Laporan Investigasi Yang Kuat Ala Film Spotlight

Boston

jika perlu satu desa untuk membesarkan seorang anak, perlu satu desa juga untuk melecehkannya.

“Hey, taksi” seru Mike sambil berlari. Dia bersiul, masih berlari sambil memanggil taksi, “Hey, Hey, Hey! Hey!” Dia mendapatkannya, “Antar aku ke Boston Globe di Morrissey Boulevard. Jangan lewat 93, ambil Dorchester Avenue.” Dia Mike Rezendes, wartawan yang mencintai “orang aneh”, atau lebih tepatnya menyukai tantangan. Dia salah satu dari anggota tim Spotlight, tim yang acapkali menangani kasus dengan jalan investigasi. Beberapa menit yang lalu, Mike baru saja mendapatkan berkas kasus Geoghan yang tergolong dokumen rahasia.

Mike membacakan dokumen tersebut di depan rekan-rekan timnya. Isinya, surat-surat yang ditujukan kepada Cardinal Law, sebuah lembaga hukum yang berada dalam lingkup gereja. Surat pertama adalah dari wanita bernama Margaret Gallant. Tinggal di Jamaica Plain. Gallant menuliskan, di awal tahun 80-an, saat Geoghan bertugas disana, ada 7 anak laki-laki dikeluarganya yang telah dicabuli. Gallant berharap ada tindakan dari Law. Namun dia disarankan untuk tetap diam, dan Law tidak melakukan apa-apa.

Scene ini, menurut saya adalah perangsang menuju klimaks. Dimana tim spotlight telah mendapatkan bukti berupa dokumen rahasia, namun belum bisa menjelaskan secara gamblang, bahwa ada sistem gereja yang bermasalah. Menurut Robby, pemimpin dari tim spotlight, dokumen tersebut hanya bisa membuktikan bahwa gereja melindungi seorang pastur yang sedang bermasalah. Tidak lebih.

Sedangkan Mike, aktor yang sudah mengusahakan sekuat tenaga agar mendapatkan bukti tersebut, tersulut emosi melihat respon dari Robby. Dia ingin sesegera mungkin memberitakan perkara tersebut. Coba baca ucapan dari Mike berikut,

“Ini saatnya, Robby! Ini saatnya! Mereka tahu dan biarkan ini terjadi pada anak-anak. Bisa terjadi padamu, bisa terjadi padaku, bisa terjadi pada kita semua. Kita harus tangkap bajingan ini. Kita harus tunjukkan pada orang-orang tak ada yang bisa menghindar dari ini. Tidak pastur, tidak Kardinal, atau Paus sekalipun.”

Mungkin, kalau tidak melihat adegan filmnya sendiri, aura emosional yang saya maksud tidak bisa tertangkap dengan bagus. Tapi ini kiutipan favorit saya, inilah Kllimaks permasalahan versi saya, dengan ditambahi aksi Mike yang keluar ruangan dengan membanting pintu. Atmosfer ruang redaksi digambarkan dengan apik. Tapi jika kita berpikir lebih jernih, memang betul perkataan Robby, dokumen tersebut belum bisa menjelaskan permasalahan secara keseluruhan. Masih ada puzzle yang perlu dilengkapi.

Film ini terlahir dari permasalahan nyata pada tahun 2002, Dengan sebagian besar menggunakan penamaan yang sama, seperti tim Spotlight, The Boston Globe, juga bajingan pastur Geoghan. Kekuatan film ini adalah, bagaimana mereka bisa mempraktekkan jurnalisme investigasi yang kuat, dengan adegan-adegan yang seakan ingin berucap, “seperti ini loh cara untuk menyusun liputan investigasi”. Ditambahi dengan tindakan dasar kerja dari jurnalis seperti, mencatat hasil wawancara, aktif berusaha mencari narasumber, meminta ijin sebelum mengajukan pertanyaan, melakukan verifikasi, atau skeptis terhadap informan.

Dalam buku berjudul Jurnalisme Investigasi, karya Dandhy Dwi Laksono, dia memaparkan ada 5 kriteria sebuah laporan bisa dikatakan sebagai jurnalisme investigasi. Pertama, jurnalisme tersebut mengungkap kejahatan terhadap kepentingan publik. Pelecehan seksual teradap anak-anak (pedofil), adalah salah satu contoh kejahatan yang perlu mendapat perhatian masyarakat luas. Serta disitu, dibutuhkan peran dari pemerintah untuk menangani masalah tersebut.

Pada Oktober 2015, Indonesia berencana akan menerapkan hukuman kebiri untuk pelaku pedofil. Namun rencana tersebut masih menuai cukup banyak pro-kontra, seperti dari gubernur, kejaksaan, aktivis HAM, atau dokter. Namun, dalam film durasi 129 menit itu, kita diperlihatkan akibat dari tindakan pedofil tersebut. Secara tersirat disebutkan bahwa banyak korban pedofil yang bunuh diri. Hanya orang-orang beruntung saja yang masih bisa melanjutkan hidupnya. Hingga ada perkumpulan yang dinamai SNAP (Survivors Network of those Abused by Priests)

Kriteria kedua, Skala dari kasus yang diungkap cenderung terjadi secara luas atau sistematis. Kasus Pastur Geoghan yang melakukan tindakan pedofil, awalnya hanya dimuat dalam rubrik kolom. Beberapa orang yang menganggap remeh masalah itu, semisal Ben Bradlee atau Peter Canellos. Disilah, peran orang dari luar kota Boston terlihat. Marty Baron, editor baru yang datang dari Miami dapat melihat kasus ini dengan lebih cermat dan objektif. Dia meminta tim spotlight untuk menyelidiki kasus ini secara serius. Dan terbukti, kasus pastur yang melakukan pelecehan seksual sangatlah banyak.

Ada sekitar 87 pastur yang melakukan tindakan pedofil. Bayangkan saja, ada 87 orang yang katanya “dekat” dengan Tuhan, malah bertindak amoral seperti itu. Dan penanganan penyelesaiannya, hanya dilakukan dengan cara kekeluargaan. Korban disodori perjanjian untuk tutup mulut, dan medapatkan ganti rugi.

Kriteria ketiga, sebuah laporan harus bisa menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan memetakan persoalan dengan jelas. Sacha Pfeiffer, salah satu anggota tim spotlight, dalam satu scene wawancara dengan korban pedofil hingga mengatakan terus terang, sangat pentingnya bagi korban untuk menjawab secara gamblang. “Joe, kurasa penggunaan bahasa akan sangat penting disini. Kita tak perlu memperhalus, kata pelecehan saja tidak cukup. Kami perlu tahu apa yang sesungguhnya terjadi,” ucapnya.

Keempat, mendudukan aktor-aktor yang terlibat dalam kasus kejahatan publik secara lugas, didukung bukti-bukti yang kuat. Spotlight berhasil menunjukkan kepada saya, siapa saja aktor yang melakukan tindakan pedofil, dengan dukungan bukti yang dimiliki. Selain itu, mereka juga melakukan wawancara terhadap korban pedofil yang masih selamat.

Yang terakhir, publik bisa memahami kompleksitas masalah yang dilaporkan dan bisa membuat keputusan atau perubahan berdasarkan laporan itu. Respon masyarakat setelah Boston Globe menerbitkan laporan berjudul “Church allowed abuse by priest for years” (Gereja membiarkan pencabulan oleh pastur selama bertahun-tahun) cukuplah luar biasa. Telepon kantor mereka tidak berhenti bordering, banyak sekali yang menyampaikan laporan tambahan terkait laporan tersebut. Itu artinya, memang ada masalah besar disana, hanya mungkin belum ada yang mengangkat masalah tersebut ke permukaan.

Menurut saya, film ini layak diganjar sebagai film terbaik di ajang piala Oscar 2016. Sebagai tambahan, Dandhy juga mengungkapkan, jika berita yang bernada investigasi seperti ini, tidak akan pernah hadir jika wartawannya hanya terpaku pada jam normal kerja. Wartawan macam itu hanya akan tejebak pada rutinitas tuntutan belaka. Mungkin hanya orang-orang yang mau meluangkan waktu lebihnya saja, yang bisa melahirkan tulisan yang berdampak perubahan seperti itu. Ambil saja sampel seperti Mike, yang seringkali “lembur” di kantor. Kalau ada waktu senggang, silahkan tonton film ini. [Salis Fahrudin]


Editor : Ahmad Ilham Ramadhani


UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply