Lalapan Telur Tempe dengan Rasa Papua Merdeka

Warung lalapan kerupuk Cak No mulai sepi jam sepuluh malam. Seperti malam-malam sebelumnya, ia bersama istrinya duduk santai di kursi warung menunggu pelanggan yang biasanya datang jam segini. Dua gadis kecilnya sudah terlelap di atas kasur, di sudut warung. Cak No menghisap sebatang kretek, istrinya mengipasi lehernya yang berkeringat. Sambil menunggu pelanggan, mereka beristirahat dari capeknya memasak lalapan untuk pelanggan-pelanggan hari ini.

Kemudian, sorot lampu motor berwarna kuning membuat pandangan mereka tertuju pada sosok pemuda yang mengendarainya. Pelanggan malam mungkin, itu yang dipikirkan Cak No dan Istrinya secara bersamaan.

Dua sosok pemuda itu adalah Khalid dan Rifki. Cak No dan istrinya cukup mengenal mereka karena sering datang malam dan mengajak diskusi isu-isu sosial. “Pesan lalapan atau diskusi, gaes?” tanya Cak No dengan nada anak-anak muda.

“Ya pesan lalapan sambil diskusi to Cak, biar agenda makan malam ini ada nilai ideologisnya gitu lho, hehe,” Rifki langsung menyaut dengan cengengesan. Sedangkan Khalid tertawa-tertawa kecil saja. Khalid memang agak bosan kalau diskusi saat makan, apalagi dengan Rifki, kata-katanya yang aktivis banget itu hampir selalu membuatnya memegang kepala dengan ekspresi mengeluh. Tapi Khalid tidak punya pilihan lain, rapat organisasi sampai malam membuat perutnya lapar dan yang bisa diajak makan cuma Rifki.

“Hahaa… hidup mahasiswa,” ucapan Cak No yang agak lantang itu membuat Rifki tertawa, Khalid juga tertawa tapi tidak dengan ekspresi sesumringah Rifki. Istri Cak No hanya tersenyum manis saja dan tawa mereka tak mengganggu kedua gadis kecil yang sudah terlelap sejak tadi.

“Lalapan telur tempe sambal bawang dua, Cak,” ujar Rifki semangat. “Okee,” sahut Cak No, lalu ia dan istrinya segera bergegas memasak. Cak No menyalakan kompor, memecah telur, dan menyiapkan empat lapis tempe untuk digoreng. Istri Cak No menyiapkan piring untuk diisi nasi, helaian daun kemangi dan potongan timun.

Cak, sampean setuju Papua merdeka nggak?” tanya Rifki dengan mantap. Mulai dah si Rifki batin Khalid. Cak No agak terkejut, tapi iya tanggapi dengan santai, “Woow, pertanyaannya kok ngueri gaes?”

“Iya Cak, tadi pagi lho ada anak Aliansi Mahasiswa Papua aksi peringatan New York Agreement. Amerika Serikat harus bertanggungjawab atas penjajahan di West Papua. Terus bentrok, Cak. Pas aksi di jalan ada preman-preman dan warga-warga yang menghadang mereka. Sampai lempar-lemparan batu. Yang duluan melempar batu itu preman-preman dan warga-warga itu, Cak. Polisinya banyak, tapi diam saja, membiarkan massa aksi dilempari batu. Akhirnya, masa aksi melawan balik tindakan represif itu dengan melempari batu juga. Terus polisi-polisinya ikut membubarkan aksi, mahasiswa papua diangkut di mobil polisi.” Rifki bercerita panjang tanpa henti, ia ingin menjelaskan kronologi bentrokan aksi pagi hari ini kepada Cak No.

Lalu Rifki menjelaskan analisanya, “Menurutku, ini settingan polisi untuk membubarkan aksi itu, Cak. Kan mereka sebelum aksi ada surat pemberitahuan ke polisi, nah polisi menghubungi preman-preman dan warga-warga yang intoleran dan rasis untuk membubarkan aksi. Terus, polisi punya alasan juga untuk membubarkan aksi karena kondisinya ricuh. Pasti polisinya memancing preman-preman dan warga-warga itu dengan isu Papua merdeka. Mereka dipancing supaya emosi dan marah karena ada gerakan separatisme memisahkan diri dengan NKRI.

“Sebentar Mas, aku tak nggoreng dulu, tinggal tempenya ini, nanti lanjut diskusi, okee?” Cak No yang daritadi agak kurang fokus menggoreng pun menahan analisis Rifki. Khalid dari tadi masih diam sambil bermain gawai. Rifki yang analisisnya terpotong mengiyakan ucapan Cak No, “Ohh, oke, Cak, siapp.” Tapi setelah semenit diam, Rifki tak bisa menahannya, ia membuka gawai lalu menonton video bentrok Aliansi Mahasiswa Papua dengan warga. Lalu Rifki bicara lagi, “Ini lho bentroknya, mahasiswa papua sampai dipisuhi, terus dilempari batu.”

Rifki juga melihat foto-foto mahasiswa papua yang terkena lemparan batu sampai berdarah kepalanya. “Sampai berdarah-darah, parah banget, polisi sialan, diam aja pas mereka kena lemparan batu.” Istri Cak No yang selesai menyiapkan nasi, daun kemangi dan timun segera mendekat ke Rifki. “Ohh iya lho, kok polisinya diam aja ya? Terus gimana itu mahasiswa papuanya, sudah dibawa ke rumah sakit? Kasian lho sampai berdarah gitu kepalanya,” ujar Istri Cak No dengan heran dan khawatir.

“Kurang tahu juga, Buk, di media sosial tidak ada info soal itu, cuma jumlah korban dan jenis luka-lukanya aja,” jawab Rifki. “Waduhh, kok bisa bentrok itu lho? Kenapa nggak damai-damai aja? Kenapa aksi-aksi segala?” Rentetan pertanyaan itu membuat Rifki menjawabnya dengan tanggap, “Ya kalau di Indonesia ini kan negara demokrasi, Buk, aksi itu sebagai wujud kebebasan berekspresi yang diakui dan dilindungi oleh undang-undang. Itu ada di UU nomor 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di depan umum. Jadi, kalau ada aksi, terus dibubarkan sampai ada korban gini, yang harusnya tanggungjawab ya polisi karena membiarkan dan tidak menjalankan tugasnya,” gitu Buk.

“Sekarang waktunya saya menjalankan tugas untuk mengenyangkan perut kalian dengan lalapan kerupuk Cak No,” kata-kata Cak No menjadi peredam suasana yang serius. Ia menyajikan lalapan telur tempe sambal bawang, tidak lupa kerupuknya juga. “Nah, mantap ini Cak.” “Makan dulu, Rif. Diskusi terus tapi perut dibiarin kosong.” Khalid yang daritadi diam akhirnya bicara juga, ia suruh Rifki makan supaya gak terus-terusan ngomong.

“Ohh, siap Bung Khalid, makan sambil diskusi emang top, abis makan diskusinya pasti tambah bernustrisi, hehe,” jawaban ini bukan jawaban yang diharapkan Khalid karena sebenarnya ia ingin Rifki berhenti diskusi. Tapi Khalid hanya bisa pasrah, ia tak tega juga kalau memaksa Rifki diam. Apalagi Cak No siap menanggapi analisis Rifki tadi. Khalid memilih fokus makan saja, memberi kebebasan berekspresi kepada Rifki dan Cak No.

Perut yang sudah lapar dari tadi tak bisa ditahan Rifki dan Khalid. Lalapan telur tempe sambal bawang langsung disantap. Cak No membiarkan mereka makan tiga sampai empat suap dulu, sembari memikirkan tanggapan untuk analisis Rifki. Sebelum ke pembahasan setuju atau enggak Papua merdeka, Cak No memulai ketika Rifki dan Khalid mengunyah suapan ke empat, “Saya akan menanggapi dulu analisis saudara di depan saya ini.” Nada bicara Cak No seperti aktivis pergerakan ketika berdiskusi.

“Memang demo atau aksi merupakan Hak Asasi Manusia yang diatur dalam UU nomor 9 tahun 1998, tapi dalam konteks gerakan Aliansi Mahasiswa Papua, menurut saya aksi adalah cara bergerak yang kurang tepat,” ujar Cak No mantap. “Kurang tepat lho ya, bukan nggak tepat,” Cak No menegaskan pendapatnya supaya mereka tidak salah paham.

“Lha terus gimana Cak?” Rifki menyelesaikan kunyahan makanannya, lalu menanggapi dengan cepat.

Dengan cepat juga Cak No membalas, “Ya diskusi aja, gak perlu aksi ke jalan. Dengan diskusi, orang itu lebih paham apa yang ingin mereka suarakan.”

“Loh, tapi, Cak, bahkan diskusi aja mereka ini dibubarin lho. Maka dari itu satu-satunya cara untuk bersuara itu ya aksi. Toh di aksi juga ada press release, orang-orang kan bisa baca itu,” setelah menanggapi, Rifki kembali mengunyah suapan lalapannya. Sedangkan Khalid terus mengunyah lalapan sambil bermain gawai.

“Tapi nyatanya gimana? Mereka gak baca kan? Mereka tetap marah dan membubarkan aksi kan? Itu karena mereka marah dengan teriakan Papua merdeka. Orang-orang itu gampang dipancing emosinya dengan isu Papua merdeka. Hanya dengan itu aja mereka marah, akhirnya mengatai Papua Jancok, Papua Anjing, Papua Monyet.” Rifki dan Khalid berhenti sejenak dari kegiatan mengunyah setelah mendengarkan ucapan Cak No barusan. “Gak perlu press release. Ada yang bilang Papua merdeka, hajar mereka,” kesimpulan Cak No ini membuat Rifki menyiapkan tanggapannya lagi.

“Itu karena watak intoleran dan rasisme orang-orang Indonesia, Cak. Mereka memang nggak mau memahami kenapa Papua ingin merdeka. Bahwa momen New York Agreement pada 15 agustus 1962 adalah momen di mana Indonesia telah melanggar perjanjian untuk memberikan hak menentukan nasib sendiri kepada bangsa West Papua,” Rifki berhenti sejenak karena Cak No menatapnya dengan serius, lalu ia melanjutkan, “Akhirnya proses bergabungnya Papua ke Indonesia itu cacat hukum. Bahwa adanya intoleransi, rasisme dan tindakan represif seperti pembubaran aksi maupun diskusi, itu adalah bukti bahwa orang-orang Indonesia ini malas membaca. Mereka melupakan sejarah, mereka A-Historis, Cak. Mereka tidak menjalankan amanat Bung Karno: Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Cak No mendengarkan ucapan Rifki sambil mengambil sebatang yang ia simpan di saku kemejanya, lalu ia bakar rokoknya. Diskusi semakin panas, retorika-retorika yang diutarakan Rifki dan Cak No membuat warung lalapan kerupuk Cak No beraroma kelas kuliah yang seru. Pedasnya sambal bawang Cak No meningkatkan tenaga Rifki untuk bersuara. Di sisi lain, Khalid masih belum tertarik untuk memberikan tanggapan.

“Iya, saya tahu orang-orang Indonesia itu A-Historis. Banyak yang nggak tahu kalau pas proklamasi kemerdekaan 1945, Papua itu belum gabung Indonesia,” Cak No menghisap rokok agak lama lalu menghembuskan asapnya dengan mantap. “Saya juga tahu kalau di Papua terjadi pelanggaran HAM berat, pembunuhan, genosida Suku Amungme dan siapapun yang melawan Indonesia. Mereka disingkirkan dari tanah mereka sendiri, bahkan setelah bergabung dengan Indonesia, tetap saja terjadi pelanggaran HAM, Papua tetap jadi wilayah termiskin, ada pembodohan sejarah besar-besaran. Tak pernah ada solusi dari diskusi dengan pemerintahan Indonesia, mereka ditipu terus. Hasil diskusi tak pernah tidak menguntungkan orang Papua karena pemerintah tidak mau Papua merdeka. Parahnya akses jurnalis ke Papua juga dipersulit oleh pemerintah,” Cak No kembali menghisap rokok dan menghembuskan asapnya. Raut wajah Cak No yang serius menandakan kalau retorikanya belum selesai.

“Maka dari itu, dengan kondisi yang seperti ini saya berpendapat kalau bergerak dengan diskusi lebih tepat daripada aksi. Caranya gimana? Ya undang orang-orang yang intoleran, rasis, represif, ormas-ormas, tentara dan polisi itu. Undang mereka, jadikan mereka pemateri pembanding. Dengan begitu, kondisinya jadi seimbang. Tidak membahas Papua di lingkarang orang-orang Papua sendiri. Mahasiswa kalau mau mengabdi ke masyarakatkan sasarannya ya masyarakat itu sendiri, sasarannya bukan mahasiswa aja kan? Kayak saya gitu lho, punya sasaran yang jelas buat jualan lalapan dengan porsi banyak dan harga terjangkau buat mahasiswa seperti kalian. Kan gitu?” perbandingan Cak No antara strategi gerakan mahasiswa dengan caranya jualan lalapan itu membuat mereka tertawa.

“Tunjukkan kalau kalian ini mahasiswa, tunjukkan kalau kalian ini kaum intelektual, tunjukkan juga kalau ormas, tentara dan polisi punya otak, gak cuma punya otot aja. Gitu lho gaes.” Pendapat Cak No ini membuat Rifki merenung dan sedikit demi sedikit memahaminya.

“Ohh, gitu ya, Cak. Hmm ada benarnya juga sih omongan sampean,” ujar Rifki.

Khalid akhirnya bersuara setelah sekian lama makan sambil bermain gawai. Ia merasa penasaran, “Sebentar Cak, sampean kok bisa tahu semua itu?”

Cak No menjawab, “Teman kalian yang biasanya ke sini kemarin juga diskusi soal Papua sama saya. Dia bawa buku Mengapa Papua Ingin Merdeka, itu judulnya. Rasa penasaran Khalid terjawab sudah, “Ohh.”

“Pasti kalian nggak tahu kan?” tanya Cak No.
“Enggak, Cak, hehe,” Khalid jujur saja.
“Kok tahu kalau kami nggak tahu buku itu, Cak?” tanya Rifki yang penasaran juga.
“Dari ekspresi kalian aja udah kelihatan. Kalian nggak tahu kan kalau penulis buku itu Yorrys Th Raweyai? Dia itu lho Pemuda Pancasila,” kata-kata Cak No mengagetkan mereka.
“Lohh, beneran, Cak?” ujar Khalid.
“Lhoo, gimana to, mahasiswa kok nggak baca?” Cak No mengejek dengan senang. “Iya, penulisnya orang Pemuda Pancasila. Tahu sendiri kan kalau mereka yang sering bubarin aksi anak-anak Papua?”

“Maka dari itu gaes, menjadi orang yang gak A-Historis itu penting, tapi penting juga untuk menjadi orang yang gak A-Kondisi Sosial. Khalid dan Rifki baru pertama mendengar kata A-Kondisi Sosial. Udah tahu kondisi sosialnya intoleran, rasis dan represif, kalau mau aksi ya jadinya bunuh diri.”

“Sekarang lihat di media sosial, google atau youtube, coba ketik aksi mahasiswa papua dan gimana hasilnya?” Khalid yang daritadi makan sambil bermain gawai segera mengetik di youtube. “Iya sih Cak, isinya mahasiswa papua ricuh, ngawur, anarkis,” ujar Khalid. “Lihat komentarnya juga,” Khalid segera melihat komentar netizen, hampir semua isinya ujaran kebencian dan makian kepada mahasiswa Papua. Di facebook, twitter, dan media sosial lain isinya juga sama seperti itu, “Gak sehat semua kan?” Khalid dan Rifki terheran-heran karena Cak No seperti orang yang tahu semuanya.

“Jadi dengan diskusi seperti itu masalah Papua ini bisa terselesaikan ya, Cak?” Rifki bertanya.
“Ya nggak tahu lah, lha saya cuma penjual lalapan, kok ditanya kepastian seperti itu?” tanggapan Cak No membuat mereka kembali tertawa.
“Saya cuma memberi komentar, pendapat, sekedar saran saja terkait gerakan mahasiswa Papua. Kalau mau diterima ya silahkan, kalau enggak ya gak papa,” Cak No mematikan rokoknya yang semakin memendek. “Saya ini cuma pedagang, Mas. Selain alasan yang saya utarakan tadi, sebenarnya pedagang itu ya enggak setuju dengan adanya aksi karena ya itu tadi, kalau bentrok bikin macet. Belum lagi kalau ada warga sekitar seperti saya ini yang jadi korban. Misal saya, istri saya, atau anak-anak saya jadi korban terkena lemparan gitu, misalkan aja. Mana mungkin saya mau memahami kondisi Papua? Mana mungkin saya menerima UU Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum? Nggak bakal, Mas. Itu malah jadi boomerang untuk menyerang balik gerakan Papua. Tambah parah kondisinya, masalah Papua gak selesai-selesai,” kata-kata Cak No yang bijak ini membuat Rifki dan Khalid terdiam merenung.

“Udah, sekarang dihabisin dulu itu lalapannya, diskusinya lanjut besok lagi. Oke?” Rifki dan Khalid tak lagi berkomentar dan segera menghabiskan lalapannya. Setelah itu mereka membayar lalapan lalu bergegas pulang.

“Udah selesai diskusinya?” tanya istri Cak No.
“Sudah Buk,” jawab Rifki.
“Terimaksih yaa, besok diskusi lagi. Terus yang paling penting kalian jenguk itu lho temen kalian yang terluka, kasian. Mau diskusi seperti apa, mau bergerak kayak gimana, yang paling penting dan nomor satu tetep kesehatan,” pesan istri Cak No kepada Rifki dan Khalid.
“Siap, Buk, terimakasih sudah diingatkan,” ucap Rifki.

Momen makan malam lalapan dan diskusi dengan Cak No mungkin menjadi momen yang bersejarah dalam khasanah pergerakan dua pemuda aktivis itu. Tentang sejarah Papua yang belum mereka tahu sepenuhnya, tentang kritik dan upaya gerakan ke depannya, serta pandangan warga sekitar terhadap Papua.

Semua itu mereka dapatkan dari seseorang yang tak pernah mereka duga akan mengatakan hal yang demikian pentingnya. Seseorang yang sepertinya tak akan pernah ada di bangku kuliah maupun seminar internasional. Seseorang itu adalah Cak No, sang penjual lalapan, adanya di pinggir jalan.

“Yang paling penting, besok ke sini lagi, pesan lalapan lagi. Oke gaes?” ucap Cak No, lalu semuanya tertawa. []

Leave a Reply