Kesalahan Konsep Radikalisme Agama

Radikalisme merupakan prinsip-prinsip atau praktik yang dilakukan secara radikal oleh suatu golongan tertentu. Dalam perkembangannya, konsep radikalisme lebih dikenal dengan gerakan yang berpandangan kolot dan sering kali menggunakan kekerasan dalam mengajarkan kayakinan tertentu. Radikalisme meluas, agama acap kali dikaitkan dengan radikalisme. Sehingga kasus terorisme, anarkisme, dan doktrin-doktrin yang dianggap benar.

Radikalisme agama muncul akibat adanya pemahaman terhadap konteks agama yang salah. Pemahaman terhadap ajaran agama yang salah inilah yang menyebabkan radikalisme agama berkembang pesat. Agama dijadikan alat untuk mengintimidasi dan menindas sekelompok orang yang bertentangan dengan pahamnya.

Radikalisme dan terorisme di Indonesia terjadi akibat adanya suatu kelompok masyarakat yang anti terhadap Amerika, yang kemudian melancarkan serangan bom di berbagai daerah. Di indonesia sendiri, banyak kasus radikalisme yang terjadi. sejarah, kasus bom Bali I dan II, serangan bom rilz-colten, tragedi bom bunuh diri di jalan M.H. Thamrin hingga dugaan kasus pengerebekan Teroris di Malang Jawa Timur. Kasus yang terjadi didasari oleh adanya perbedaan ideologis diantara masyarakat. Bambang Wibiono dalam artikelnya “Radikalisme Agama dan Terorisme: Penyudutan Umat Islam”, menjelaskan bahwa Radikalisme agama muncul karena ketidakmauan golongan umat islam untuk tunduk pada konsep islam yang dibentuk orang barat.

Sasaran utama pemahaman konsep radikalisme yakni golongan mahasiswa. Penyebaran pemahaman tersebut sering kali dilakukan melalui doktrin seacara radikal yang dilakukan dalam forum komunikasi. Sehingga menimbulkan perbedaan ideologis. Perbedaan ideologis terkait radikalisme juga terjadi di kalangan mahasiswa. Dema FITK uin maliki Malang, mengadakan kegiatan Gerakan Islam Cinta (GIC) (24/2) yang memiliki tujuan sebagai respon kaum muslim moderat terhadap fenomena intoleransi dan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Dalam Seminar yang bertemakan menyegarkan kembali budaya islam damai di Indonesia, Agus Sunyoto seorang sejarawan mengatakan kasus terorisme yang terjadi di Indonesia dapat terjadi dengan adanya pola penyebaran pemahaman radikalisme agama melalui budaya dan seni. Budaya dan seni telah mengakar di masyarakat sebagai suatu bentuk kebiasaan. Kebiasaan tersebut akhirnya  menjadi media yang tepat untuk penyebaran paham radikal.

Samuel P. Huntington dalam artikel “The Clash of Civilizations and The Remaking of The Word Order menjelaskan mengenai penyebaran paham radikal yang berkaitan dengan peradaban. Huntingtonn menegaskan secara implicit bahwa tatanan dunia pada era modern nantinya akan didominasi oleh benturan-benturan peradaban  agama dan etnik budaya. Menurutnya, agama adalah inti peradaban, dan agama merupakan kekuatan sentral yang bisa memobilitaskan masyarakat dengan sistem budaya. Dengan pondasi agama inilah, membuat orang sering kali memiliki kecenderungan untuk bertindak diluar batas normal. Agama dijadikan sebagai pondasi terkuat dalam berbuat sebuah tindak. Kasus jihad dan terorisme yang sering kali terjadi diakibatkan adanya doktrin agama yang salah. Sehingga banyak korban berjatuhan akibat adanya kesalapahaman tentang konsep islam. Seperti halnya kasus Bom Bali I 12 Oktober 2002yang menewaskan 202 dan 209 korban luka-luka penunjung di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legina, Kuta-Bali. [Ahmad Ilham Ramadhani]


Editor : Luluk Khusnia


UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply