Ketimbang Pertanian, Lebih Asyik nyokong Sektor Jasa

   Beberapa alat berat, seperti crane dan eskafator berada di tengah jalan Gatot Subroto, Palembang. Alat berat tersebut memisah antara kendaraan yang ada di lajur kanan dan kiri. Mereka, para pekerja proyek dengan alat beratnya, tampak sedang mengerjakan pembangunan tiang penyangga untuk proyek light rail transit (LRT).

   Sore ini kendaraan seperti mobil, motor, truk, angkutan kota, juga bis mini bergerak merayap, melewati jalanan yang sedang direnovasi. Bunyi klakson kadang terdengar bergantian, menjadikan riuh kendaraan makin ramai.

   Bulan maret kemarin, presiden joko widodo datang kesini untuk menengok proyek LRT tersebut. Tapi pak presiden mungkin tak mengambil jatah, untuk merasakan sensasi jalan merayap yang terjadi macam sore ini. Proyek dengan alokasi dana 7,2 trilliun ini, dijadikan jalur istimewa untuk menghubungkan bandara internasional sultan mahmud badaruddin II menuju gedung olahraga jakabaring. Hal ini digunakan sebagai modal transport baru, menyambut para atlet yang mengikuti Asian Games 2018 di Palembang.

  Saya melewati jembatan ampera, lalu menuju perempatan dibawah flyover simpang jakabaring. Sebelum perempatan tersebut, saya kembali melihat aktivitas beberapa orang yang sedang merenovasi bahu jalan. Alat-alat berat pun tentu ada disana.

   Di kesempatan berbeda, saya berada satu mobil dengan pak piyah-begitu saya memanggilnya. Dia tinggal di daerah Plaju. Menurutnya, pembangunan di palembang terbilang cukup pesat, termasuk LRT dan pelebaran jalan. Apalagi dengan akan diselenggarakannya sea games di kota ini. Perihal dengan ada tidaknya yang protes terkait efek pembangunan infrastruktur, dia menjawab ada. “Ya kan ada orang-orang kegusur dari lahannya itu akibat pelebaran jalan,” ungkapnya.

   Saya merasa dejavu, lantas teringat dengan pernyataan Abd. Charis fauzan di media facebook. “Hari ini, jalan depan rumah akan diperlebar 1,5 meter pada ruas kiri maupun kanan. Sehingga nanti lebar jalan akan diperkirakan mencapai hampir 10 meter. Makin lama makin tak punya halaman. Makin tak ada lahan buat jemur gabah. Kendaraan akan semakin ramai dan bising. Oh tidak, desa saya akan segera di”kota”kan,” tulisnya pada 27 juli 2016.

   Saat ditanya lebih lanjut, charis menganggap pelebaran jalan hingga mengorbankan halaman rumah warga itu, terlalu berlebihan. Belum lagi, pohon yang usianya puluhan tahun, harus ditebang pula.

   Menurutnya, pemerintah Kabupaten Mojokerto terlalu berambisi dalam renovasi jalan, yang ingin menjadikan seluruh jalan di desa dilapisi beton. Dengan konsekuensi tambahan, dilaksanakannya pelebaran jalan pula. Dengan dilapisi beton, jalan mungkin akan lebih awet dan baik. Tapi dengan pelebaran jalan, ini akan merisaukan warga yang disebut-sebut sebagai jowo sing neriman. Apalagi yang bisa mereka lakukan selain menerima dan legowo dengan rencana pemerintah?

   Lahan pertanian di daerah charis tinggal, di kecamatan mojosari, sudah mengalami penurunan luas lahan. Sepengetahuannya, dalam 4 tahun terakhir, sudah berdiri dua perumahan besar yang bercokol di lahan yang dulunya untuk kegiatan bertani.

   Dengan jalan yang makin lebar, mobil produksi negara tetangga akan semakin nyaman berkendara disini. Kereta layang yang mulai bermunculan, turis dari negara lain, akan semakin giat datang kemari. Prospek ekonomi dari sektor jasa memang sangat menjanjikan. Berbeda dengan sektor produksi, apalagi pertanian.

Banyak dari petani yang beralih jasa ke profesi yang lain. Lihat saja di wilayah arjosari, malang. Tempat didirikannya perumahan araya, dulunya adalah lahan pertanian luas. Petani disana mengaku telah dibeli tanahnya dengan harga 3x lipat dari harga standard. Uang hasil penjualan tanah tersebut, lantas digunakan untuk modal bekerja dengan profesi lain.

   Ya, kerjanya petani itu bisa dibilang susah dan tidak praktis, jika dilihat dari perspektif ekonomis. Proses penanamannya bisa sampai 3-6 bulan, pupuk kadang langka. Belum lagi, aktivitas bertani sangat bergantung dengan kondisi alam. Semuanya serba tak pasti. Pemerintah bisa apa untuk memastikan kondisi alam agar sesuai dengan musim tanaman?

   Mungkin lebih asyik mengurusi sektor jasa, seperti infrastruktur begitu. Cukup yang pasti-pasti saja. Jika nanti lahan pertanian sudah diganti dan direnovasi dengan bermacam-macam rupa, para petani tinggal alih profesi menjadi kuli.[Salis Fahrudin]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply