? Aku memutuskan untuk mendatangi rumahnya demi mendapat kejelasan.

***

Setibanya di rumah Fatima, aku hanya bertemu dengan ibu dan ayahnya. Mereka menjelaskan secara singkat apa yang terjadi.

Setelah mengetahui semuanya, aku pun memutuskan untuk segera pulang dan kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, air mataku tak henti-hentinya menetes membasahi jalanan yang berdebu.

Menikah? Secepat ini? Apa aku sedang bermimpi? Berkali kali aku memejamkan mata,mencubit lenganku. Bahkan, ibunya menunjukkan foto pernikahan Fatima kepadaku.

“Oh Tuhan….Kenapa aku masih menyangkal ini semua?” kataku dalam hati. Ibunya mengatakan, satu minggu yang lalu Fatima sudah pindah ke luar kota bersama suaminya.

***

Kabar pernikahan itu menjadi kabar terakhir yang aku terima tentang Fatima.  Bahkan, saat aku sudah lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, Fatima masih belum ada kabar.

Tiba-tiba, hari ini aku mendapat kabar duka. Dua hari menjelang hari wisudaku, ayah Fatima meninggal dunia. Selang satu hari kemudian, ibu Fatima pun menyusul kepergian ayah Fatima.

Aku yang mengenal keduanya pun segera pergi ta’ziah. Ini kali kedua aku merasa sedih dan bahagia dalam waktu yang bersamaan, selain pengumuman kelulusan SMP dulu. Hari itu, aku bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Fatima. Sayangnya, kebahagiaan itu justru aku rasakan saat momen berduka seperti ini.

Fatima bercerita padaku bahwa ia sudah bercerai. Suaminya dipenjara karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan terlibat kasus narkoba.  Kini ia tinggal bersama kedua anaknya yang masih berumur 6 dan 2 tahun. Hatiku teriris mendengar ceritanya. Kuusap air mata yang terus mengucur deras dari kedua mata sahabatku itu.

Entah apa yang akan dia lakukan setelah ini. Jangankan berfikir untuk melanjutkan sekolah, untuk melanjutkan hidup saja ia enggan. Tiap akhir pekan, aku selalu mengunjungi Fatima. Semakin hari,i keadaannya semakin parah. Tubuhnya semakin kurus, sakit-sakitan, dan semua harta peninggalan kedua orang tuanya sudah habis untuk biaya pengobatannya. Kedua anaknya semakin tidak terurus. Kerabatnya tidak ada yang mau menampung. Untuk makan sehari-hari, hanya dari belas kasihan tetangga-tetangga sekitar saja.

Aku ingat betul, dulu aku dan Fatima pernah membayangkan masa depan yang indah. Setelah lulus SMP, kami akan sekolah di SMA nomor satu di kota, lalu diterima di universitas sebagai mahasiswa kedokteran. Aku menjadi dokter relawan dan dia menjadi dokter spesialis bedah. Lalu kita berdua akan mendirikan ruma sakit impian, di mana orang miskin gratis berobat di ruma sakit itu.

Ketika aku mengingat itu, dadaku semakin sesak. Ingin menjerit sejadi-jadinya, bertanya kenapa takdir begitu tidak adil kepada Fatima. Keadaannya semakin parah ketika ia terserang depresi berat, Ia pun terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit Jiwa. Kedua anaknya hanya bisa menangis melihat ibunya dipaksa masuk ke dalam ambulan.

Aku memutuskan untuk mengadopsi kedua anak Fatima atas persetujuan kedua orang tuaku. Aku berjanji akan merawat kedua anak itu sampai Fatima benar-benar sudah sembuh total. Setiap akhir pekan, aku mengajak anak-anak Fatima untuk berkunjung ke rumah sakit jiwa.

Saat Fatima memperagakan gaya seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya, aku tak kuasa menahan tangis. Ia tertawa lalu menangis sejadi jadinya, menyalahkan kedua orang tuanya perihal pernikahannya. Ia selalu berteriak, “Kembalikan masa mudaku! Kembalikan masa mudaku!”. Melihat itu, aku berfikir bahwa mungkin mendiang orang tua Fatima dulu sudah memaksakan kehendaknya pada Ima. Ima gadis penurut, aku tau itu.

***

“Ma..hujan, Ma…Ayo berteduh!”

Suara anak kecil itu membuyarkan lamunanku. “Ah…Sudah empat tahun berlalu. Fatima, lekaslah sembuh,” gumamku dalam hati. Anak kecil itu adalah putri pertama Fatima. Ketika ia besar nanti, aku tak akan pernah memaksakan kehendakku terhadapnya. Akan kubiarkan ia memilih apapun yang ia sukai. Jika akhirnya nanti ia memilih untuk menikah di usia muda, aku akan menceritakan kisah ibunya. [Reni Dwi Anggraini]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply