Launching Novel “Badai Musim Semi”

Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2009 mengadakan launching sekaligus bedah buku di Auditorium Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang, selasa (7/5). Launching dan bedah buku ini berjudul Badai Musim Semi.

Acara yang di mulai pukul 10.00 WIB ini merupakan tradisi yang ada pada jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang semester 8 khususnya yang mengambil profesi tarjamah.

Wildana Wargadinata, selaku PD II Fakultas Humaniora dan Budaya mengatakan dalam sambutannya, bahwa kegiatan ini sudah menjadi  kebiasaan bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab dalam menterjemah karya-karya novel arab dan diterbitkan oleh Ukaz yang merupakan penerbit yang dimiliki oleh fakultas Humaniora dan Budaya.

Dia menambahkan bahwa jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang merupakan satu-satunya jurusan yang mampu menerbitkan buku hasil karya sendiri di seluruh universitas di Indonesia yang memiliki jurusan Bahasa dan Sastra Arab profesi tarjamah.

Novel Badai Musim Semi sendiri merupakan novel terjemahan karya Naguib kailani yang berjudul “ar-rabii’ al-‘aashif”. Buku ini adalah novel  generasi ke tiga setelah novel berjudul malam tak bertepi dan rinai cinta (novel terjemahan karya naguib mahfoudz) yang ditulis dan diterjemahkan oleh mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

Proses penerjemahan novel badai musim semi  sendiri memang masuk dalam praktek kegiatan belajar di bangku perkuliahan yang dibimbing oleh Faishol Fatawi.

Nurul Musyafa’ah, salah satu penerjemah mengatakan bahwa proses penerjemahan novel sendiri sejak duduk di semester 6 profesi tarjamah. Ada sembilan belas mahasiswa yang mengambil profesi tarjamah di bagi tugas untuk menerjemahkan 10-13 halaman per mahasiswa.

Nurul Musyafa’ah menambahkan bahwa belum afdhol jika lulusan Bahasa dan Sastra Arab belum menghasilkan karya, dan sebenarnya proses penerjemahan bisa selesai dalam 3 bulan tapi karena tidak semua mahasiswa punya kemampuan sama dan juga harus melalui proses pentashihan jadi baru sekarang launching-nya.

Dalam proses penulisan novel badai musim semi tentunya juga banyak mengalami kendala. Adisty mengatakan bahwa ketika penterjemahan dan penulisan novel banyak mengalami kendala seperti malas, PKL ketika semester 6 juga mengakibatkan penulisan tertunda, dan ketika semester 7 sibuk proposal, dan skripsi sehingga malas untuk menyelesaikannya tetapi selalu di pantau oleh pembimbing jadi bisa diselesaikan.

Acara ini di akhiri dengan pemberian hadiah novel Badai Musim Semi secara gratis  bagi lima penanya pertama dan satu bagi yang bisa menjawab pertanyaan. [Qoniatul Saadah]

 

Leave a Reply