Kisah Pelik Dunia Fashion Mode

“Ini kisah tentang pakaian yang kita kenakan, orang-orang yang membuat pakaian, dan dampaknya pada dunia. Ini adalah kisah tentang keserakahan, ketakutan, kekuasaan, dan kemiskinan. Sebuah persoalan kompleks, terjadi diseluruh dunia. Sekaligus sederhana, mengungkap bagaimana kita terhubung ke banyak hati dan tangan dibalik pakaian kita” tutur seorang sutradara dalam prolog film The True Cost, Andrew Morgan.

Ia seorang sinematografi sekaligus pendiri Untold Creative, sebuah studio pembuatan film hybrid. Saat ini ia menjabat sebagai sutradara kreatif. Film ini rilis di bulan Mei pada tahun 2015, mendapat tanggapan baik dan tidak sedikit orang-orang yang tergugah hatinya. Sebab film ini mampu membukakan mata bagi orang-orang yang masih dibutakan dengan dunia fashion mode yang semakin berkembang pesat.

Dimulai dari kisah pahit dibalik proses pembuatan pakaian, para pekerja membanting tulang dengan gaji yang rendah atau disebut sweatshop. Dalam film ini, mengulas tentang hak asasi manusia, masalah ketenagakerjaan hingga dampak lingkungan di masa depan. Serta mengkritik para pemodal yang hanya memikirkan profit perusahaan tanpa memikirkan kesejahteraan dan keselamatan pekerja.

Seperti perindustrian garmen yang berada di Bangladesh. Nama brand produknya telah membumbung tinggi di dunia seperti H&M, ZARA, Joe Fresh dan lain sebagainya yang diprakasai oleh Amerika, United Kingdom dan beberapa negara di benua Eropa lainnya. Dibalik brand yang ternama, para pekerja pabrik garmen berkerja penuh paksaan dan tekanan demi target yang ingin dicapai oleh perusahaan. Dan mereka harus menerima upah yang sangat minimum, yaitu kisaran kurang lebih US$2 atau senilai Rp 28.425,00 per harinya. Salah satu penyebab dari upah rendah adalah toko-toko fashion saling bersaing demi menarik minat pelanggan.

Dalam hal ini fast-fashion memberikan dampak yang sangat besar pada negara-negara berkembang terutama terhadap kaum buruh. Para buruh dieksploitasi tenaganya dengan penambahan jam kerja diluar batas. Salah seorang buruh yang diwawancarai, menjelaskan bahwa mereka berkerja mulai jam sembilan pagi hingga pukul lima sore, totalnya delapan jam dalam sehari. Namun kenyataannya, mereka ditekan untuk melakukan pekerjaan lebih dan melampaui batas jam yang telah disepakati.

Salah satu cuplikan dalam film ini adalah tragedi yang terjadi pada 24 April 2013 tepatnya di Savar, Bangladesh,yaitu bencana runtuhnya bangunan industri garmen di Rana Plaza. Tragedi ini menewaskan sekitar 1.112 jiwa dan sekitar kurang lebih 2.500 jiwa mengalami cidera akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Padahal sebelumnya, para pekerja telah mengadukan keadaan bangunan pabrik yang sudah tak layak ke manajemen perusahaan pabrik. Namun hasilnya nihil, pihak perusahaan tak memedulikan aduan para buruh. Hingga akhirnya bagunan itu runtuh dan menelan korban jiwa yang tak sedikit.

Dilansir dari www.thedailystar.com pemilik industri garmen Sweatshop Rana Plaza, Sohel Rana, terlibat dalam kasus korupsi dan terjerat hukum oleh pengadilan Dhaka. Tersingkaplah fakta yang terselubung dibalik berdirinya gedung Rana Plaza yang runtuh pada 24 April 2013. “According to the ACC (Anti-Corruption Comission) probe report, he built two commercial buildings, Rana Plaza and Rana Tower  in Savar with ill-gotten money. He also has a five-storey residential building in Savar and huge movable and immovable wealth”. Dari kutipan di atas, dijelaskan bahwa Sohel Rana membangun Rana Plaza dan Rana Tower dengan hasil uang haram dan ia juga memiliki tempat hunian berlantai lima di Savar, Bangladesh.  Selain itu, ia juga memilki kekayaan besar, entah yang bergerak ataupun yang tidak bergerak.  Sohel Rana ditangkap setelah tragedi runtuhnya bangunan Rana Plaza pada 29 April 2013. Lebih mengejutkannya lagi, orang tua dari Sohel, Morzina Begum dan Abdul Khaleque juga dituduh dengan kasus yang sama, yaitu mengumpulkan kekayaan secara ilegal.

Seiring adanya jumlah peningkatan produksi dalam fast-fashion di dunia perindustrian, para pebisnis melakukan eksplorasi industri di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Kamboja dan India. Kerjasama industri tekstil menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu juga adanya limbah pakaian jadi hingga penggunaan pestisida yang berlebihan pada tanaman kapas. Tanaman kapas harus terus ditumbuhkan dan diproduksi secara maksimal demi memenuhi target perusahaan.

Seperti yang terjadi di daerah Punjab, India. Perairan menjadi terkontaminasi limbah yang mengandung kromium. Hal ini menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan warga sekitar. Munculnya penyakit kanker, keterbelakangan mental yang berat, hingga cacat fisik. Selain itu sekitar 70-80 anak di desa tersebut mengalami keracunan.

Film dokumenter ini dapat ditonton oleh semua umur dan sangat disarankan untuk para pemodal dan para tiran yang menggunakan kekuasaanya dengan sewenang-wenang. Film ini juga direkomondasikan untuk ditonton oleh seluruh orang di dunia. Terlebih yang ternyata negaranya sendiri melakukan outsourcing garmen ke berbagai negara-negara berkembang. Sebab tidak semua orang tahu tentang fakta dibalik pakaian yang mereka kenakan.

Selain mampu menayangkan fakta yang terjadi dan beberapa dampak dari industri fast-fashion di dunia. Andrew Morgan, sutradara film ini juga pergi ke berbagai negara yang terkait dengan industri garmen sweatshop. Hal ini dilakukan demi menemui beberapa narasumber yang terlibat langsung dengan industri garmen dan mewawancarainya sebagai sumber bukti untuk menguatkan film.

“Orang-orang tidak tahu betapa sulitnya bagi kami untuk melakukan pembuatan pakaian-pakaian tersebut. Mereka hanya membeli dan menggunakannya, saya pikir pakaian ini diproduksi dengan darah kami” ucap Shima salah seorang wanita buruh pekerja industri garmen di Dhaka, Bangladesh.

Nyatanya dibalik brand pakaian yang ternama dan nyaman dipakai, ada darah yang mengalir deras dari jiwa para buruh pembuat pakaian. Dengan diproduksinya film dokumenter yang berdurasi 92 menit, diharapkan mampu menyadarkan orang-orang agar lebih bijak saat membeli produk fashion mode. Sehingga tidak hanya menuruti hawa nafsu belaka yang selalu ingin mengikuti fashion mode seiring berkembangnya waktu. []

Tentang Film :

Sutradara         : Andrew Morgan

Penulis             : Andrew Morgan

Produser          : Michael Ross

Pemain             : Livia Giuggioli, Lucy Siegle, Stella McCartney, Vandana Shiva,

Richard D.Wolff, Shima Akhter, Benjamin Powell, Tim Kasser,

Rick Ridgwey, Mu Sochua, John Hilary.

Leave a Reply