Mahasiswa dan Ruang Gerak Berekspresi

Mahasiswa adalah kaum intelektual yang sedang menempuh pendidikan baik di Universitas, Institut, maupun Sekolah Tinggi. Namun jika kita melihat sejarah Indonesia perubahan yang terjadi di Indonesia tidak lepas dari peran mahasiswa.  Mulai dari Perhimpoenan Indonesia di Belanda, yang didirikan pada 1922 oleh Mohammad Hatta, yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam yang menginginkan kemerdekaan bagi Indonesia. Angkatan 66 yang berhasil menggulingkan rezim Sukarno. Hingga peristiwa Mei 1998 yang berhasil membuat presiden Soeharto mundur dari jabatannya.

Maka dari itu, mahasiswa sudah selayaknya diberi ruang berekspresi sesuai minat dan bakat mereka. Agar mahasiswa tidak menjadi apatis dan mampu menyalurkan aspirasi kritis mereka. Namun ketika melihat realita yang terjadi di beberapa kampus, mahasiswa merasa ruang geraknya dibatasi dengan kebijakan-kebijakan pihak kampus.

Diberlakukannya jam malam di beberapa kampus ternyata membuat mahasiswa merasa ruang gerak mereka dibatasi. Jika melihat sejarah, rezim Orde Baru (Orba) pun pernah mencoba memberangus sikap kritis mahasiswa dengan mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), dan memberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS) dengan mekanisme  mengajar dan belajar terprogram intensif. Konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah mewajibkan mahasiswa menyelesaikan sejumlah beban studi untuk setiap semester. Yang mana, secara keseluruhan terdiri dari 8 sampai 12 semester untuk jenjang S-1.

Kebijakan NKK/BKK yang dibuat oleh rezim ORBA ternyata mampu membuat aktivitas politik gerakan mahasiswa menjadi berkurang. Selain harus menyelesaikan beban studi yang berat, ketatnya pembinaan non akademik mahasiswa telah menyebabkan terbatasnya waktu mahasiswa untuk melakukan gerakan-gerakan kritik terhadap pemerintah. Serangkaian tindakan represif dan kebijakan yang dilakukan untuk meredam gerakan mahasiswa ternyata sangat efektif. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Untuk menghindari tindakan represif dari rezim ORBA, mahasiswa merubah strateginya. Mereka tidak lagi berteriak turun ke jalan, tetapi dengan membentuk Kelompok Studi (KS) sebagai cara merespon dan mengekspresikan kekecewaannya kepada penguasa.

Selain membentuk KS,  gerakan mahasiswa di beberapa kampus juga mengaktifkan penerbitan kampus atau pers mahasiswa (persma). Beberapa media yang lahir pada masa pertengahan 1980-an adalah: majalah Suara Mahasiswa di UI; majalah Balairung di UGM.

Lalu bagaimanakah gerakan mahasiswa hari ini? ketika mereka merasa ruang gerak mereka dibatasi. Bebrapa hari lalu tepatnya tanggal 30 Januari 2017 saya mengikuti diskusi yang diadakan oleh UKMP UM LPM Siar. Dimana disitu membahas  tentang kebijakan kampus yang baru yaitu pemberlakuan jam malam. Yaitu ketika waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 kampus harus steril dari kegiatan mahasiswa. Hal itu membuat resah sebagian mahasiswa yang merasa ruang gerak mereka dibatasi.

Di acara itu sendiri, juga dihadirkan pemateri Drs. Ismail Lutfi, M.A yang merupakan dosen sejarah UM. Beliau mengatakan jika sebenarnya kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kampus adalah bertujuan untuk kebaikan mahasiswa juga. Tapi juga tidak menghalangi mahasiswa untuk melayangkan protes kepada rektorat selaku pembuat kebijakan di kampus dengan cara yang sopan. Ketika memang mahasiswa merasa ruang gerak dan berekspresi mereka dibatasi.

Lalu bagaimana dengan UIN Malang? tentunya bagi mahasiswa UIN Malang sendiri sudah merasakan bagaimana ketatnya peraturan di kampus ini. Dengan padatnya kegiatan terutama bagi mahasiswa baru. Sebagian mahasiswa baru merasa kegiatan wajib Ma’had dan Program Pengembangan Bahasa Arab (PPBA) membatasi mereka yang ingin terlibat penuh dalam aktivitas keorganisasian. Kebijakan jam malam seperti di kampus UM pun, juga sudah diberlakukan lebih dulu di UIN Malang. Dimana setiap jam 20.00 lampu di Student Center (SC) yang merupakan tempat UKM-UKM, otomatis akan mati. Itu menandai harus berakhirnya segala bentuk kegiatan di dalam UKM-UKM tersebut.

Sementara bagi mahasiswa baru jam malam diberlakukan mulai pukul 21.00 dimana semua mahasiswa baru harus berada di Mabna masing-masing.

Dalam sejarahnya, gerakan mahasiswa selalu membawa perubahan bagi bangsa ini. Mulai zaman pra kemerdekaan hingga reformasi sekarang ini. Ini menunjukkan bagaimana mahasiswa sebagai Agent of Change dan Agent of Control merupakan bagian dari sejarah bangsa ini. Lalu bagaimanakah mahasiswa hari ini? mari koreksi diri kita sendiri. [Faisal Ahmad Romdhoni]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply