Mahasiswa, Mahasiswa, dan Mahasiswa

Konon ada seorang sastrawan yang menulis:
kita bertanya:
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata: “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya: “maksud baik untuk siapa ?”

Adalah Rendra namanya, seorang penyair yang giat pada zamannya. Mendengar nama Rendra dari seorang teman yang kebetulan suka baca puisi, tak lantas membuat saya terpukau dengan puisi-puisi Rendra. Memang bukan itu yang ingin saya jelantrahkan. Sudah lama sekali saya membaca puisi itu, atau melihat Rendra membaca puisinya di pemutar video yang ada di laptop teman lain. Dan saat ini saya masih merenungkannya.

Siapa “kita?”, siapa “orang” itu? Dan sepertinya Rendra punya makna tersendiri, tanpa menolak siapapun orang yang kebetulan membacanya. Sepertinya. Sehingga saya memaknai “kita” sebagai saya dan orang-orang sejenis saya dan “orang” adalah orang-orang selain saya.

Pernah di suatu kotak yang menjenuhkan, bersama ‘orang-orang sejenis saya’, saya pun membaca puisi rendra di depan mereka. Waktu itu semua orang merasa seperti orang-orang besar yang pantas untuk berbicara besar, tentang dunia, kemajuan, dan pertumbuhan ekonomi. Dan sayapun bertanya kepada mereka: “pertumbuhan itu untuk siapa? Kemajuan itu untuk siapa? Pabrik semen itu untuk siapa?” sebelum sempat memberi jawaban, saya menyentak “di sana ada rakyat yang menangis, yang habis, yang ditindas sampai mengikis”. Begitulah kata-kata yang saya rasakan dan bukan benar-benar saya katakan di kotak itu. Soalnya saya tak pasti ingat apa yang saya katakan.

Dan satu orang berkata, “ya begitulah rakyat, mereka itu pikirannya saja yang nggak maju, tapi itu sudah berlalu, saya juga pernah mengikuti kasus pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah itu, dan insyaallah sekarang mereka sudah menerimanya.” Akhir kutipan.

Tak terima, tanpa membantah pendapat orang itu, saya hanya berpesan, “melihat kenyataan yang seperti ini, seharusnya kita tidak hanya ngomongin soal kemajuan pun bagaimana cara mendapatkan laba, kita harus berpikir kembali ketika kemajuan (maksud baik) itu malah merugikan rakyat, kita harus bertindak supaya rakyat tidak tertindas, kita harus berdiri di pihak rakyat.” Saya agak pesimis kala itu, selain berpesan demikian, saya juga yakin jika kata-kata saya tak terpahami oleh orang-orang itu. Kelaspun berhenti, waktu sudah selesai, orang-orang belum sholat dan sudah lesu dan mengantuk. Saya merasa pesimis bukan karena ‘mungkin saya datang terlalu awal’ tapi karena memang bukan disituah seharusnya saya ngomong.

Mungkin, Rendra juga pernah merasakan hal itu. Tak terpahami dan juga diabaikan. Namun Rendra begitu lantang membaca puisi. Saya ingin menirunya.

Terlalu sempit mungkin jika saya memaknai ‘orang-orang yang sejenis saya’ sebagai orang yang selamanya tak mengerti kata-kata saya. Soalnya ada orang-orang lain yang juga membaca puisinya Rendra, yang berdiri dipihak rakyat, dan membela hak-hak rakyat. Maka dari itu, saya tanggalkan pemaknaan ‘orang-orang yang sejenis saya’ yang sedari tadi saya maksudkan sebagai mahasiswa. Sejak saat itu, saya mencoba lebih banyak membaca tulisan-tulisan untuk membenarkan pesan yang pernah saya sampaikan di kotak itu.

Singkat cerita, satu titik jelas bahwa yang benar-benar harus kita lawan, memang adalah ketika sesuatu –yang dianggap kemajuan– itu malah menghilangkan hak orang lain untuk hidup. Namun dititik itu pulalah saya berpikir. Bahwa titik yang jelas itu kadang agak memilukan.

Desember 2016 lalu, pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan. Kebijakan itu secara ajaib mengubah tarif BPKP kendaraan bermotor roda empat atau lebih, dari Rp100.000 menjadi Rp375.000. Begitu juga dengan tarif penerbitan mutasi kendaraan bermotor roda empat atau lebih, ke luar daerah dari Rp75.000 menjadi Rp250.000. kebijakan itu bernama PP No.60 Tahun 2016.

Reaksi mahasiswa? Tentu menolak dengan keras. Kamis lalu, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, dipenuhi oleh massa yang katanya adalah kumpulan Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh Indonesia. Mereka berdemonstrasi, menuntut presiden untuk mencabut kebijakan yang tidak bijak itu.

Bagaimana mungkin sebuah kebijakan dilaksanakan jika itu malah menyusahkan rakyat yang kesusahan bertahan hidup? Apakah demi pertumbuhan ekonomi, rakyat harus dikorbankan? Dan jawaban pemerintah?

Merekapun cuma memberikan empat tanggapan. Seperti yang dilansir CNN Indonesia, tanggapan pertama yaitu, pemerintah menjamin tidak akan ada kelangkaan bahan bakar minyak di seluruh daerah. Kedua, pemerintah berjanji dampak kenaikan BBM non subsidi tidak akan berdampak pada kenaikan bahan pokok. Ketiga, pemerintah menjamin kenaikan tarif dasar listrik untuk kepentingan rakyat. Yang terakhir, kenaikan PNBP Polri dilakukan untuk meningkatkan pelayanan publik Kepolisian.

Dan ke(tidak)bijakan itu tetaplah berjalan.

Apa yang memilukan bukanlah karena kurang progresifnya demonstrasi yang cuma rame-rame, teriak-teriak, dan bakar-bakar itu. Atau hasil demonstrasi yang tak membuahkan hasil yang diinginkan. Melainkan, di luar itu,  yang namanya mahasiswa memang tidak ada definisi yang tepat untuk memaknai namanya.

Mahasiswa yang liberal tentu percaya bahwa semangat adalah kunci untuk mencapai kemajuan. Tapi mungkin juga mereka akan memberi label malas kepada orang yang –mereka anggap– tidak ingin maju. Tanpa mempedulikan kebutuhan akan hak asasi mereka. Sementara mahasiswa yang sosialis ataupun anarkis, yang percaya bahwa hak asasi manusia adalah faktor utama yang harus dipertahankan, hanya akan sampai pada titik penolakan sebuah kebijakan yang merugikan rakyat. Setelah itu? Selesai. Dan mungkin mereka akan diam, ketika soal HAM atau perut yang lapar teratasi. Misalnya, organisasi pergerakan sudah tak ada kemauan lagi untuk mengkritik kebijakan kampus, atau malah ikut ideologi kampus bahwa kampus yang pendidikannya berkualitas itu, haruslah mahal.

Sehingga, dilakukanlah pembelaan terhadap kampus ketika nama dan citra mereka ternodai.

Bukan malah berpikir bahwa pendidikan itu harus bisa dinikmati oleh semua rakyat yang membutuhkannya. Juga membela orang-orang yang jelas dirampas haknya, ketika kampus jelas-jelas mencurangi proses pengadaan tanah untuk pembangunan kampus baru. Mahasiswa semakin arogan saja dengan status sosialnya, kolot dalam pemikiran majunya, serta diam dalam kenyamanannya sembari berpaling dari ketimpangan yang terjadi di depan matanya.

Ada juga mahasiswa yang benar-benar tak peduli dengan pemikirannya, keberpihakannya, bahkan dengan kuliahnya, dan semua kebisingan di sekitarnya. Padahal mereka inilah yang sebenarnya menjadi bukti paling jelas dari kekacauan sebuah sistem sosial. Perduli setan dengan pergerakan yang merepotkan itu.

Apalagi dengan pergerakan semacam pers mahasiswa yang menulis kritik terhadap kebijakan kampus. Ketika biaya Uang Kuliah Tunggal semakin mahal, mereka mengkritik kampus yang sewenang-wenang dengan aturannya. Tak lupa juga karena kampus menyalahi cita-cita bangsa bahwa pendidikan adalah hak setiap rakyat. Dan setelah itu? Mereka akan gembira dengan kabar bahwa jatah ongkos tahunan mereka naik –dari Uang Kuliah tunggal yang semakin mahal itu.

Atau kembali dengan rutinitas diskusi, yang memperjelas bahwa mereka itu orang pintar dan berdiri di pihak rakyat. Tapi tak melihat bahwa ketimpangan benar-benar terjadi saat mereka berdiskusi di warung kopi. Mereka mengabaikan pengemis yang kebetulan lewat. Mereka begitu pintar berbicara soal ketimpangan dan keberpihakan, tanpa pernah bisa merubahnya. Walaupun bukan hal itu yang menjadi ranah kerja mereka. Tapi agak aneh dilihat, jika mereka melakukan diskusi –dengan kondisi seperti itu– dengan begitu konsisten.

Ya. Begitulah mahasiswa. Mereka hanyalah seorang siswa yang kebetulan mendapat gelar “maha” secara administratif. Sehingga mereka merasa agak setara dengan ke-maha-an Tuhan, yang kadang tidak begitu berarti. [Wahyu Agung Prasetyo]

Sumber gambar: akadusyifa.com

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply