Masyarakat Lakardowo Berharap Agar Akademisi Ikut Berjuang

Perjuangan warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto sudah dimulai sejak tahun 2014. Mereka menuntut tanggungjawab perusahaan pengelola limbah PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) yang telah mencemarkan lingungan dengan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Dukungan untuk perjuangan warga pun datang dari berbagai pihak, termasuk akademisi.

Daru Setyorini, dosen Magister Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Adi Tama Surabaya (ITATS) mengatakan, Limbah B3 yang dicemarkan PT PRIA telah merugikan masyarakat. “Ada pencemaran udara, pencemaran di lingkungan pertanian, pencemaran air yang menyebabkan masyarakat gatal-gatal,” ujar dosen mata kuliah Pengelola Limbah B3 tersebut.

Melihat permasalahan lingkungan dari pencemaran ini, Daru aktif melakukan penelitian untuk membuktikan keberadaan materi Limbah B3 di tanah masyarakat. Manajer Riset Ecological Obsevation and Wetlands Conservation (Ecoton) itu juga meneliti keberadaan logam berat di tanah masyarakat. Penelitian-penelitian itu dilakukan karena pihak PT PRIA membantah tuduhan pencemaran lingkungan.

Seperti yang dilansir mongabay.co.id, Christine selaku Manajer Development PT PRIA mengatakan, belum ada bukti yang mengarah pada tuduhan pencemaran lingkungan tersebut.  “Waktu sidang di PTUN, warga yang menggugat tidak dapat membuktikan tuduhannya. Mereka memilih mencabut gugatannya pada 2014 lalu,” ujarnya dalam tulisan berjudul “Buktikan Dugaan Pencemaran di Lakardowo, Sampel Tanah dari Lokasi Pabrik Pengolahan Limbah B3 Diteliti”.

Bantahan Christine berdasarkan dari uji laboratorium yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hasil uji laboratorium itu membuktikan bahwa pencemaran yang terjadi pada air sumur warga bukan disebabkan oleh PT. PRIA, melainkan aktivitas peternakan dan faktor alami batuan.

Bantahan PT PRIA dan hasil uji laboratorium KLHK tidak bisa diterima masyarakat karena tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Lalu, Daru bersama Ecoton dan Warga Desa Lakardowo mengadakan kegiatan-kegiatan akademis seperti kuliah lapangan dan wisata limbah. Kegiatan ini dilakukan supaya masyarakat luas bisa melihat dampak pencemaran Limbah B3 yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat Desa Lakardowo.

Daru juga mengajak mahasiswa magister Teknik Lingkungan ITATS untuk melakukan kuliah lapangan di Desa Lakardowo (28/04). “Diharapkan mahasiswa bisa memberi usulan-usulan rekomendasi untuk permasalahan ini kepada pemerintah ,” ujar Daru.

Menurut data dari Perkumpulan Penduduk Lakardowo Bangkit (Pendowo Bangkit), ada 11 penelitian yang pernah dilakukan di Desa Lakardowo sejak tahun 2016 sampai 2018. Penelitian itu dilakukan oleh berbagai kampus dan instansi seperti KLHK, Institut Teknologi Surabaya (ITS), Institut Teknologi bandung (ITB), Universitas Braijaya (UB), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Universitas Airlangga. Sedangkan penelitian lainnya dilakukan secara individu.

Tapi, hasil-hasil penelitian itu belum dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Sutamah, Warga Desa Lakardowo mengatakan, warga belum mengetahui hasil dari penelitian-penelitian itu. “Banyak sekali yang datang ke sini untuk meneliti, ada yang sampai nginep rumah saya juga, tapi setelah itu ya gak tau, mereka gak kembali ke sini lagi,” keluhnya. Sutamah berharap kepada seluruh akademisi dan peneliti supaya tidak datang ke Desa Lakardowo untuk kepentingan penelitian saja, tapi ikut berjuang sampai selesai. []

Leave a Reply