Maba Keluhkan Banyaknya Dana Penugasan PBAK-U

Mahasiswa Baru (Maba) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengeluhkan dana penugasan yang diberikan pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan tingkat Universias (PBAK-U) 2017 (14/08). Panitia PBAK-U menetapkan dana 99 ribu untuk penugasan maba yang meliputi; tas seharga 6.000, kain flanel 6.000, kancing 3.000, benang wol 3.000, jarum 2.000, balon 8.000, air mineral 2.000, pita 2.000, roti pia 1.500, susu bantal 3.000, jeruk 5.000, teh pucuk 3.000, dan dua buah buku seharga 50.000.

Salah satunya Sa’adatul Ashfiya, Maba jurusan al-Akhwal al-syakhshiyah. “Banyak yang ngeluh juga sih soalnya keluarin duit lagi, sebenarnya sih berat. Bukan cuma Fiya sendiri yang bilang gitu, dari teman-teman lain juga banyak,” ujarnya. Ketika ditanyai mengenai jumlah dana penugasan yang dirasa mahasiswa memberatkan, Ahmad Azhar Bazir, selaku Settering Comitte mengatakan, sebagian yang dibeli Maba untuk kebutuhan pribadi mereka. “Nah untuk penugasan buku dan lain-lain sebagainya itu 60.000. Ada kebutuhan pribadi kayak roti, air mineral, nah itu kebutuhan pribadi tidak termasuk penugasan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pada hari kedua PBAK-U (15/08), para Maba kembali mengeluarkan dana untuk penugasan PBAK-U untuk program penghijauan kampus, mereka ditugaskan untuk membeli 5 pohon seharga 50.000 perpohon untuk satu kelompok. “Ya, kalau pas dengernya satu pohon seharga 50.000 itu berat kak kalau saya” ujar Fira Ichwani, Maba jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) saat diwawancarai melalui aplikasi berbalas pesan.

Selain beberapa penugasaan untuk PBAK-U, Maba juga mengeluhkan penugasan resensi buku. Mereka ditugaskan untuk meresensi satu buku, namun diwajibkan untuk membeli dua buku. “Kan, bukunya dua, harga totalnya 50.000. Terus bukunya disuruh buat resensi, tapi cuma satu buku yang dibuat. Terus yang satunya buat apaan coba?” Ucap Fira. “Kan kalau misalkan patungan masih bisa kak,” tambahnya.

Terkait hal ini, Ahmad Azhar Bazir mengatakan bahwa selain buku yang diresensi adalah fasilitas dari PBAK-U untuk menambah wawasan mahasiswa terhadap fakultas mereka masing-masing. “Itu kan wawasan umum dari setiap fakultas, yang satu buku buat wawasan,” tuturnya.

Menanggapi keluhan mahasiswa terkait banyaknya biaya penugasan, Kepala Bagian Kemahasiswaan, Mujaid Kumkelo melarang dan menginstruksikan kepada panitia PBAK-U untuk tidak memungut biaya pada pelaksanaan PBAK-U. “Dalam perspektif sisi anggaran tidak boleh ada penugasan yang memberatkan,” ujarnya. Jaid menambahkan, pihak kemahasiswaan tidak pernah melegalkan adanya penarikan dana diluar Uang Kuliah Tunggal (UKT). “Enggak boleh ada penarikan-penarikan yang kira-kira ilegal dan memberatkan,” ujarnya. []

4 thoughts on “Maba Keluhkan Banyaknya Dana Penugasan PBAK-U

  1. Ikhlaskan saja. Toh dari dulu banyak wacana koreksi hal seperti ini tpi tetep saja. Misal,jika untuk peralatan pribadi tidak dikoordinir mereka malah tidak sempet untuk makan/segalanya. Untuk pernak-pernik bisa dibuat dari barang bekas secara sendiri2. Lha ini kreatif,tpi maba pasti bakal ribet sendiri dan gak kompakkan dengan padatnya awal penyesuaian diri di ma’had. Buku jadikan koleksi bahan bacaan. Meski tugas resensi terkadang tidak dinilai. Maba akan merasakan bagaimana nanti penilaian dosen waktu kuliah. Buku2 harusnya tidak diwajibkan/ baiknya maba buat sendiri saja karya tulis sesuka asal tidak plagiasi.

    1. Tak apalah ketika kebutuhan primer sandang pangan membayar. Tapi jika itu sekunder tersier misal buku, atau yg lain harusnya dijadikan opsional. Kasihan yg gk mampu. Setidaknya tulisan ini bisa jd koreksi buat PBAK selanjutnya, dari tahun 2012 hingga skrg permasalahannya ttp sama. Jika memang diperlukan biaya untuk PBAK, Apa tidak sebaiknya ditarik sejak awal maba ketrima?
      agar setelah masuk, maba tidak diberatkan lg dgn biaya2 tambahan

  2. ini pengenalan kampus apa cuma pemerasan terhadap maba ? atau cuma sarana balas dendam kepada maba karena dulunya di berlakukan juga seperti ini ?

Leave a Reply