Masyarakat Indonesia Melawan Tindak Kekerasan Aparat Negara

“Sekalipun, bersama aparat keamanan yang gemar menangkap rekan-rekan kami, atau lat berat yang meratakan lahan pertanian kami. Kami tidak akan gentar, untuk tetap menyuarakan kebenaran.”

Samuel Bona Rajagukguk (Aksi Kamisan Semarang)

Aksi Kamisan (19/4) karena dilaksanakan di berbagai daerah seperti Malang, Bandung, Semarang dan Makassar. Abdurrachman Sofyan, orator Aksi Kamisan Malang mengatakan, Aksi Kamisan di berbagai daerah ini menyuarakan masalah yang sama. Masalah yang dimaksud Sofyan yaitu tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara kepada masyarakat Indonesia. Salah satunya tindak kekerasan aparat polisi terhadap warga dan seorang jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Muhammad Iqbal. Saat itu (12/4) Iqbal mendapat kekerasan dari aparat polisi ketika meliput Aksi Penolakan Rumah Deret di depan gerbang Kantor Wali Kota Bandung. “Artinya, Indonesia sudah mengetahui bahwa problem Iqbal bukanlah problem pada diri sendiri, melainkan ancaman yang menghantui dan mengintai tiap-tiap rakyat Indonesia,” teriak Sofyan.

Menurut Ugik Endarto, Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Kamisan Malang, kasus kekerasan oleh aparat polisi ini menggambarkan potret gagapnya demokrasi di Indonesia. “Polisi yang sudah seharusnya menjaga negara ini dengan menegakkan undang-undang (UU) yang berlaku, justru mereka menjadi aktor yang mencoreng UUD 1945, UU HAM, UU Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum, dan UU lainnya,” tegasnya.

Senada dengan Ugik, Iqbal Faturahman, perwakilan Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) menyatakan, kasus kekerasan ini mencederai demokrasi. Menurut Faturahman, aparat yang harusnya melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat malah bertindak sebaliknya, apalagi terhadap pers seperti Muhammad Iqbal. “Walaupun kami hanya pers mahasiswa, tetapi tugas pokok kami sama seperti pers pada umumnya yaitu jurnalistik. Dan jelas, kegiatan pers ini telah diatur dalam undang-undang,” ujarnya melalui aplikasi berbalas pesan.

Faturahman menyatakan, jika tindak kekerasan oleh aparat ini dibiarkan, maka akan menimbulkan efek domino. “Selanjutnya mungkin dapat terjadi pada jurnalis lain. Bisa saja nanti saya, atau rekan-rekan jurnalis lain. Makin leluasa aparat untuk mengintimidasi kami sebagai jurnalis, khususnya yang berada di tataran pers mahasiswa,” ucap Pemimpin Umum LPM Momentum, Universitas Langlangbuana itu.

Humaerah Jaju, Korlap Aksi Kamisan Makassar juga mengatakan kalau tindak kekerasan aparat ini berdampak buruk, terutama pada pelanggaran hak asasi manusia. Menurut Humaerah, kekerasan tidak dibenarkan terjadi di depan mata. “Jika dibiarkan akan terjadi chaos. Karena hukum rimba akan berlaku. Yang merasa kuat akan merasa jadi pemenang sehingga sewenang-wenang melakukan penindasan kepada kaum minoritas” ujarnya melalui aplikasi berbalas pesan.

Menurut Humaerah, segala bentuk kekerasan di dunia ini harus dilawan, karena tindak kekerasan aparat bisa membungkam warga untuk bersuara dan berpendapat. Di sisi lain, masih menurut Humaerah, hukum pun tidak cukup memberikan perlindungan kepada warga yang akan menjadi korban. Bahkan saat ini aturan dibuat untuk melindungi kelompok-kelopok tertentu.  Aturan yang lebih memihak kepada penguasa ketimbang rakyat kecil,” ucap anggota Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi Sulawesi Selatan itu.

Sementara di Aksi Kamisan Semarang, Lana Kemana, selaku narahubung aksi juga menyuarakan perlawanan pada tindak kekerasan aparat. Alasan Lana melawan karena ia memcintai negara ini. Bagi Lana, negara ini adalah negara hukum dan hukum bertujuan untuk memanusiakan manusia. “Kalau ada kekerasaan dan penindasan berarti itu sudah ada pengkhianatan terhadap hukum, dan jika hukum itu dikhianati maka tujuan bernegara itu sudah kabur lan ora genah,” ucapnya melalui aplikasi berbalas pesan.

Melalui Aksi Kamisan Semarang yang bertema “Panggilan Bumi Berikan Hak atas Tanah Rakyat” masyarakat ingin menegaskan bahwa tidak ada yang bisa merampas hak-hak warga negara. Dalam selebaran Aksi Kamisan Semarang tertulis, “Karena sebagai rakyat Indonesia dan manusia yang beradab sudah sepatutnyaitu kejujuran untuk menyuarakan apa kehendak rakyat adalah kebahagiaan sejati di dunia ini.

Dalam Aksi Kamisan yang dilaksanakan di berbagai daerah ini, Humaerah berharap apa yang dilakukan bisa memberikan kontribusi bagi upaya penegakan hak alami manusia di Indonesia.  “Dan untuk warga Indonesia, jangan takut bersuara,  jangan takut brpendapat, karena itu hak anda. Dan akan banyak warga lainnya yang siap mendukung anda dari Sabang sampai Merauke,” pungkas anggota Aliansi Jurnalis Independen itu. []

Leave a Reply