Kisah Selangkangan Yang Tak Terkisahkan

Selalu ada yang tak terkisahkan dalam sebuah perjalanan. Bahkan dalam sebuah kisah, selalu ada yang tak terkisahkan.

SAIA, Sebuah buku kumpulan cerpen (kumcer) yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu, kumcer ini bertemakan cerita tentang selangkangan. Kata “selangkangan” sendiri berhubungan dengan alat reproduksi. Ada apa dengan alat reproduksi?

Iya, alat reproduksi mesti dihubungkan dengan seksualitas, setiap orang tak memungkiri bahwa hal itu selalu menarik untuk dibahas. Entah hanya sekadar bisik-bisik kumpulan lelaki di warung kopi, atau ibu-ibu yang sedang arisan. Kadangkala juga dibahas di acara formal, seperti seminar walaupun pembicaraannya terbatas.

Pengertian seks dan seksualitas dalam pemahaman secara sempit ataupun secara luas, menjadi suatu bagian penting dalam kehidupan manusia. Di akhir abad ke- 19 dan awal abad ke-20, neurolog dan pakar psikoanalisis asal Austria, Sigmund Freud (1856 – 1939), mengembangkan sebuah teori tentang seksualitas yang didasarkan pada studinya terhadap para kliennya. Seksualitas menjadi naluri instingtif yang paling dasar saat menginjak masa pubertas (akil balig). Menurut Freud kepuasan seksual bisa disamakan seperti kepuasan mengatasi rasa lapar. Tak mengherankan jika banyak kajian untuk mempelajari, menyusun , menganalisis, atau mengungkapkannya melalui karya satra atau karya tulis sejak dahulu sampai sekarang. Seperti yang ditulis Djenar di dalam kumcer SAIA.

Mengutip pernyataan Djenar kepada Tempo mengenai kumcer terbarunya, SAIA. “Buku ini menceritakan tentang seksualitas dari sudut pandang wanita dan kekerasan yang terjadi di lingkungan nyata” ujar Djenar. 15 cerita pendek di buku SAIA merupakan suara perempuan yang terbungkam dalam kasus seksualitas dan moral, khususnya kehidupan masyarakat metropolitan.

SAIA diawali cerita yang berjudul “Air”. Djenar sudah biasa menggunakan bahasa yang blak-blakan, untuk menyebut kata vagina, puting susu, dan lain sebagainya di cerita awal ini. Penulis resensi ini sudah membaca karya sebelumnya yang berjudul Nayla, di sana bahasanya blak-blakan juga. Cerita “Air” mengisahkan seorang perempuan hamil di luar nikah. Lelaki yang menghamili hanya berkata, “Akan kita apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda”

Pada akhirnya perempuan yang hamil diluar nikah memastikan untuk menjadi ibu. Dia akan menjaga dan merawat bayinya meskipun harus membiayai sendiri. Terdapat kalimat yang sekiranya menyentuh dan diulang beberapa laki dalam cerpen “Air” ini, yakni “Saya akan menjaganya”.

Selanjutnya Djenar menceritakan kisah perempuan yang dijodohkan orang tuanya. Cerita tersebut ada di cerita ketiga yang berjudul “Nol-Dream Land”. Perempuan yang bernama Nayla dijodohkan orang tuanya. Setelah menginjak tahun kedua pernikahannya, dia mandul. Si lelaki kemudian berpoligami, Nayla ingin bercerai. Mana mungkin orang tua tak mau menerima aib dari perceraian, sehingga Nayla harus menanggung semua itu. Djenar menulis dengan gaya bahasa yang menarik seperti visualisasi detik jam yang terus berjalan “tik tok” sehingga pembaca akan sekiranya merasakan waktu yang dialami oleh  Nayla. Nayla yang melaju dengan seiring waktu berputar dan kenyataan hidup mesti dijalaninya.

Tatanan politik seperti perjodohan yang di-setting orang tua justru sering mendramatisir keadaan yang lagi-lagi mengorbankan perempuan. Dengan mudahnya kaum laki-laki bisa menjadi pihak yang diuntungkan dari keadaan tersebut. Perempuan merangsek ke sebuah realita yang sama sekali tak diuntungkan dengan perjodohan orang tua. Realita itu diangkat oleh Djenar dalam cerita “Nol-Dream Land” dan terjadi di kehidupan masyarakat kita sekarang.

Judul kumcer SAIA diambil dari satu cerita, yakni cerita ketujuh. Seorang perempuan yang bernama Saya harus menerima kenyataan hidup pahit serta memilukan. Saya malas pergi ke sekolah tapi lebih malas lagi berada di rumah. Saat di jam istirahat di sekolah Saya lebih banyak di kelas dari pada bermain atau makan di kantin.  Dia takut guru-gurunya bertanya soal wajahnya yang memar dan biru. Dia hanya bisa menjawab luka itu karena kejedok pintu di rumah. Padahal saat di rumah, orang tuanya selalu melempar amarah. Ayah dan ibunya bertengkar habis-habisan, jika pertengkaran tak selesai, selalu saja Saia yang disalahkan. Ayah dan ibu Saia tak segan-segan menampar dan juga menonjoknya, tak terkecuali tendangan. Pada waktu menghukum Saia, orang tua tadi seperti tak lagi berseberangan, bahkan bisa menjadi persekutuan.

Peristiwa yang ditulis Djenar merupakan kekerasan gender secara fisik dan psikis. Secara jelas, kekerasan fisik dialami Saia saat dipukuli kedua orang tuanya. Tubuh perempuan berubah menjadi ladang eksploitasi, tak terkecuali dikuasai oleh laki-laki. Namun tak menutup kemungkinan perempuan juga akan teralienasi oleh tubuhnya sendiri. Dalam cerita SAIA si perempuan masih terlalu dini untuk memahami dan menjalani kenyataan semacam itu. Sekiranya seorang anak selalu menjadi objek kekerasan atau korban oleh orang terdekat.

Nah, sejumput cerita di atas menjadi bagian kecil dari buku kumcer SAIA yang mempunyai 139 halaman. Djenar menulis masalah seksual yang sekiranya selalu mengorbankan tubuh perempuan, tak terkecuali dengan pergolakan batin juga. Dengan gaya bahasa blak-blakan, pembaca akan ada yang merasa risih dengan itu, namun karya sastra tak ada yang membatasi untuk terus berkreasi dan mengkritik. Hal itu sah-sah saja untuk menyuarakan kaum tertindas akibat tatanan politik yang berlaku di masyarakat kita sekarang.*[Penulis : Aris Saiful Anwar]

*Tulisan ini juga dimuat dalam buletin PATRIOTIK edisi Juli 2014

Leave a Reply