Kotak Kecil di antara Helai Rambut Panjangmu

Ilustrasi oleh Eza

Saat ini aku sedang menunggumu membuka kotak indah yang berisi surat kirimanku. Aku membayangkan kau akan tersenyum saat membacanya.  Aku berharap kau memutuskan untuk membiarkanku hidup di rambut panjangmu, karena sesekali aku akan berselancar menuju pipimu. Jika kau memanjangkan rambutmu sedikit lagi, maka aku akan berselancar menuju lehermu, dan jika kau panjangkan lagi, maka aku akan berseluncur menuju dadamu, kemudian berdiam diri di sana selamanya. Tetapi, bahkan setelah sekian lama kotak kecil dan suratku ini sampai padamu, kau belum memutuskan untuk membukanya.

Aku ingat dengan jelas saat pertama kali kau tersenyum bahagia karena pernyataan perasaanku di malam itu. Padahal aku telah beberapa minggu menghabiskan hari liburku di rumah Ibu dan sering berjumpa denganmu setiap pagi atau malam, tetapi baru malam itu aku berani mengungkapkannya. Malam itu, rambut indahmu kau selipkan di sela-sela telingamu, aku juga melihat bibir merahmu tersenyum cukup lebar dalam rahang cantikmu. Sementara ujung matamu yang sedikit berkerut, semakin lengkap ketika rona pipimu terlihat begitu merah. Aku ingat semuanya dan begitu menawan.

“Aku cukup pandai menahan perasaan. Tetapi tidak untuk malam ini,” kataku.

“Aku tidak pandai menolak seseorang yang tampan sepertimu,” jawabmu dengan pipi yang semakin memerah.

“Tapi, setelah malam ini aku harus pergi. Kau tahu itu, bukan?”

Senyummu tidak berubah sedikit pun. “Aku tahu. Itu bukan masalah besar. Aku akan menunggu.”

Di balik senyum indahmu malam itu, rambutmu memanjang, beberapa helai membelai wajah, sedang yang lainnya memeluk, memenuhi tubuhku. Saat itu aku semakin mengagumimu. Sinar bulan dan beberapa lampu jalan di sekitar rumahmu membuat rambut indah itu semakin berkilauan dan terasa hangat. Ingin sekali aku membawa rambut itu pergi, menyimpannya di saku celanaku dan akan aku keluarkan bila suatu waktu aku merindukanmu, karena bila saat itu tiba  aku berpikir bahwa beberapa helai rambutmu mungkin  dapat mendekap kerinduanku.

Kau adalah wanita yang pintar!  tanpa aku katakan apa pun ternyata kau sudah mengerti apa yang aku inginkan. “Rambutku bisa mencapai mana saja, kamu bisa memintanya datang ke apartemenmu atau ke kantor atau ke mana pun kau berada, dan kau hanya perlu mengucapkan sebuah mantra,” kemudian kau membisikkan mantra itu di telingaku. Rasanya hangat dan membuatku semakin mencintaimu.

Setelah malam itu, kau tidak pernah membuatku kesepian. Kau hadir di setiap hari di mana aku membutuhkanmu. Kau membangunkanku setiap pagi, mengingatkanku sarapan, mengingatkanku untuk menyiapkan segala sesuatu dengan apik agar pekerjaanku selalu berjalan dengan baik. Bahkan bila jam kerja datang, kau tidak lupa untuk selalu menyisipkan kalimat yang membuatku semakin giat bekerja. “Semangat, ya, aku akan menunggumu pulang, menunggumu mengunjungiku, dan menunggumu segera mengajakku untuk hidup bersama.” Manis.  Dan bila malam tiba, jam kerja telah berakhir, maka aku  segera mengucapkan mantra yang kau bisikkan, agar rambutmu lekas memelukku hingga aku terlelap . Seperti itulah hari-hariku berjalan setelah rambut dan seperangkat mantra itu kau berikan.

Aku ingat dengan jelas saat pertama kali aku memanggil  rambutmu untuk datang ke apartemenku, pada malam di mana aku tidak lagi bisa menghabiskannya dengan mencuri pandangan untuk menatap mata coklatmu. Maka dengan sengaja, jendela kubiarkan terbuka saat itu, agar rambutmu bisa dengan mudah melewatinya. Aku juga berinisiatif untuk  berdiri di sebelah ranjang dengan mata terpejam, agar saat rambutmu mulai mendekap, aku bisa langsung berbaring dan tertidur. Setelah semua siap, lalu  kuucapkan dengan lembut mantra yang sempat kau bisikkan. Ternyata benar,  suasana di sekitar tiba-tiba berubah menjadi sangat hangat, saat kubuka mata, aku merasa lampu kamarku memiliki cahaya bulan yang pernah memantul di rambutmu pada saat terakhir kita bertemu.

Aku melihat rambutmu mulai masuk melalui jendela, beberapa helai membelai wajah, sedang yang lainnya memeluk, memenuhi tubuhku. Aku menikmati dekapan rambutmu. Beberapa helai rambut yang menyentuh telingaku itu juga menjelma bibirmu, mereka berbisik. “Aku merindukanmu.” Aku tahu dengan jelas bahwa itu adalah suaramu.

Aku tidur dengan nyenyak semalaman. Bahkan, aku tidak sadar kapan aku tertidur dan kapan rambutmu mulai terlepas untuk pulang menuju kepalamu lagi. Yang aku tahu, aku terbangun ketika aku sadar bahwa  suara telepon darimu membangunkanku di pagi hari, dan aku menjawabnya dengan penuh cinta. Banyak yang kita bicarakan di dalam telepon pagi itu, hingga ketika jam kerja tiba kau menyuruhku untuk bersiap pergi ke kantor. Padahal aku masih ingin berbincang denganmu, tapi kau bilang, aku harus fokus bekerja sebab kau  akan menungguku dan toh, katanya aku dapat memanggil rambutmu lagi setiap malam.

Aku tidak pernah menyangka kau akan marah jika aku meminta rambutmu datang setiap malam. Aku tidak pernah berpikiran kau akan kelelahan mengirim rambutmu setiap malam. Aku selalu berpikir bahwa kau senang melakukannya dan membayangkan betapa kau memang berharap aku memanggil rambutmu. Hingga saat malam itu tiba, tiba-tiba kau menangis di telepon dan mengeluh kepadaku.

“Kau sangat egois. Kau meminta rambutku datang setiap malam selama satu bulan penuh ini. Kau bahkan tidak sekalipun mengunjungiku. Kau tidak memikirkan bagaimana sakitnya rambutku ketika memanjang. Kau juga tidak memikirkan bagaimana banyaknya rambut yang telah kupotong setelah mereka menemuimu. Bahkan kamarku sudah penuh oleh rambut-rambut bekas yang terus mendekapmu,” ucapmu dengan isak dan penuh kemarahan. Aku tercengang mengetahui kau bisa berbicara sepanjang dan secepat itu.

“Maafkan aku,” ucapku. Seolah hanya kata itu yang pantas keluar dari mulutku saat ini.

“Kau tidak pernah memikirkan bagaimana sulitnya aku menyapu dan membakar rambut-rambut ini setiap hari. Kau tahu, aku harus menuruni tangga sambil membawa berkarung-karung rambut setiap setelah kau meminta rambutku untuk datang. Aku harus menyalakan api di belakang rumah, sedang kau tahu hal itu tidak mudah. Belum lagi ketika aku harus menunggu rambutku habis terbakar, sementara hidungku terus menghisap asap. Kau tidak mengerti dan tidak pernah memikirkan itu,” ucapmu dengan suara  parau.

“Maafkan aku, aku memang egois.”

“Mulai saat ini, aku hanya akan mengirimkan beberapa helai rambutku. Melalui sebuah kotak kecil. Kau tidak bisa lagi meminta rambutku untuk datang ke apartemenmu.”

Aku terhuyung, kakiku lemas, dadaku sesak mendengarnya. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan kehilangan rambut indahmu itu. Aku tidak bisa lagi menjawab ucapanmu. Untung saja kau memutuskan untuk menutup teleponnya.

Kini, apartemen yang seharusnya hangat menjadi sangat dingin. Cahaya bulan yang selalu aku lihat tiba-tiba hilang dan digantikan awan hitam yang menambah kekecewaanku. Aku mengatur nafas ku dengan perlahan. Aku berpikir keras agar tetap bisa menyentuh rambutmu. Setelah terbiasa dengan rambut panjangmu, aku tahu bahwa beberapa helai rambut saja yang kau masukkan ke dalam sebuah kotak yang berukuran kecil tak cukup untuk mengobati rinduku. Kini, justru aku tak akan puas jika tidak menyentuh rambut indah itu secara langsung. Bahkan mataku kini mulai sering meneteskan air mata dan membuat pandanganku semakin kabur. Aku bahkan tidak bisa berpikir walau terus mencoba mencari cara untuk mengembalikan rambut panjangmu. Kata-katamu saat itu benar-benar membuat hatiku sakit. Aku merasakan potongan rambut yang akan kau kirim melalui sebuah kotak itu sudah berserakan di hatiku, membuatnya semakin sakit dan gatal. Aku menangis sepanjang malam.

Lagi, kau membangunkanku di pagi hari melalui telepon. Kali ini aku menjawabnya tanpa perasaan gembira tak seperti hari-hari sebelumnya. Sedangkan suaramu di seberang sana terdengar amat ceria. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana bisa kau melupakan kejadian malam itu dengan amat cepat.

“Selamat pagi, Sayang. Aku benar-benar salah menilaimu, kau benar-benar kekasih yang baik,” ucapmu tiba-tiba  dengan suara yang amat lembut dan ceria.

“Kau tahu? Pagi ini tanganmu itu sudah mengurus semua rambutku. Rambut panjangku ia belai, bahkan helai demi helainya disisir rapi. Tanganmu bahkan membawa dengan baik hadiah indah itu. Terima kasih, Sayang,” ucapmu lagi. Aku bahkan masih tidak mengerti apa yang sebenarnya kau katakan.

“Pagi ini apakah kau tidak membutuhkan tangan kanan? Jika kau membutuhkannya akan kukirim dia pulang bersama sebuah kotak indah yang berisi rambut-rambutku. Akan kubiarkan tanganmu sendiri yang memotongnya. Aku amat bahagia saat tanganmu menyentuh rambutku.”

Setelah kalimat itu selesai kau menutup teleponnya bersama dengan pernyataan bahwa kau semakin mencintaiku, sementara serenteng kebingungan justru menghampiriku. Tetapi, betapa terkejutnya aku saat tiba-tiba kulihat tangan kananku menjulur keluar jendela. Aku mulai berusaha mencoba memahami semua ucapanmu di telepon tadi. Segala keterangan yang menjelaskan bahwa tanganku ada di rumahmu dan juga tanganku yang membawa sebuah hadiah yang membuatmu bahagia. Dan perkataanmu juga yang menerangkan bahwa tanganku akan segera pulang membawa sebuah kotak kecil yang juga akan kau isi dengan potongan rambutmu.

Aku berlari menuju jendela, melihat ke arah mana tanganku memanjang. Tangan kananku itu lurus menuruni gedung apartemen dan terbenam di bawah sebuah pohon, aku yakin tanganku kini sedang menjelma akar dan terus memanjang hingga sampai ke rumahmu. Aku merasakan sesuatu yang hangat. Aku yakin tangan kananku ini sedang memotong rambutmu atau sedang berjalan membawa potongan rambutmu. Hanya butuh waktu beberapa menit, tanganku kembali dengan sebuah kotak kertas putih yang dihiasi oleh bekas lipstik yang kuyakini berasal dari bibirmu.

Aku membukanya, ada beberapa helai rambutmu di sana. Tapi aku yakin, itu tidak akan cukup untuk mendekapku malam ini, sama seperti malam lainnya. Maka kusimpan helai rambut itu lebih dulu dalam sebuah kontainer putih berukuran cukup besar yang ada di kamar apartemenku. Setelah hari itu, anehnya dengan rutin tanganku selalu datang menemuimu setiap malam  saat aku tertidur dan akan kembali membawa sebuah kotak kecil berisi potongan rambutmu ketika aku terbangun. Rambut itu semakin hari semakin banyak. Memang kerinduanku terhadap rambutmu sedikit terobati, tetapi hanya sedikit, belum lagi upaya kerasku untuk menyimpan rambutmu helai demi helai yang cukup melelahkan. Tetapi tetap saja tangan kananku itu  selalu sigap dan setia memotong rambutmu setiap harinya. Terkadang sebelum aku memasukkan rambutmu ke dalam kontainer putih itu,  aku lebih dulu mencium tanganku. Ternyata ada  aroma asap di tanganku, tetapi aku yakin itu tak mungkin berasal dari rambutmu. Aku yakin  ia datang dari jalanan saat tanganku pulang dari rumahmu, bukan dari rambutmu.

Lima bulan sudah sejak pertengkaran itu, kau tidak membangunkanku lagi, kau bilang hal itu tidak perlu dilakukan, karena sekarang untuk bangun di pagi hari aku tidak membutuhkan telepon lagi. Aku akan terbangun dengan tanganku yang pulang membawa sebuah kotak berisi rambut-rambutmu yang semakin banyak isinya. Aku memahami keputusanmu. Lagi pula aku tahu bahwa kau akan kerepotan jika terus menerus membangunkanku di pagi hari, bahkan aku khawatir kau justru akan marah lagi.

Aku tidak keberatan menerima semua kiriman rambutmu. Aku juga tidak keberatan untuk mengirim tangan kananku setiap malam ke rumahmu, untuk mengurus semua rambut panjangmu yang harus digunting, dimasukkan ke dalam karung, di bawa ke belakang rumah, dan kemudian dibakar habis. Bahkan setiap hari aku mencium bau asap di tanganku semakin pekat, tapi aku benar-benar tidak keberatan akan hal itu.

Aku yakin bahwa saat aku menemuimu, sebentar lagi, setelah aku benar-benar menjadi pria yang kau inginkan, kau akan bersedia memanjangkan rambutmu lagi untukku dan berhenti meminta tanganku untuk mengambil kotak berisi potongan rambutmu setiap hari. Kau tidak perlu lagi memakai lipstik di pagi hari hanya agar membuatku percaya bahwa kau sangat ingin menciumku.

Malam ini, bersama tanganku, dengan alasan kuat kuputuskan untuk kumasukkan diriku ke dalam kotak yang di atasnya terukir bekas lipstik dari bibirmu. Bersama secarik surat juga aku berharap  kau akan membacanya dan membiarkan aku hidup selamanya di rambutmu. Aku sungguh berharap kau membaca surat ini:

 “Sayang, telah aku pelajari bahwa bau asap yang semakin pekat itu datang dari  para lelaki yang hidup di potongan rambutmu. Berulang kali aku mencoba untuk menjadi mereka, agar kau menyadari betapa aku mencintai dan memperjuangkanmu. Tetapi, setiap aku berhasil menjadi sosok lelaki itu, kotak indahmu justru datang lagi melalui akar-akar lain, bersama sosok lelaki  yang berbeda setiap harinya. Sulit bagiku untuk menjelma semua lelaki yang ada di potongan rambutmu itu. Maka, aku memutuskan untuk tetap menjadi diriku dan kukirimkan diriku yang dulu selalu kau rindu bersama surat ini agar kau bisa membiarkanku hidup di rambutmu.

Sayang, kau tidak perlu membalas suratku karena aku sudah tidak tinggal dan menunggu balasanmu di apartemenku, kini aku ingin hidup di rambutmu atau di potongan rambutmu atau dalam kotak yang berisi potongan rambutmu yang entah akan kau kirim ke mana di kemudian hari. Aku akan hidup di dalam rambutmu dengan izin atau tanpa izin, dengan sah atau tidak. Aku akan tetap hidup, di dalam rambut itu, rambutmu yang sejak dulu aku kagumi dan aku cintai .”

Tetapi, bahkan setelah sekian lama kotak kecil dan suratku ini sampai padamu, kau belum memutuskan untuk membukanya. []

Tinggalkan Balasan