Mahasiswa Keluhkan Larangan Rambut Gondrong di Fakultas Syariah

Fakultas Syariah memiliki aturan yang melarang mahasiswa laki-lakinya untuk berambut panjang. Menurut Suwandi, Wakil Dekan Fakultas Syariah bidang kemahasiswaan, aturan tersebut dikeluarkan dengan tujuan sebagai pembentukan akhlak bagi mahasiswa. Bagi mahasiswa yang melanggar aturan ini, ia akan dikeluarkan dari kelas. Aturan ini berdampak pada Abdul Ghoni, mahasiswa Hukum Bisnis Syariah (HBS), ia pernah dikeluarkan oleh seorang dosen dari kelas saat perkuliahan berlangsung karena memiliki rambut gondrong ketika semester 3 tahun 2017.

Menurut Abdul Ghoni, berambut gondrong hukumnya mubah, “Rasulullah dulu rambutnya panjang, makanya hukum memanjangkan rambut itu mubah, asal tidak ada mudhorotnya,” ucapnya melalui aplikasi berbalas pesan. Ia sempat membantah sebelum dikeluarkan dari kelas, namun dosen yang mengeluarkannya tidak menerima alasan Abdul Ghoni.

Hal ini juga dialami oleh Nur Kholis Madjid mahasiswa jurusan Hukum Tata Negara (HTN), pada semester tiga tahun 2017 nama di absensi kuliahnya dicoret oleh dosen karena ia memiliki rambut gondrong. Pencoretan ini akan mempengaruhi nilai akademiknya, “IPK kita bakal anjlok, soalnya nggak ikut UAS, nama kita langsung dicoret”. Kholis mengatakan kalau ia tidak setuju dengan aturan ini, menurutnya kampus adalah tempat mencari jati diri. “Toh kampus bukan tempat akademi militer, tapi kampus kita adalah tempat dimana mahasiswa mencari jati dirinya,” ungkapnya melalui aplikasi berbalas pesan.

Kholis yang juga mengatakan bahwa rambutnya pernah dipangkas oleh Syaifullah selaku Dekan Fakultas Syariah. “Semester 1 itu langsung kena potong, udah melawan beberapa kali sih. Tapi dosen cuma bilang kalau nggak mau potong, nggak usah ikut mata kuliah saya,” ucap Kholis.

Menanggapi hal tersebut, Suwandi mengatakan bahwa ia memperbolehkan mahasiswanya untuk mencari jati diri, namun dibatasi dengan aturan yang ada,”Semuanya ya jati diri, silahkan orang itu masuk membuat kebebasan tetapi semua kebebasan dibatasi dengan aturan yang ada,” ujarnya.

Suwandi menambahkan, memotong rambut gondrong bagi laki-laki yakni masruth dan sesuatu yang harus disyaratkan, “Nah, makanya itu syarat masruth. Kalau mereka mau mendapatkan ilmu, syaratnya nggak gondrong. Kalau mau dapat ilmu ya potong saja, yang namanya syarat harus dipenuhi,” ucapnya saat ditemui di Fakultas Syariah.

Namun, menurut Kholis rambut gondrong tidak ada hubungannya dengan hak untuk mendapatkan pendidikan. “Kalau memang tujuan pendidikan yang diamanatkan di UUD 1945 itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, mencerdaskan disini adalah mental dan otak itu harus berkembang, jadi nggak ada hubungannya rambut dengan otak toh?” ungkap Kholis.

Aturan yang melarang mahasiswa laki-lakinya untuk berambut panjang ini sempat menuai protes dari beberapa mahasiswa, salah satunya adalah Rahmatullah, mahasiswa jurusan HTN dan Fauzan Azima, mahasiswa HBS. Pada hari Jumat (12/17) pukul 23.00 mereka membuat tulisan lalu ditempel di jendela-jendela Fakultas Syariah, tulisan itu berisi ungkapan mengenai rambut gondrong, salah satunya, “Kami gondrong kami punya seni dan IP tinggi,” dan “Rambut panjang bukan berarti penjahat, #savegondrong”.

Menanggapi aksi yang dilakukan Rahmatullah dan Fauzan Azizi, Suwandi mengatakan bahwa di Fakultas Syariah sudah memiliki aturan yang jelas mengenai aturan rambut gondrong. “Kita punya aturan. Kalau dia (Rahmatullah dan Fauzan Azima_red) punya aturan harusnya menghadap, ini tidak. Nggak mungkin Fakultas Syariah dirobohkan hanya untuk kepentingan 1,2 orang,” ungkapnya. “Ini proses pendidikan, melalui keilmuan, kepribadian yang nantinya antara kepribadian, akhlak dan ilmu sinkron. Kalau punya ilmu tetapi nggak punya akhlak, ya sia-sia. Sehingga ada proses rambut nggak boleh gondrong, itu kan pembentukan akhlak,” tambahnya.

Menanggapi hal ini, Abdul Ghoni mengatakan bahwa akhlak tidak diukur dari penampilan. “Akhlak itu diukur dari tingkah laku, bukan penampilan,” pungkasnya. Begitu juga dengan Kholis, ia mengungapkan kalau akhlak terbentuk bukan dengan larangan berambut gondrong. “Akhlak terbentuk bukan dengan tidak boleh berambut gondrong, tapi bagaimana para pendidik menanamkan moralitas, pendidik itu lebih menekankan bagaimana cara mahasiswa bisa mengambil nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.[]

2 thoughts on “ Mahasiswa Keluhkan Larangan Rambut Gondrong di Fakultas Syariah

  1. Aku gak begitu faham ya soal hukum rambut panjang bagi laki-laki. Yang jelas gak haram ya. Haha. Pernah denger hadist Nabi tentang larangan laki2 menyerupai perempuan dan sebaliknya, gak? Wah saya juga lupa bunyi hadistnya :'( mungkin karena itu juga kali ya. Laki2 dilarang gondrong. Tapi itu memang seni dan ekspresi diri. Masalah akhlak? Mungkin bukan soal sikap ya, tapi akhlak dalam penampilan. Kalau aku jadi dosennya, gak bakal larang kok. Asalkan itu rambut diiket. Muehehe. Thanks artikelnya 🙂

Leave a Reply