Lagi-Lagi, DIPA Telat

Keterlambatan cairnya dana beasiswa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kembali terulang pada tahun 2015. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, adanya keterlambatan tersebut membuat para mahasiswa penerima beasiswa DIPA cukup jengkel. Hal tersebut dirasakan oleh Zahrotul Azizah. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam semester 3  itu mengaku kesal dengan keterlambatan cairnya beasiswa tersebut. Ya gregetan sama sebel, udah jagain DIPA buat bayar pondok biar orang tua gak berat-berat (membiayai_red), tapi gak keluar-keluar,”keluhnya.

Vivin Anggraini juga merasakan hal yang sama. Mahasiswi Jurusan Kimia tersebut juga mengeluhkan dana beasiswa DIPA yang tak kunjung cair. Hal itu dikarenakan, uang beasiswa tersebut akan dipergunakannya membeli buku yang dibutuhkanny a dalam menunjang aktivitas pembelajaran di kelas.

Tak hanya mahasiswa, Mujaid Kumkelo pun menuturkan bahwa Mudjia Raharjo, rektor UIN Malang juga sempat mempertanyakan keterlambatan pencairan dana beasiswa DIPA. “Kok lambat sekali, ya? Kenapa?”, ungkap Mujaid menirukan nada Mudjia.

Kasus yang sama sempat terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Dalam berita berjudul Belum Jelasnya Pencairan Beasiswa DIPA yang dilansir pada www.uapminovasi.com, pada tahun 2013 alasan keterlambatan tersebut dikarenakan kendala teknis. Kendala teknis yang dimaksud yakni kesalahan pada nomor rekening dan nama mahasiswa penerima DIPA saat penginputan. Alasan yang sama pun masih diungkapkan Mujaid terkait kasus keterlambatan pencairan dana beasiswa DIPA tahun 2015. Problem-nya adalah mahasiswa itu tidak disiplin ngisi data. Rekening mati milik orang tuanya itu diisi atas namanya. Namanya tidak lengkap sesuai KTM”, terang Mujaid Kumkelo selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan.

Namun, untuk tahun 2015, beasiswa yang direncanakan cair tiga bulan setelah penginputan nomor rekening, baru cair enam bulan setelahnya. Pencairan tersebut lebih lama daripada tahun-tahun sebelumnya. Fahudi selaku staf kemahasiswaan membenarkan adanya hal tersebut. Memang benar untuk tahun ini cairnya DIPA lebih lama dari tahun kemarin, karena kesalahannya juga semakin banyak”, jelas Fahudi.

Menurut Fahudi selaku yang menjalankan teknis keuangan, sistem untuk pencairan dana beasiswa DIPA masih sama seperti tahun sebelumnya. Namun, untuk tahun  2015 ini, terdapat sedikit perubahan, khusunya dalam hal perevisian data. ”Dulu model pengajuannya, dulu kan kalau ada kesalahan itu langsung bisa direvisi, tapi kalau sekarang itu nginden (menunggu_red) satu minggu”, jelasnya.

Berbeda dengan keterangan Fahudi, Mujaid menyatakan bahwa pada tahun 2015 ini urusan DIPA langsung ditangani oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). “Tahun kemarin itu kan kita sama pihak bank saja. Nama masuk yang penting bank clearkan nama-namanya sudah selesai. Jadi tahun ini kita harus ke perbendaharaan negara”, terang Mujaid. Menurutnya, sistem pencairan DIPA pada tahun 2015 tidak turun melalui lembaga kemahasiswaan seperti tahun kemarin. Pihak kemahasiswaan hanya mengumpulkan dan mengolah data. Mujaid menerangkan, bahwa untuk hal yang berurusan langsung dengan KPPN prosesnya sangat rumit, sehingga untuk mencairkan dana DIPA membutuhkan waktu yang lebih lama dari tahun kemarin.

Mujaid mengaku perihal kesalahan huruf dan ejaan pada penginputan online yang dilakukan mahasiswa, sangat diperhatikan oleh KPPN. “Bendaharawan negara itu kalau A ya A, kalau K ya K. Ndak boleh pakai C. Misalnya kalau Khairil pakai K, ya dia harus pakai K. Ndak boleh dia karena jadi mahasiswa lalu gaya pakai C,  Chairil misalnya”, jelas Mujaid.

Simpang siur tentang cairnya DIPA juga membuat Zahrotul kebingungan. ”Teman saya ada yang tanya ke saudaranya yang bekerja di BAK (BagianAkademik_red). Dia tanyanya itu pada Agustus awal, kata bapaknya (staf BAK_red), DIPA akan turun pada pertengahan bulan Agustus. Tapi nyatanya sampai sekarang bulan Oktober nggak cair-cair”, terangnya. Tentang simpang siur cairnya DIPA sendiri, pihak kemahasiswaan tidak bisa memberi kepastian. Yang bisa beri kepastian itu ya datanya sendiri. Kita ya ndak bisa”, jelas Mujaid. Dirinya mengakui bahwa untuk keterlambatan cairnya dana beasiswa DIPA, kemahasiswaan tidak mempunyai tanggung jawab untuk mahasiswa miskin yang hanya mengandalkan DIPA. “Kalau kampus sepanjang SOP-nya (Standard Operasional Pelaksanaan_red) sudah dilaksanakan ya kampus kenapa mau mikirin mereka (penerimaDIPA_red)? ”, kata Mujaid.

Untuk merevisi kesalahan data nama mahasiswa dan rekeningnya, pihak kemahasiswaan telah melakukan berbagai upaya untuk menginformasikan hal tersebut kepada mahasiswa. “Semua cara sudah kita lakukan, mulai dari web, FB, WA, telepon. Kalau web tingkat kecepatannya itu masih kalah sama telepon, kita sudah sampai telepon”, terang Fahudi.

Fahudi menambahkan bahwa pada awal perevisian masih terdapat lebih dari 100 nama mahasiswa yang bermasalah. Sehingga, oleh KPPN datanya dikembalikan lagi dan meminta revisi ulang. Hal tersebut berlangsung hingga bulan November yang hanya berisikan satu nama yang direvisi.

Ni’matul Izza merupakan salah satu mahasiswa penerima dana beasiswa DIPA yang dihubungi oleh pihak kemahasiswaan via telepon. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) itu mengaku telah berulang kali dipanggil oleh pihak kemahasiswaan. Dia mengaku bahwa pihak kemahasiswaan memanggilnya karena ada persyaratan yang belum dipenuhi saat dirinya mendaftar beasiswa. Akan tetapi, menurutnya dia telah memenuhi semua persyaratan yang diajukan oleh kemahasiswaan. Sehingga, Ni’matul pun beranggapan bahwa kemungkinan yang belum memenuhi persayaratan tersebut yakni mahasiswa lain yang bernama sama dengannya. Sayang, gak tau persoalannya. Yang penting saya sudah jelasin semuanya (persyaratan_red)”, jelasnya.

Pada tahun 2016 mendatang apabila UIN Malang mendapatkan jatah DIPA lagi, Fahudi menyatakan akan mengajukan pengetatan peraturan kepada mahasiswa yang mendaftar beasiswa DIPA. Hal tersebut guna meminimalisir kesalahan data. Sehingga, walaupun ada kesalahan data tidak akan sebanyak pada tahun2015.

Pendaftaran DIPA pada tahun 2015 ini menggunakan dua jalur pendaftaran, yakni dari sistem online dan pengumpulan berkas langsung kepada kemahasiswaan. Padahal, menurut Fahudi, sebenarnya pada tahun 2015 hanya menggunakan jalur online saja. Namun, karena ada salah satu mahasiswa yang mengumpulkan berkas langsung ke kemahasiswaan, membuat mahasiswa yang lain mengikuti tindakan tersebut. “Kita mungkin memperbaiki dari sistem online. Semuanya nanti harus online tidak ada pilihan selain online. Jadi, satu jalan, satu pintu, yang kemarin itu kan dua pintu (jalurpendaftaran_red)”, terang Fahudi. [Fajri Fuadah Mazamy]

 

*Buletin Patriotik Edisi “Upgrading Skills of Journalism” Desember 2015

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply