Luthfi Chafidz: Buruh Harus Pintar, Buruh  Harus Berserikat

Ratusan buruh anggota Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) Malang melakukan aksi peringatan  Hari Buruh Internasional di depan Kantor Wali Kota Malang (1/5), bersama puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Buruh Bersatu. Dalam aksi tersebut, massa aksi menyampaikan sembilan tuntutan. Selain itu, sebanyak lima kasus perselisihan antara perusahaan dengan buruh pun sempat disampaikan perwakilan buruh anggota FPBI dalam agenda penyampaian aspirasi buruh kepada pihak pemerintah. Terkait banyaknya kasus yang masih menimpa para buruh, menurut Luthfi Chafidz selaku Ketua FPBI Malang, para buruh harus pintar, dalam artian mampu memahami serta memperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya sebagai buruh.

Luthfi juga menegaskan bahwa serikat buruh dapat menjadi wadah bagi para buruh untuk mendapatkan pendidikan mengenai apa saja yang menjadi hak-hak buruh. “Makanya buruh itu harus pinter. Dengan berserikat begini kan bisa melakukan pendidikan,” ujar Luthfi seusai agenda penyampaian aspirasi di dalam Kantor Wali Kota Malang.

Senada dengan Luthfi, Ismi, salah satu buruh yang menjadi massa aksi hari itu pun menganggap bahwa berserikat itu penting. “Ya memang buruh harus pinter. Kalau pinter kan kita gak mungkin dijajah terus,” ungkap buruh perempuan berusia 50 tahun itu. Memahami pentingnya berserikat, Ismi sempat menyayangkan beberapa kawannya sesama buruh yang hingga saat ini belum bergabung dalam serikat buruh.

Dalam aksi Hari Buruh ini, Ismi menuntut hak-hak normatif yang belum kunjung diberikan oleh perusahaan tempatnya bekerja, khususnya hak cuti tahunan. Selama 15 tahun bekerja di Pabrik Rokok (PR) Pakis Mas, hingga sekarang Ismi belum pernah menerima hak cuti tahunan sama sekali. Padahal, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 79 ayat 2 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa buruh berhak memperoleh setidaknya 12 hari untuk cuti tahunan. Pemberian hak cuti tahunan ini berlaku bagi buruh yang sudah bekerja minimal 12 bulan.

Menyadari hak-haknya yang belum terpenuhi oleh perusahaan, Ismi pun memutuskan bergabung dengan serikat buruh FPBI Malang. Hingga tahun ini, Ismi sudah berjuang lebih dari sepuluh tahun bersama FPBI demi memperjuangkan hak cuti tahunan para buruh PR Pakis Mas. “Sudah diperjuangkan sepuluh tahun lebih,” tegas Ismi.

UU Nomor 21 Tahun 2000 pasal 1 tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh menyebutkan bahwa serikat buruh dibentuk guna memperjuangkan, membela, serta melindungi hak dan kepentingan buruh serta meningkatkan kesejahteraan buruh dan keluarganya. Undang-undang ini pun memberikan kemudahan bagi para buruh untuk mendirikan sebuah serikat. Dalam pasal 5 tertulis bahwa serikat buruh dapat dibentuk sekurang-kurangnya oleh 10 orang buruh.

Terkait kebebasan berserikat bagi para buruh yang telah dijamin dalam undang-undang, Ismi tak menampik bahwa para buruh ternyata masih mengalami kendala ketika berusaha memperoleh pendidikan terkait hak-haknya melalui serikat buruh. Menurutnya, perusahaan cenderung akan melakukan tindakan-tindakan negatif  apabila buruh berusaha menuntut hak-haknya, termasuk ancaman dipecat dari perusahaan. “Tapi kalau pinter itu masalahnya sekarang sulit. Kalau pinter ya di-out dari perusahaan,” ujarnya. Tak hanya itu, Ismi juga menyayangkan ketika kebebasan berserikat ini justru tidak berlaku bagi buruh yang masih berstatus kontrak. “Kalau kontrak ikut kita, ketahuan sama perusahaan, ada sanksinya. Sanksinya kemungkinan besar dikeluarkan,” imbuh Ismi.

Meskipun masih menemui kesulitan untuk berserikat, Luthfi menghimbau kepada para buruh agar tetap memperjuangkan hak-haknya. “Pejuang buruh itu kan bukan saya, tapi buruhnya sendiri. Saya kan hanya fasilitatornya. Pahlawannya ya mereka. Pahlawan buruh itu ya buruh itu sendiri. Dia memperjuangkan haknya,” pungkas Luthfi. []

Leave a Reply