Ketahanan Palsu

The Act of Killing (Jagal), sebuah film yang menceritakan perjalanan hidup seorang mantan Algojo PKI 1965, Anwar Congo. Film documenter ini menampilkan adegan-adegan bagaimana dan mengapa Anwar  membunuh para korbannya, serta bagaimana pembuatan adegan tersebut mempengaruhi diri Anwar.

“Kita dengan sederhana.. mewujudkan satu contoh cerita yang pernah kita lakukan pada masa muda kita” Ucap Anwar pada cameraman. Herman Koto, preman dan pimpinan Pemuda Pancasila, yang duduk di sampingnya mengamini.  Mereka ingin menampilkan bagaimana mereka menjadi bagian dari sejarah pemberantasan PKI pada masa lalu. Adegan selanjutnya menampilkan praktek penyiksaan dan pembunuhan simpatisan PKI di atas sebuah gedung pertokoan.

Lelaki berambut putih, berbaju hijau, dan bercelana putih itu memperagakan bagaimana ia memukul korbannya hingga mati. Darah keluar membanjiri lantai. Untuk mengurangi genangan darah yang bau, teknik baru pembunuhan dilakukan.  Leher korban yang disandarkan pada tiang diikat dengan kawat kemudian ditarik.  Setelah meminum Alkohol, sedikit mariyuana dan ekstasi, ditambah alunan music Anwar lalu menari Cha Cha. “cha .. cha.. cha..titi… rata..tara.. tara.. tata.. he hey..” langkahnya maju mundur, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum.

Anwar juga membunuh simpatisan PKI di bioskop tempat ia bekerja, Medan Bioskop. Ia melakukannya ditengah pekerjaannya sebagai pencatut karcis. Anwar melakukan hal itu sebagai bentuk kebencian terhadap komunis yang membuat pemutaran film asing dikurangi lewat opini mereka tentang pemutaran film Amerika yang tidak dibenarkan. Penonton Medan Bioskop yang saat itu banyak menyukai film “luar” itupun berkurang

Saat bekerja sebagai pencatut Karcis bioskop, anwar melihat penonton yang sebagian terdiri dari siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) ketakutan dan trauma. Mereka menyaksikan adegan keji dalam film Penghianatan G30S/PKI, sebuah film propaganda pemerintah untuk menanamkan kebencian masyrakat terhadap PKI. Setiap siswa dari sekolah dasar hingga menengah atas diwajibkan untuk menonton film tersebut pada pemerintahan Soeharto. Anwar mengaku bangga telah melakukan pembunuhan yang lebih kejam dari adegan di film tersebut. Ia berkata, “Dalam diri saya, saya tetap bangga. Karena apa yang dilihat anak-anak itu, saya telah dapat berbuat. Bahkan lebih dari perbuatan itu (perbuatan di dalam film_red)”.

Di sisi lain, perasaan bangga Anwar ternyata merupakan Defence Mecanism dirinya. Freud, salah satu tokoh besar psikoanalisis, menyebutnya sebagai tindakan tidak sadar individu untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak ingin diakui. Seperti pengalaman traumatis dan perasaan bersalah. Pertahanan diri Anwar yang berupa penyangkalan tidak cukup kuat, hingga ia sering didatangi mimpi buruk.

Arwah tertawa menyeramkan datang dalam tidurnya. Membuatnya sering mengigau dan terjaga di tengah malam. Saat Anwar berteriak dalam tidurnya, “Bergh! Bergh… “ibunya akan membangunkannya dan menyuruhnya mencuci kaki sebelum tidur, agar tidak bermimpi buruk. Freud menyebut mimpi sebagai manifestasi dari pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan oleh individu. Pikiran-pikiran yang tidak ingin diungkapkan dalam bentuk perilaku oleh seseorang akan tersimpan dan berada pada arena ketidaksadaran. Mimpi Anwar datang akibat dari perasaannya yang tidak nyaman atas pekerjaannya di masa lalu “Seseorang tidak ingin mati, tapi saya paksakan ia untuk mati” tutur Anwar. Perasaan tidak nyaman merupakan peringatan bagi seseorang bahwa ada sesuatu yang salah. Sebagaimana rasa sakit pada tubuh sebagai pengingat adanya benda asing yang mengganggu.

Sejak awal adegan, anwar selalu memeragakan dirinya sebagai pelaku penyiksaan dan pembunuhan. Setelah adegan selesai diambil, ia akan menontonnya kembali lewat televisi di rumahnya. Tahap ini membantu Anwar mengevaluasi perilakunya sendiri sebagai pihak ketiga, dirinya yang kini berada dalam situasi berbeda dari masa lalu. Hasilnya, anwar menyatakan perbuatannya bersalah. “Saya yang salah ini,” ucap Anwar pada Herman, saat  menonton bagaimana dirinya membunuh dan menyiksa simpatisan PKI pada adegan pertamanya. “Pengakuan” merupakan kunci runtuhnya pertahanan diri yang dibuat oleh Anwar.

Adegan demi adegan terus mereka buat hingga adegan terakhir, yang merupakan titik klimaks di mana proses pembuatan adegan semakin menyeret Anwar untuk mendalami perilakunya. Anwar memerankan diri sebagai korban pada adegan terakhir. Dengan make up kepala berdarah, Anwar duduk di kursi introgasi. Tiga temannya berperan sebagai pengintrogasi, membentak-bentak Anwar, mengacungkan pisau ke dahinya, memukul punggungnya, mengancam, dan tindakan-tindakan kasar lainnya. Pengambilan adegan sempat terhenti, mata anwar perih terkena aliran make up darah di wajahnya. Anwar menarik nafas panjang sebelum dibuat kaget oleh gebrakan Herman dan sebilah pisau yang tiba-tiba diacungkan ke lehernya. Ia beberapa kali menarik napas panjang, seakan merasakan ketakutan-ketakutan. Selanjutnya Herman menutup mata Anwar dengan kain hitam, melilitkan kawat di lehernya, dan menariknya. Tubuh Anwar mengejang. “Kayak hilang sesaat” ucap Anwar lemas saat Herman melepas kawat dan kain di matanya. Adegan tersebut diambil kembali. Mata Anwar ditutup kain hitam, lehernya dililit kawat, dan Herman mulai menariknya. Tapi Anwar tiba-tiba menggerak-gerakkan tangannya, meminta berhenti. Ia segera mencopot kain, “udah, nggak bisa diulangi” ucap Anwar gemetar. Tubuhnya kembali lemas.

Akhir cerita, anwar menangis. Tanpa daya, ia tertegun menatap dirinya di layar kaca. Pada saat adegan di mana ia berperan sebagai korban, anwar merasa kehilangan harga diri dan merasakan ketakutan yang luar biasa. “Saya dapat merasakan, perasaan mereka yang disiksa saat adegan itu. Atau apa karena dosa saya,ya? Banyak manusia yang saya bikin gitu. ” ucap Anwar seraya mengusap air matanya. Pertahanan diri Anwar hancur lebur. Berulang kali ia berucap “Saya yang salah ini.” Pengakuan nyata yang membuatnya mengakui perasaan bersalah yang selama ini ia tutupi dengan perasaan bangga. [Uswatun Hasanah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply